
"Ibu, cepatlah nikahkan aku dengan Mas Bagas. Aku tidak mau dia dekat dengan wanita lain!" pinta Gita merengek pada Ibunya. Dirinya sudah pulang ke rumah.
Gita masih saja meratapi, kejadian tadi yang dialami ketika datang ke rumah Bagas. Ibu Bagas mengusirnya, dan Bagas justru lebih membela perempuan bernama Arini.
"Ibu memang nggak malu, kalau aku melahirkan tanpa suami?" Gita memberi pertanyaan seperti itu, agar hati Bu Marni melunak.
"Kamu hamil duluan saja, sudah membuat ibu malu!" sahut Marni tak mau menatap Gita.
"Tapi memang Ibu mau, jika aku nanti punya anak, tanpa suami. Tolong Ibu bujuk Mas Dion, untuk segera menikahkan aku dengan Mas Bagas!"
"Gita, kamu ini hanya membuat Ibu pusing dan sakit kepala. Di kuliah kan tapi kamu tidak benar, justru melenceng! Baiklah, ibu akan bujuk Dion, untuk menikahkan kamu dengan Bagas, secepatnya. Tapi setelah kamu menikah, kamu akan menjadi tanggung jawab dia sepenuhnya!"
"Maksudnya?" tanya Gita.
"Kamu jangan tinggal di sini, setelah menikah. Tinggal di rumah mertuamu, kan itu pilihanmu!" ujar Marni memberi pilihan.
Gita tampak berpikir sejenak, dia membayangkan bagaimana hidupnya nanti, jika tinggal bersama orang tua Bagas. Sedangkan Bu Ratna saja sangat tidak menyukai dirinya.
"Hanya itu pilihannya! Ibu tidak mau menampung menantu pengangguran, di rumah ini. kalian mau tinggal di mana, jika bukan di sini atau di rumah dia,karena dia itu tidak punya apa-apa! Jadi sebelum itu, ibu sudah peringatkan!" tegas Marni.
"Oke, aku mau jika memang itu yang Ibu inginkan. Aku akan pergi dari rumah ini, setelah menikah dengan Mas Bagas, dan menanggung semua resikonya!" ujar kita menyanggupi.
...****************...
Gita menuju ke dalam kamarnya. Ia berniat untuk menelpon Bagas. Namun nomor Bagas sedang dalam panggilan lain. Gita mengirim pesan pada pacarnya itu.
[Mas, kamu sedang teleponan dengan siapa, dengan wanita si Arini itu, ya?] pesan Gita terkirim.
Karena pesan yang tidak kunjung dibalas. Gita mau beralih melihat story yang diunggah oleh Bagas. 20 menit yang lalu.
Pacarnya itu memposting foto bersama dengan Arini. Jika dilihat dari raut wajah, Arini lebih cantik, dan terlihat kalem. Berbeda dengan Gita yang cukup menor, jika berdandan. Seketika Gita merasa insecure melihat Arini.
[Mas, kamu balas pesanku! Kenapa kamu terus menghindariku!]
Ternyata ketika Bagas menghilang beberapa hari, tidak ada kabar. Dia mengganti nomor dan sekarang Gita sudah mendapatkan nomor Bagas yang baru. Itu pun Bagas seperti terpaksa, memberitahu.
"Ternyata begini kelakuan Bagas. Dia memposting foto bersama perempuan lain!" gerutu Gita.
[Balas pesanku. Jika kamu tidak kunjung membalas, aku akan bvnuh diri!" Gita mengancam untuk bynuh diri.
Gita melangkah pergi menuju dapur. Yang Gita cari adalah sabun cuci cair, di dekat wastafel. Dengan cepat Gita memfoto sabun cuci cair itu.
[Aku akan minum ini, jika kamu tidak menjauhi perempuan itu, Mas! Ibuku sudah setuju untuk menikahkan kita, secepatnya!]
[Aku hitung sampai 10 ya. Jika kamu belum juga membalas pesanku, maka kamu akan menyesal seumur hidupmu!] Gita kembali mengirim pesan dan menaruh ponselnya.
"Tolong..!"
"Tolong..!" Gita berteriak. Bu Marni yang mendengar teriakan anak gadisnya itu, berlari menuju sumber suara.
200
__ADS_1
"Kamu kenapa, Git?" tanya Bu Marni panik.
"Aku mau bunvh diri! Mas Bagas dekat dengan perempuan lain!" ucap Gita.
"Astaga Gita, kamu ini semakin bodoh saja. Kamu mau bvnuh diri minum sabun itu, sekalian kamu minum racun serangga!" ujar Bu Marni.
"Ibu kenapa sih, bilang seperti itu! Ibu nggak sayang sama aku?" Gita. ucap
"Kamu sendiri yang nggak sayang sama dirimu, kenapa kamu pakai segala drama minum kayak gitu. Untuk menarik perhatian si Bagas, bodoh kamu! Pantas Bagas itu menyia-nyiakanmu, kamu saja tidak mau menghargai dirimu sendiri!" celoteh Marni yang tidak tahu harus bicara apalagi.
Tak lama ponsel Gita berdering.
"Halo Mas!" jawab Gita.
"Kamu jangan macam-macam Gita, aku akan datang ke rumahmu sekarang! Jangan lakukan itu!" cegah Bagas yang akhirnya peduli, karena ancaman yang Gita berikan.
"Segera kamu ke sini, malam ini juga. Aku mohon!" ujar Gita dengan suara sedih.
Dan panggilan di akhiri.
"Bu, Mas Bagas bakal datang kemari. Nanti Ibu tolong bersikap baik ya padanya!" ucap Gita memberitahu.
"Terserahmu! Ibu capek melihatmu, ada saja tingkahmu yang membuat Ibu emosi. Hanya karena satu pria, membuatmu menjadi gobl*k!" cerca Bu Marni.
Gita hanya bisa bersungut-sungut, mendengar cacian ibunya. Yang dia pikirkan sekarang, hanyalah bagaimana bisa menikah dengan Bagas secepatnya.
...****************...
"Pak Kenzo itu tampan, kaya, tapi sayang dia katarak!" cetus Fely.
"Beneran, dia katarak? Tapi matanya baik-baik aja, aku lihat!" ujar Dion menanggapi.
"Bukan begitu Mas, maksudku matanya itu mungkin katarak. Karena menyukai Rasti. Kenapa dia bisa suka pada Rasti, mantan istrimu yang kampungan itu!" cerca Fely.
"Tapi, Rasti sekarang udah nggak kampungan. Lihat aja penampilannya. Makin cantik, berbeda saat menjadi istriku dulu!" ujar Dion dengan polosnya. Karena dia tidak bisa juga menolak pesona Rasti. Beberapa kali bertemu. Dion bahkan merasa terpana, dengan mantan istrinya.
Fely terperangah. Tak percaya Dion akan mengatakan itu di hadapannya.
"Kamu bilang dia cantik? Jadi kamu masih suka dengan dia!" hardik Fely emosi.
"Enggak sayang, bukan begitu," sanggah Dion karena merasa salah bicara.
"Halah, kamu puji-puji dia di depan aku. Kamu ini hanya membuatku semakin kesal, rendah banget seleramu? Gitu aja dibilang cantik, cih! Kamu dengan Pak Kenzo sama saja, jika dibandingkan aku itu lebih cantik dari Rasti! Apa sih yang menarik dari mantan istrimu itu, wanita kampung!" cerca Fely. Tak habisnya merendahkan Rasti.
"Aku tidak akan membiarkan Rasti, bisa melanjutkan hubungannya dengan Pak Kenzo. Lihat saja nanti, apa yang akan aku perbuat!" ucap Fely.
"Kamu mau berbuat apa?" tanya Dion penasaran dengan rencana Fely.
"Kamu tidak perlu tahu, ini urusan perempuan!" jawab Fely tak mau memberitahu Dion.
"Kenapa, harus kamu yang terlalu marah. Kamu cemburu pasti dengan Pak Kenzo. Aku tahu, kamu itu sebenarnya menyukai dia kan!" kini Dion yang merasa cemburu.
__ADS_1
"Enggak Mas!" tampik Fely.
"Sudahlah Fel! Dari dulu, aku itu tahu jika kamu suka melihat Kenzo, selalu saja ingin mencari perhatiannya. Kamu tidak bisa menyembunyikan kekagumanmu,padanya!" ujar Dion.
"Hanya kagum biasa. Karena kan dia bos kita, tapi kan sekarang aku sudah menjadi calon istrimu. Mas, kamu jangan berpikir buruk tentang aku. Aku hanya ingin membuat mantan istrimu itu menderita, dia tidak boleh bahagia. Aku benci pada Rasti, ingat mas setelah kita menikah nanti. Kamu jangan pernah memberi nafkah pada anakmu, biarkan saja si Rasti itu yang memenuhi kebutuhan Della!" justru Fely bicara kemana-mana.
Dion hanya diam, jika dia menjawab pasti Fely akan marah lagi.
"Mas, kita ke rumahmu!" ajak Feli.
"Tidak sayang, kita ke rumah Ibu saja!" tolak Dion.
"Kenapa, kita tidak ke rumahmu?" Fely menoleh.
Dion menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dia takut jika Felly tahu, jika rumah itu sudah dijual dan dia tidak tinggal di sana lagim Beberapa hari ini Dion menginap di rumah ibunya. Dengan beralasan kesepian, jika di rumah sendiri.
"Kita ke rumah ibu aja, ya.Katanya Ibu juga kangen sama kamu, pengen ketemu!" ucap Dion membujuk.
"Oke deh!" sahut Fely.
...****************...
Kini keluarga Bu Marni berkumpul, ditambah dengan Dion yang sudah datang di rumah itu.
"Dion, jadi begini. Ibu mau kamu saja, nikahkan adikmu ini, dengan Bagas!" ujar Bu Marni menyampaikan.
"Tapi Bu, aku belum punya biaya!" ujar Dion."Sudahlah, nikahkan mereka secara siri saja!"
"Secara siri, ibu yakin? Gita akan rugi Bu, karena pihak perempuan!" ucap Dion kurang setuju.
"Mas, aku setuju dengan saran ibu. Tidak apa, aku menikah siri dengan Mas Bagas. Sebentar lagi dia akan kemari. Bagaimana kalau pernikahannya malam ini saja. Mas cari penghulu, yang mau menikahkan!" ujar Gita yang senang akan menikah.
"Gita, kamu jangan main-main, pada pernikahan!" ingat Dion berusaha menasehati adiknya.
"Tidak Mas, aku serius bukan main-main. Aku ingin segera Mas Bagas, menikahiku!" ujar Gita.
Gita membaca pesan dari ponselnya. Ia mendapatkan pesan, dan itu dari Bagas.
"Mas Bagas, sudah ada di depan rumah. Aku akan menjemputnya, ke depan!" ujar Gita dan bangkit dari duduknya.
"Begitu, kalau sama Bagas! Si Gita udah cinta mati!" cerca Marni bicara pada Dion dan Fely.
Benar saja. Bagas sudah berdiri di depan rumah.
200
"Mas, ayo masuk ke dalam! kebetulan di dalam ada kakakku!" ajak Gita.
Bahas cukup gugup, ketika diajak masuk ke dalam rumah itu. Karena dia pernah di beri bogem mentah oleh Dion.
"Kakakmu, yang mana?" tanya Bagas.
__ADS_1
"Mas Dion, cepatlah Mas! Jangan banyak tanya, kita akan di nikahkan malam ini," ujar Gita bersemangat.
"Apa, malam ini?" Bagas kaget dan ingin berlari pulang