
Fely berdiri dengan tubuhnya yang seperti itu, dia seperti menahan malu dan membuka lemari. Dengan tidak tahu diri. Fely mengambil sehelai dasterku, yang memang tidak semua pakaianku, aku bawa, saat pergi dari rumah ini.
Dengan cepat Fely menggunakannya, entah dia memikirkan dalaman atau tidak. Mungkin ia malas berdiri dan mencari pakaian, yang telah dicampakkan sembarang tempat,saat permainan mereka tadi.
"Mbak Anna, apa sih itu kamu merekam ya?" tanya Mas Dion dan menunjuk pada Mbak Anna.
"Tolong matikan, jangan rekam hal ini!" pinta Mas Dion pada Mbak Anna.
Namun Mbak Anna yang mengikuti perintahku. Tidak menghiraukan permintaan Mas Dion. Pesan sudah terkirim, sudah ada beberapa warga yang membalas dan juga bu RT. Agar ia cepat menyampaikan pada suaminya, dan pasangan ini cepat di bawa untuk diadili.
Setidaknya mereka bisa terkena denda, dan mengeluarkan uang karena hal itu.
Mas Dion menutup tubuhnya separuh, menggunakan selimut dan mencari pakaiannya di dalam lemari.
"Bisakah kalian berdua keluar dulu! Aku ingin menggunakan pakaian!" ucap Mas Dion dan mengusir kami berdua, sedangkan Fely tidak diusir olehnya.
Mereka seperti pasangan yang sudah halal saja.
"Lebih baik cepat kamu nikahi wanita itu, sampai kapan kalian akan berbuat dosa, seperti ini?" ujarku.
"Mas Dion akan menceraikanmu kok, segera! Karena dia akan menikahiku, kami akan tinggal di rumah ini. Setelah kalian bercerai!" ujar Fely dan menyunggingkan sisi bibirnya dengan sinis.
"Tidak bisa, rumah ini harus dijual dan harta gono gini dibagi dua!" sahutku yang sebal melihat wajah Fely.
"Sudahlah Rasti, diam kamu tidak usah membahas itu lagi!" Mas Dion membentakku. Dan menutupi tubuhnya menggunakan pintu lemari sebagai sekat. Sehingga tidak kelihatan.
Kini ia sudah menggunakan celana pendek di atas lutut, dan juga kaos berwarna abu-abu. Setidaknya penampilan mereka sudah tidak menodai mataku, sangat jijik melihat mereka berdua, tidak menggunakan sehelai benang pun. Dan melakukan hal dosa itu di rumah ini.
Hubungan mereka memang sudah tidak sehat, dan dipenuhi oleh nafsu. Hanya kesenangan sesaat yang mereka kejar.
"Aku tahu, kamu pasti cemburu dengan hubunganku dengan Mas Dion. Sebab suamimu itu lebih memilih aku! Tentu saja aku ini lebih cantik, wanita karir dan juga kaya. Tidak sepertimu yang dari kampung, perempuan rendahan, tidak berpendidikan tinggi!" cerca Fely padaku yang sempat nya menghina diri ini. Setelah tertangkap basah.
"Aku mungkin memang tidak berpendidikan tinggi, tapi aku lebih mempunyai harga diri. Dan tidak mengobral tubuh pada pria lain, maupun suami orang. Miris ya jika wanita yang mengaku sebagai wanita karir, dan berbuat berpendidikan tinggi kepergok berzina. Harusnya dia mempunyai kecerdasan dan value. Kenapa dia mau ditiduri oleh suami orang? Tak ubahnya seperti pelac*r dan ****** murahan!" ujarku menyindir.
Mata Fel menatap nyalang karena ucapanku tadi.
"Siapa yang kamu bilang murahan!" hardiknya.
"Tentu dirimu, kamu itu tidak punya value hanya mengandalkan tampang, dan pendidikan tinggi. Yakin dulu kamu kuliah itu dari benar-benar hasil otakmu sendiri, atau jangan-jangan karena uangmu?" aku menyudutkannya.
"Jangan sembarangan ya kamu, memfitnahku!" tunjuknya dan berdiri mendekatiku.
"Aku hanya bertanya, tidak fitnah dirimu!"
"Kalau perempuan pintar dan kaya, pasti berkelas. Tapi kenapa ini kaya, ngaku pintar, justru malah menjadi wanita murahan dan pelakor. Kepintarannya itu jadi tidak berguna, sama saja dia bodoh karena cinta!" cicit Mbak Anna menimpali.
"Benar Mbak, atau pura-pura pintar kali!" sahutku.
"Perempuan kampung, norak! Jangan berani kau menertawakanku!" Fely naik pitam.
__ADS_1
"Upss...! Jika video ini tersebar, bisa jadi karirmu hancur!" ucapku dan aku keluar bersama dengan Mbak Anna.
Meninggalkan mereka berdua.
"Jangan sampai kau sebarkan, Mas kamu dengar dia mengancam kita!" terdengar Fely yang mengadu. Takut jika video ini menyebar.
...****************...
Mbak Anna menyerahkan ponsel padaku. Aku mengecek video yang tadi telah direkam, semua aman telah disimpan.
Video ini bisa aku gunakan, untuk menjadi bukti nanti di pengadilan dan alasan menggugat suamiku yang tidak berguna itu.
Pak RT dan beberapa warga datang ke rumah, karena telah mendapatkan kabar, yang tadi aku kirim melalui grup WA.
"Tolong kalian pulang saja, ini masalah saya dengan Rasti. Dan kami bisa menyelesaikannya sendiri!" ujar Mas Dion ketika melihat para warga berdatangan.
"Tidak Pak RT. Saya mau suami saya ini di sidang, dan diadili. Karena dia telah berbuat asusila, dengan seorang perempuan di dalam kamar. Dia berzina di rumah ini!" ujarku menunjuknya.
"Jika begitu, Bu Rasti bisa melaporkan pada polisi." ucap Pak RT.
Benar juga apa yang dikatakan Pak RT. Aku bisa memenjarakan mereka berdua, dengan pasal perzinahan.
Tapi jika mas Dion menjadi narapidana, walaupun hanya beberapa bulan. Kasihan juga dengan putriku, dia pasti akan di ejek oleh temannya. Jika Ayahnya pernah masuk penjara.
Aku niat ingin segera bercerai saja dan memberi hukuman pada mereka.
"Baiklah kita bawa mereka, ke balai pertemuan warga." jawab Pak RT.
"B*ng*at kau Rasti, apa maumu. Cerai? Aku talak 3 kamu sekarang! Masih saja kau mencari masalah!" berang Mas Dion menunjukku dengan raut wajah, yang bengis.
"Aku ingin kalian dihukum dan mendapatkan sanksi sosial. Alhamdulillah kamu sudah menalakku, itulah yang aku mau!" ujar Rasti dan tersenyum simpul.
Suaminya mengucapkan talak tiga untuk Rasti. Dion menggeleng pelan melihat respon Rasti yang justru, bersyukur ketika ia talak 3.
Mau tidak mau. Dion dan Fely harus datang ke balai pertemuan itu.
"Kalian kenapa masih berdiri di situ, apa mau kita seret?" ujar seorang warga yang menunggu Dion dan Fely untuk segera mengikuti mereka.
Ketika Dion yang terpaksa ikut bersama Fely. Rasti kembali masuk ke dalam kamar. Tak lupa pada tujuannya, untuk mengambil beberapa surat penting dan juga buku nikah yang ia perlukan.
Rasti melihat sertifikat rumah, ada juga di dalam lemari tempat Dion biasa menyimpan surat-surat penting, mereka.
"Apa aku harus membawa ini juga?" gumam Rasti setelah menimbang-nimbang, dan berpikir.
Rasti akhirnya mengambil sertifikat itu juga. Hanya untuk berjaga, takut saja jika nanti dia menjual rumah ini sebelum mereka bercerai. Dan Dion tidak adil. Karena bagaimanapun sertifikat itu atas nama Dion.
...****************...
Semua warga melihat video yang tadi direkam oleh Mbak Anna. Karena video itu harus diperlihatkan sebagai bukti.
__ADS_1
Dion dan Feli hanya bisa menunduk malu, dan mendendam di hati mereka masing-masing kepada Rasti. Telah berhasil membuat mereka malu, di depan umum.
"Di daerah ini mempunyai aturan, kalian harus membayar denda. Karena berzina itu di larang. Kita masih punya adab dan norma yang harus di patuhi!" ujar Pak RT.
Beberapa perangkat daerah ini juga berkumpul, untuk menyidang mereka berdua.
"Mbak Rasti, mau minta denda berapa?" tanya Pak RT.
"20 juta, saja Pak!" jawabku.
Mas Dion menoleh dan menatapku.
"Kamu jangan mengada, uang sebanyak itu hanya untuk Denda!" ujarnya.
"Kenapa kalian menghakimi kami, kami sudah dewasa dan mau sama mau!" ucap Fely yang akhirnya bersuara untuk membela dirinya.
"Tapi yang tidur bersamamu itu adalah suami orang, apa kalian tidak malu melakukan zina. Dan masih bisa membela diri!" ucap salah satu warga.
"Pelakor!"
"Murahan!"
"Aku yakin dia itu l*nte!"
Begitulah cacian para warga untuknya.
"Aku juga yakin, karena badannya putih mulus. Pasti hasil morotin laki orang!" timpal yang lain.
"Aku orang kaya, untuk apa jadi 1*nte. Emak-emak norak, jangan asal bicara kalian!" teriak Fely.
"Yakin? Kaya karena jadi simpanan ya!" sahut yang lain dan tak percaya dengan ucapan Fely.
Semua itu membuat Felly dongkol, dan menahan kesalnya. Karena dirinya dihakimi, dan di sudutkan dengan kata-kata yang membuatnya tak bisa membela diri lagi.
******
"Apa, Dion dibawa ke balai warga?" pekik Bu Marni mendengar kabar dari Mbak Ida.
"Iya, karena dia itu tertangkap sedang berzina dengan perempuan!"
"Berzina, apa maksudnya?" tanya Bu Marni. Ketika salah satu tetangganya melaporkan kejadian Dion. Pada dirinya.
Mereka baru saja pulang dari jalan-jalan, dan justru mendapatkan kabar buruk.
"Lebih baik bu Marni, susul aja tuh Dion. Dia masih di sana. Istrinya tadi yang mergokin dia!" ujar Mbak Ida.
Bu Marni panik dan langsung berlari.
"Bu, naik mobil saja. Kita kesana bersama!" ucap Rino yang membuat Bu Marni berbalik arah. Dan menuju masuk ke dalam mobil.
__ADS_1