Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Feli anak sultan


__ADS_3

"Mama dengar, katanya kamu akan menikah ya, Fel?" Tegur Carol pada Fely.


"Iya, Mah. Aku akan segera menikah dengan pacarku."


"Baguslah kalau begitu. Jadi mama dan papa bisa tenang, saat meninggalkan kamu di kota ini." Fely tercengang mendengar penuturan mamanya.


"Ma-maksud mama apa? Mama sama papa benar-benar mau pergi meninggalkan aku?" Kini air mata ikut terjatuh, menghiasi pipi mulus Fely. Hatinya merasa sangat sedih.


"Iya Fel. Mungkin mama sama papa akan pergi jauh. Lagipula tugas kami untuk membesarkanmu sudah selesai. Kamu juga sebentar lagi akan menikah dengan lelaki yang kamu cintai," Fely terisak. Tak terima kalau sebentar lagi nasibnya akan berubah drastis. Karena orangtuanya yang sudah membesarkannya dari masih bayi merah, kini akan segera pergi meninggalkannya.


"Kalau kamu mau mencari orang tua kandung kamu, kamu bisa tanya ke panti asuhan 'KASIH IBU', karena disitu kami mengambil kamu saat waktu masih bayi," Fely menyesap air matanya. Tampak ada sorot kemarahan di hatinya. Dia sangat marah pada ibu kandung, yang telah tega membuangnya. Tak peduli dengan alasan apapun.


"Aku tidak akan mencarinya, Ma!" Sahut Fely penuh dendam.


"Terserah kamu, Fel. Yang penting


Mama sudah memberitahu kamu tentang masa lalu kamu, dan juga asal-usul kamu. Mama juga mau minta maaf, karena tidak bisa memberikan apapun untuk hadiah di hari pernikahanmu nanti. Karena kami saja sudah diambang kebangkrutan," ucap Carol penuh penyesalan. Ada rasa sedih juga di hatinya, karena tak bisa memberikan yang terbaik untuk putri angkatnya.


Fely kini benar-benar merasa bingung, dia pikir orang tuanya akan memberikan sedikit harta ataupun sumbangan untuk biaya pernikahannya. Tapi hasilnya malah nihil.


"Iya gapapa, Ma. Tapi aku mohon, kalau suatu saat nanti keluarga dari calon suami aku kesini, aku harap mama tak usah memberitahukan mereka tentang siapa aku yang sebenarnya. Karena aku sendiri yang akan memberitahukannya saat sudah menikah nanti," Carol pun langsung mengangguk setuju. Dia percaya saja dengan keputusan Fely. Carol juga yakin, kalau Fely punya tabungan, karena selama ini dia selalu memanjakan putrinya itu dengan limpahan harta yang banyak.


...****************...


Setelah menjalani akad nikah, Gita dan Bagas pun langsung pergi menuju ke rumah orang tuanya Bagas. Bu Marni sama sekali tak merasa keberatan, saat Putri satu-satunya pergi dan harus tinggal di rumah mertuanya. Karena Bu Marni memang telah kecewa pada Gita. Apalagi saat tau kalau calon besannya sangat sombong dan pelit.


Kini Gita dan Bagas telah sampai di depan rumah Bu Ratna. Gita menghembuskan nafas sejenak, jantungnya juga berdebar sangat kencang. Karena mengingat kalau Bu Ratna yang tak menyukainya.


"Assalamualaikum, Bu." Ucap Bagas saat memasuki rumah orangtuanya.


Bu Ratna menoleh ke arah Bagas, dan matanya pun langsung melotot saat melihat Gita yang membawa koper di kedua tangannya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam! Apa-apaan ini? Ngapain dia kesini lagi? Kemana kamu dari kemarin Bagas?!" Hardik Bu Ratna yang sudah tak bisa menahan emosi lagi. Sejak kemarin Bagas memang tak pulang, dan tak ada kabar sama sekali karena memang sengaja ia mematikan ponselnya saat disandera oleh keluarga Gita.


"Ma-maafkan, Bagas, Bu. Bagas kini sudah resmi menjadi suami Gita. Bagas sudah menikahinya, Bu. Kami menikah siri," lirih Bagas, sambil memohon di kaki ibunya.


"Apa?! Kalian sudah menikah?! Nggak mungkin! Ibu nggak setuju, Bagas! Ibu nggak mau punya besan dan juga calon menantu seperti dia! Ibu tak sudi!" Pekik Bu Ratna yang tak terima. Dia juga tak sengaja menendang Bagas yang berlutut di kakinya dan juga menunjuk-nunjuk Gita.


"Maafin Bagas, Bu. Bagas harus tanggung jawab karena Gita akan b*n*h diri, jika aku tak menikahinya," Bagas berusaha meraih tangan Bu Ratna, namun segera ditepis. Sedangkan Gita hanya terdiam menunduk, tak tau harus bersikap seperti apa.


"Seharusnya kamu biarkan saja dia bunuh diri Sudah seperti orang yang bodoh saja! makanya jadi wanita itu jangan mur h*n, dan akhirnya malah menyusahkan semua orang!" Bentak Bu Ratna yang benar-benar murka pada keputusan Bagas.


Bu Ratna langsung pergi ke kamarnya meninggalkan kita dan juga Bagas lalu Bagas pun langsung mengajak kita ke kamarnya untuk beristirahat


...****************...


Beberapa hari di rumah mertua. Bu Ratna sangat merasa sengit dengan kehadiran Gita.


Dug! Dug! Dug!


"Bagas! Buka pintunya! Seenaknya aja ya kalian di dalam kamar terus. Kalian itu sudah punya anak dan sebentar lagi akan lahir ke dunia ini, lebih baik kalian itu cari kerja berdua. Jangan bermalas-malasan, karena aku tidak mau membiayai hidup istrimu itu! Cukup aku dibuat susah oleh dirimu Bagas. Dan aku tidak mau dibebani lagi oleh orang lain!" Ucap Bu Ratna sambil teriak-teriak di depan pintu kamar Bagas.


Tanpa basa-basi Bu Ratna pun langsung menjambak rambut Gita, sampai-sampai Gita pun meringis kesakitan. Bagas berusaha melerai Bu Ratna dan melepaskan jambakan rambutnya Gita.


"Biar tau rasa kamu! Aku nggak sudi punya menantu kaya kamu! Dasar w*n*t* m*r*han!" Hardik Bu Ratna dengan penuh emosi.


"Ampun, Bu. Sakit, Bu," Gita terus meringis kesakitan.


Tak lama bapaknya Bagas pun datang, dan langsung menarik Bu Ratna sampai akhirnya berhasil melepaskan jambakan rambut Gita.


"Ada apa ini? Kenapa kamu kasar pada perempuan ini?" Tanya Bapaknya Bagas.


Lalu Bu Ratna pun menjelaskan semuanya pada Pak Handoyo.

__ADS_1


"Ya sudahlah Bu, terima saja dengan ikhlas. Berarti anak kita anak yang baik, karena doa masih mau bertanggungjawab atas kesalahan yang telah diperbuatnya," Dada Bu Ratna naik turun, karena semakin kesal saat Pak Handoyo malah membela Gita.


"Tapi aku nggak mau punya menantu dan juga besan seperti mereka yang sombong itu, Pak! Kamu juga tau kan kalau si Bagas ini masih pengangguran! Mau dikasih makan apa istrinya ini!" Cerca Bu Ratna lagi, penuh emosi.


"Kita bisa bicarakan baik-baik sama mereka berdua nanti. Lebih baik kamu ikut saya saja." Tangan Bu Ratna pun langsung ditarik oleh Pak Handoyo.


...****************...


Hari ini Fely ingin mengajak keluarga Bu Marni untuk datang ke rumahnya. Karena Fely sedang merencanakan sesuatu pada Bu Marni. Dia juga sekalian ingin mengenalkan keluarga besarnya pada keluarga besar Dion, sebab mereka sebentar lagi akan menikah, setelah surat keputusan cerai Dion turun.


Selang satu jam perjalanan,akhirnya keluarga Bu Marni telah sampai di dekat rumah Fely.


Bu Marni benar-benar merasa antusias saat mulai memasuki pekarangan Komplek rumah Fely yang terkenal dengan hunian mewah dan berkelas.


Hati Bu Marni benar-benar merasa senang dan juga berbunga-bunga, karena kali ini dia akan mendapatkan menantu yang benar-benar kaya raya dan bukan kaleng-kaleng seperti Bagas.


"Wah, rumah kamu bagus sekali, Sayang? Ibu nggak nyangka kalau selera Dion setinggi ini. Kenapa nggak dari dulu saja sih. Ngapain juga coba harus bertemu dengan si Rasti itu dulu! Wanita g*mb 1 dan kampungan!" pekiknya kegirangan. Hatinya benar-benar merasa senang sekali. Apalagi disana semua rumah berderet-deret dengan berbagai model yang berkelas.


Fely tak membalas ucapan Bu Marni. Dia hanya tersenyum getir, dalam hatinya membayangkan apa yang terjadi jika Bu Marni tahu keadaan dia yang sebenarnya.


Mamanya Fely, yaitu Bu Carol sudah menunggu di depan halaman rumahnya yang sangat luas. Rumah yang sebentar lagi akan disita oleh Bank, karena hutang-hutang Papanya Fely yang menumpuk.


Bu Marni dan yang lainnya segera turun dari mobil. Dan Bu Marni pun langsung menyalami mamanya Fely dengan senyum sumringah. Sedangkan Carol hanya menyambutnya dengan tersenyum tipis.


Setelah semua keluarga Bu Marni bersalaman dengan Carol. Fely pun langsung mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam rumahnya.


Sesampainya di dalam rumah Fely, mata Bu Marni semakin membulat terbuka lebar, hampir saja keluar dari tempatnya. Karena sangking takjubnya dengan keindahan dan desain mewah di dalam rumah Fely.


Begitu juga dengan Dion, Rino, dan juga Sinta, yang merasa sangat takjub dengan kekayaan rumah orang tua Fely.


Bu Carol langsung mengajak mereka untuk makan-makan terlebih dahulu, baru setelah itu mereka berbincang-bincang di ruang tamu.

__ADS_1


Bu Marni sangat-sangat kampungan sekali. Di dalam hatinya mengutuk keras, kenapa tak dari dulu dia menikahkan anaknya, Dion dengan Fely. Dan tak usah bertemu perempuan kampungan seperti Rasti.


"Dion, tolong kamu foto ibu nanti ya. Pasti di fesbuk, takjub. Dan mau ibu kirim ke grup. Mau bilang jika calon mantu Ibu itu anak sultan!" ujar Bu Marni lirih meminta Dion.


__ADS_2