Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Pertemuan


__ADS_3

"Ini surat peringatan untuk kamu! Memalukan!" Ucap Kenzo, sambil melempar suarat itu di depan Fely. Disana juga ada beberapa staff lainnya. Karena Kenzo tak mau kalau hanya berduaan dengan Fely di dalam ruangannya.


Fely hanya menunduk saat mengambil surat peringatan itu.


Kini dia sudah seperti tak ada muka lagi di depan Kenzo.


Mungkin saja karena perbuatannya kemarin, malah membuat Kenzo semakin muak dengan Fely dan tak respect lagi.


"Ma-maafkan saya, Pak. Saya khilaf." Jawab Fely takut. Karena selain terkenal dingin, Kenzo juga terkenal pedas dalam berkata, jika sudah marah.


"Jawaban yang sudah basi! Sekali lagi kamu melakukan kesalahan, maka kamu tidak akan bekerja di sini lagi atau kamu aku turunkan menjadi office girl!" Mata Fely sontak langsung melotot. Karena tak menyangka kalau Kenzo akan berkata seperti itu.


"Ba-baik, Pak."


"Sekarang silahkan keluar! Oh iya, saran saya lebih baik kalian buru-buru menikah. Karena hasrat seperti itu bisa datang kapan saja." Fely mengangguk lesu, lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Pak Kenzo, bos yang terkenal dingin dan juga tak ramah.


Kenzo hanya ramah dengan orang-orang tertentu saja.


"Permisi Pak, sebentar lagi meeting akan dimulai." Ucap salah satu staf memberitahu pada Kenzo.


Lalu Kenzo pun langsung berjalan keluar ruangannya. Kenzo kini berjalan tepat di belakang Fely, dan sukses membuat Fely menjadi sangat gugup, hingga kakinya merasa gemetar.


Tak lama, Dion muncul dari lantai atas. Karena memang Dion akan menuju ke ruang rapat yang sama dengan Kenzo.


Dion refleks membuang muka, saat melihat Fely. Dion sangat merasa kikuk. Apalagi ada Kenzo dibelakang Fely.


Semua karyawan yang berada di situ meledek Dion dan juga Fely. Ada juga yang menyoraki, ada juga yang menceramahi, dan ada juga yang mencerca mereka berdua. Semua hal itu benar-benar menjadi sanksi sosial pada mereka berdua.


...****************...


Setelah jam kantor selesai, Fely mengajak Dion untuk bertemu, karena dia memang ingin buru-buru mengajak Dion untuk menikah.


Mereka ketemuan di sebuah taman yang tak jauh dari pusat Kota.


Karena di situ tempatnya memang lumayan sepi. Sengaja Fely mencari tempat yang agak sepi, karena malu jika harus bertemu dengan banyak orang.


Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya Dion pun datang.


"Lama sekali sih kamu, Mas!" Cerca Fely, saat Dion menghampirinya.


"Maaf. Aku lagi nggak semangat. Banyak masalah di kantor." Fely berdecak sebal.


"Kamu juga kenapa sih, tadi bersikap seperti itu di depan para karyawan lain? Kan aku jadi malu!" Cerca Fely kesal. Dion hanya menunduk tak menjawab. Kedua tangannya meremas kencang rambutnya.


"Pasti kamu juga kena teguran kan, sama Pak Andre? Ini semua tuh gara-gara si Rasti! Dia itu masih cinta sama kamu, makanya dia nggak rela dan belum move on karena kamu deket sama aku," gerutu Fely.


"Mungkin. Aku benar-benar malu sama semua ini, aku akan memberi pelajaran untuk Rasti! Suatu saat dia juga pasti akan merasakan semua hal yang aku rasakan saat ini!" Ucap Dion dengan penuh rasa marah.


"Harus Mas. Oh iya, Mas. Aku pengen kita cepat-cepat nikah. Karena aku nggak mau salah langkah lebih jauh lagi. Karena Pak Kenzo sudah mewanti-wanti ku," desak Fely.


"Menikah? Kamu kan tau kalau surat perceraianku saja belum turun. Masih dalam proses! Bagaimana bisa kita menikah! Memangnya kamu mau kalau kita menikah secara siri?" Fely langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Nah, makanya kamu sabar! Aku aja sekarang lagi pusing karena masalah video viral itu!" Ucap Dion lagi.


"Bu, aku pengen beli peralatan tulis. Karena semua peralatan tulisku udah pada habis dan juga rusak," pinta Della pada Rasti.


"Ya udah yuk, mumpung ibu lagi nggak sibuk. Mending kita ke supermarket sekarang. Sekalian kita belanja bulanan," Della pun langsung bersorak kegirangan.


Rasti sengaja ingin membahagiakan Putri satu-satunya, hasil buah pernikahannya dengan Dion. Karena Rasti kini sudah mapan dan juga sudah bekerja sama dengan Bu Elena, maka dari itu Rasti kini sudah punya penghasilan sendiri, dan dia bertekad ingin membahagiakan kedua orang tuanya dan juga putri semata wayangnya.


Rasti menaiki motor bersama dengan Della menuju ke supermarket terdekat.


Sesampainya di supermarket Della pun langsung berlari menuju ke arah tempat peralatan tulis dan memilih-milih. Sedangkan Rasti juga sibuk memilih semua bahan-bahan yang akan ia beli.


Karena Rasti sedang serius memilih-milih sayuran. Tak sadar dia berjalan mundur dan menabrak seseorang yang sedang berdiri membelakanginya.


Seseorang itu ternyata Kenzo. Kenzo memang sedang menemani Bu Zoya ke supermarket. Karena Bu Zoya memang sengaja mengajak Kenzo untuk pergi makan malam bersama sebuah rekan bisnisnya.


Kini mereka berdua sudah saling berhadapan, dan mereka berdua nampak gugup dan salah tingkah.


"Ka-kamu?" Tunjuk Kenzo, tak meneruskan ucapannya.


"P-pak Kenzo? A-apa kabar?" Ucap Rasti benar-benar merasa sangat gugup. Bingung mau berkata apa.


"Baik." Sahut Kenzo datar.


Tak lama Bu Zoya pun menghampiri Kenzo, dan Bu Zoya merasa senang saat melihat Kenzo yang sedang berbincang dengan Rasti.


"Wah, Rasti? Kamu juga sedang berada disini, Nak?" Tegur Bu Zoya


Selama ini Kenzo selalu memperkenalkan perempuan cantik, tapi mereka hanya perempuan matre yang membuat Kenzo tak pernah ingin serius. Bu Zoya ingin putranya tak banyak bermain dengan perempuan, dan menjadi lebih baik.


Bu Zoya berharap kalau Rasti bisa membuka hatinya untuk Kenzo. Karena entah mengapa perasaan Bu Zoya mengatakan kalau Kenzo sepertinya diam-diam kedapatan memperhatikan Rasti saat itu. Dengan tatapan kagum pada Rasti. Walau Bu Zoya tahu Kenzo sangat gengsi, dan bersikap dingin.


"Iya, Bu. Apa kabar Bu?" Mereka pun saling berpelukan.


"Alhamdulillah, sehat. Kamu apa kabar? Sama siapa kesini?" Tanya Bu Zoya dengan ramah.


"Alhamdulillah baik, Bu. Aku kesini sama Della, Bu," jawab Rasti. Dan tak lama Della pun menghampiri mereka semua.


"Bu... aku udah selesai milih-milihnya." Ujar Della antusias sambil menunjukkan semua peralatan tulis yang telah dia pilih


"Anak pintar dan cantik." Tak sadar Kenzo berbicara seperti itu.


Dan sukses membuat Rasti dan Bu Zoya menoleh ke arahnya. Tiba-tiba saja Kenzo merasa menjadi salah tingkah.


"Makasih Om?" Tanpa diduga-duga, Della pun membalas ucapan Kenzo.


"Sama-sama anak cantik." Jawab Kenzo lagi dengan senyum yang sedikit canggung. Namun kali ini Rasti yang dibuat salah tingkah oleh Kenzo. Karena Kenzo kini mensejajarkan dirinya dengan Della, lalu mencubit pipi Della dengan gemas.


Bu Zoya yang melihat pemandangan seperti itu, merasa sangat senang. Ada sebuah harapan di hatinya, agar kelak suatu saat nanti Kenzo bisa menikah dengan Rasti.


Setelah itu, Bu Zoya pun mengajak Rasti dan juga Della untuk makan malam bersama, dan ternyata Della dengan antusias langsung menyetujuinya. Membuat Rasti tak bisa berkutik lagi.

__ADS_1


Sebenarnya Rasti merasa tak enak hati. Tapi karena dia tak mau mengecewakan perasaan Della yang mungkin saja sedang rindu pada sosok seorang ayah. Akhirnya mau tak mau dia pun menyetujuinya.


...****************...


Kini Rasti, Della, Bu Zoya dan juga Kenzo telah sampai di salah satu restoran yang sangat terkenal dengan makanannya yang unik dan lezat.


Ini kali pertama untuk Rasti makan di tempat mewah seperti ini.


Sengaja Bu Zoya mengajak kesini memang untuk bertemu dengan salah satu clientnya dan juga sekalian makan malam.


Rasti melihat Kenzo sebagai pria yang dingin, tapi dia sepertinya adalah anak yang sangat menyayangi sang Mama. Karena dia juga mau menemani Mamanya untuk belanja. Jarang pria seperti ini.


"Uangku, gak cukup Mas!" ujar perempuan yang mejanya di belakang Rasti.


"Mas beneran gak ada, uang?" ucap perempuan itu kembali.


"Kamu kan sudah aku bilang, jika kamu yang akan membayari makan," ujar sang pria.


Rasti menoleh, dan itu adalah Gita. Meja mereka berjarak hampir 2 meja, namun suara Gita cukup keras hingga didengar oleh Rasti.


"Saya boleh meninggalkan KTP dulu, tidak"? tanya Gita pada pelayan yang menunggu pesanan mereka untuk dibayar, saat membawa tagihan.


"Saya punya uang kok, tapi uangnya ketinggalan mas!" alasan Gita.


Rasti tertegun dengan pemandangan itu, melihat adiknya Dion makan di restoran mewah, tapi tidak mempunyai cukup uang untuk membayar.


"Mbak Rasti!" ucap Gita ketika ia melihat Rasti ada di sana.


Karena tadi ia tidak menyadari, dan sibuk dengan ponsel. Gita bangkit dari duduknya dan menghampiri Rasti.


"Mbak aku minta tolong boleh, nggak?" tanya Gita.


Perasaan pasti sudah tidak enak ketika Gita ingin meminta tolong, padanya.


"Kamu bisa kan Mbak, bayarin dulu makananku, masih kurang Mbak satu juta lagi, semuanya. 1,5 juta dan aku hanya membawa uang 500 ribu, aku sudah minta kirim Mas Dion, tapi dia belum membalas pesanku," jelas Gita.


I"Apakah kamu tidak membaca dulu daftar harga, sehingga tidak bisa membayar?" tanya Rasti.


"Aku tadi bawa uang Mbak, tapi hilang, aku pasti balikin uang Mbak!" jawab Gita.


Gita juga merasa heran, dia tadi memastikan jika cukup membawa uang.


Kenzo dan Bu Zoya hanya diam menyimak, perbincangan Rasti dan juga Gita.


Rasti merasa malu karena kembali keluarga Dion membuat masalah, dan meminta tolong padanya. Rasti mengambil tasnya, dan mengeluarkan uang sebanyak 1 juta. Seperti yang diminta oleh Gita.


"Ini kamu bayarlah makananmu,lain kali kamu jangan makan di tempat yang mahal, jika tidak mampu!" ujar Rasti saat memberikan yang kata Gita pinjam.


Gita mengambil uang itu, dan dia hanya terdiam dengan ucapan Rasti.


"Ma-Makasih Mbak!" ucap Gita dan kemudian kembali ke meja tadi.

__ADS_1


'Dia sudah jalan, dengan bosnya Mas Dion bukan? Pria tampan, yang saat itu kita aku temui, aku harus mengabarkan ini pada ibu. Jika Mbak Rasti dekat dengan bos Mas Dion, tak bisa di biarkan!' batin Gita.


__ADS_2