Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Kembali


__ADS_3

"Ibu kenapa?" tanya Gita khawatir dan mendekati Marni.


"Dada ibu sakit, aduh rasanya sesak nafas ibu"


"Kita masuk dulu, aku ambilkan ibu minum!" Gita menuntun ibunya masuk ke dalam rumah, dan duduk di sofa.Marni mengusap dadanya.


"Hampir saja dia membuatku jantungan, bisa mati berdiri aku nanti. Tak bisa di biarkan si Rasti!" gumam Marni.


Gegas Gita pergi ke dapur untuk mengambil segelas air minum.


"Dion keterlaluan! Apa benar dia memberikan uang gaji itu pada Rasti. Aku tidak rela jika gaji putraku dinikmati oleh perempuan itu, nanti Rasti keenakan dia bisa menikmati uang Dion yang banyak. Jangan sampai Rasti bisa membeli barang yang bagus, menggunakan uang gaji Dion!" ucapnya terus berceloteh.


"Ini Bu, diminum dulu!" ujar Gita sambil menyerahkan segelas air minum, dan menyerahkannya pada Bu Marni


Bu Marni meneguk minuman itu, hingga tandas


"Gimana, udah enakan?" tanya Gita dan duduk di sebelah ibunya


"Kamu telepon Dion, suruh dia pulang sekarang juga!


"Tapi Mas Dion kan sedang ada di rumah sakit"


"Ibu tidak mau tahu, ini penting. Kenapa dia bisa memberikan uang gajinya pada, Rasti? Dion itu harus ingat surganya itu ada pada ibu, dan keluarga selamanya akan menjadi tanggung jawab dia.


Kamu mau jatahmu tidak ada lagi, ketika Dion benar-benar memberikan semua full gajinya pada istrinya!" ucap Bu Marni membuat Gita takut, dengan cepat menggeleng


"Tidak Bu, kan aku butuh ke salon, skincare, uang jajan!" tutur Gita


"Makanya kamu itu cepat telepon Dion, kita harus hentikan perbuatannya. Jangan sampai uang Dion habis, anak bodoh!" umpat Marni.


Hampir 1 jam Marni menunggu. Akhirnya Dion datang ke rumah itu.


"Ibu ada apa memintaku datang, kemari? Aku baru saja tadi pulang dari rumah sakit, dan ingin istirahat di rumah!" ujar Dion.


"Aku mau makan, karena di rumah juga tidak ada makanan Dion!" ucap Dion kembali.


"Duduk dulu!" tukas Marni memerintah Dion yang ingin berlalu ke dapur.


Akhirnya Dion mengurungkan niatnya, dan duduk pada sofa yang berhadapan dengan ibunya.


"Jawab perkataan ibu dengan jujur"

__ADS_1


Dion merasa heran melihat ibunya, raut wajah sang Ibu sangat serius.


"Ada hal penting apa yang ingin ditanyakan?"


"Kemana uang gajimu?" tanya Marni


"Bukankah uang gajiku kemarin sudah aku berikan, pada Ibu. Untuk perhiasan juga kan? aku sudah memberikan Ibu 8 juta, belum lagi Mas Rino, sisa untukku 5 juta. Apa masih kurang? Aku juga memberi uang tambahan pada Gita, 1 juta untuk dia ke salon!" jawab Dion dengan detail.


"Ibu kecewa padamu, Kamu tidak jujur pada ibu, jika memang uangmu itu sedikit. Bagaimana bisa kamu memberikan uang pada Rasti, untuk dia jalan-jalan ke kampung. Pasti kamu dapat bonus lagi kan, dari kantormu seperti kemarin. Hingga bisa beli mobil baru!" ujarnya.


Dion semakin merasa kesal. Sudah jujur, tapi Ibunya selalu merasa kurang dengan uang.


"Bonus? Ibu yang bener aja deh, aku nggak dapat bonus. Kemarin dan mungkin bulan depan aku tidak bisa memberi sebanyak biasanya. Karena harus menyicil mobil," ujar Dion.


"Kamu mau mengurangi jatah, ibu?" Marni melotot. Belum hilang kesalnya, di tambah kesal mendengar jatahnya uang bulanan akan di kurang.


"Ibu yang minta beli mobil baru, jadi harus mau jika jatah Ibu berkurang. Ibu pikir cicilan mobil itu murah? 4 juta Bu, sebulannya!" ucap Dion.


"Gajimu itu banyak!" Marni seakan tidak mau tahu, yang dia tahu putranya kaya sekarang.


"Gajiku hanya 15 juta, aku tidak selalu mendapatkan bonus!" tegas Dion.


Marni semakin bingung. Karena penjelasan sang putra.


"Uang apa yang Ibu maksud, aku tidak memberikan pada Rasti!" bantah Dion.


"Kamu jangan bohong, Rasti sendiri yang bilang pada ibu tadi lewat telepon. Sampai dia jalan-jalan mengajak kedua orang tuanya, ke kebun teh! Pasti nggak sedikit yang kamu berikan, berapa belas juta kamu berikan padanya?" Marni mencecar putranya agar mengaku.


"Sumpah Bu, aku tidak memberikan uang pada Rasti. Dia pasti yang berbohong!"


"Jika memang kamu tidak memberikan uang pada Rasti, dia mendapatkan uang dari mana? Bisa berlibur!"


"Itulah yang aku tidak tahu, apa mungkin Rasti mencuri uangku? Tapi uangku tidak berkurang," ucap


"Aneh banget kalau begitu, mbak Rasti punya uang banyak sekarang. Mas curiga nggak sih?" tanya Gita ikut bicara.


"Curiga apa, maksudmu"


"Apa Mbak Rasti jual diri? Ya ampun aku nggak nyangka kalau mbak Rasti semurahan itu. Banyak Mas orang sekarang, pengen kaya jual diri lewat aplikasi. Kamu harus waspada!" ucap Gita memperingati Dion.


"Rasti tidak mungkin seperti itu. Kamu lihat saja penampilannya, dia tidak mungkin menjual diri!" sanggah Dion dan tak berpikir sejauh itu.

__ADS_1


"Benar, Rasti itu nggak menarik. Lihat wajahnya kusam, tidak pernah dirawat. Tubuhnya juga tidak terawat, seperti wanita lain yang pandai merawat diri. Bahkan dia itu sangat tidak serasi dengan Dion, anak ibu tampan"


Seangkan Rasti membuat malu suaminya! Karena itu ibu selalu mewanti-wanti Dion, agar tidak membawa Rasti pergi kondangan, ataupun menghadiri acara apapun, malu nanti!" ejek Marni.


Karena itulah selama ini Dion tak pernah mengajak istrinya, apalagi teman kantornya. Tidak ada yang kenal, dengan Rasti istri Dion. Jika acara kantor. Dion akan menghadiri sendirian.


"Jangan salah Bu, ada kok yang mau. Walau lakunya mungkin murah, jika modelan Mbak Rasti!" ucap Gita sambil menahan tawa.


Mereka juga akhirnya tertawa dan mengejek Rasti.


...****************...


"Aku pulang ke rumah ibu ya," ucap Sinta ketika sudah mendapat izin pulang, dari dokter.


Hampir 5 hari di rumah sakit, dan kini Sinta harus menggunakan tongkat sementara waktu. Karena harus menjalani terapi.


"Aduh Sin, nanti Ibu repot. Kamu kan tahu kalau ibu juga sering sakit pinggang, kamu pulang ke rumah Ibu mertuamu saja. Kan banyak nanti yang mengurusi, ada juga kan istrinya Dion suruh kesana, untuk urus kamu. Dia kan pengangguran, tidak bekerja. !anti dia saja yang mengurus dan merawatmu, menyiapkan segala kebutuhanmu!" ucap Ratna Ibu Sinta.


"Benar juga, ibu. Ya sudahlah kalau begitu aku pulang ke rumah Ibu saja!" Sinta menyetujui.


"Mas, kita pulang ke rumah ibumu, kamu kabari ibu jika kita akan pulang ke sana!" ujar Sinta.


Dia tak pulang ke rumah sendiri, tidak akan ada yang merawatnya. Rino sendirian tidak bisa dan kerepotan.


"Aku telpon ibu dulu ya, sayang!" jawab Rino gegas menelpon ibunya.


**


Sudah seminggu Rasti di rumah orangtuanya. Kini dia bersiap akan pulang ke rumah. Dan siap membalas kesombongan keluarga suaminya, dengan uang yang di punya. Rasti akan membuka usaha.


"Saat di mulai!" gumam Rasti sambil mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Siang ini dia akan berangkat, pulang ke rumah


"Ma, Della takut!"


"Takut kenapa?" tanya Rasti ketika putrinya itu tidak terlihat senang akan kembali.


"Takut Ayah marah, kerjaannya marah terus!" keluh Della.


Rasti kasihan melihat Della. Tak pernah dapat kasih sayang dan sering melihat Rasti di marah.


"Sabar sayang, nanti kita beli rumah dan pindah dari sana ya," ujar Rasti dan mengusap lembut pucuk rambut Della

__ADS_1


"Aku harus bisa berpisah dari Mas Dion. Setelah semua tujuanku tercapai dulu" batin Rasti.


__ADS_2