Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Serasi


__ADS_3

Bu Marni tidak menjawab apapun karena kesal mendengar perintah Rino. Ia menatap sinis pada Rasti kemudian bangkit dari duduknya.


"Ibu mau ke mana?" tanya Rasti dengan santainya.


Bu Marni hanya melengos kemudian pergi, dari rumah itu. Baru saja dia ingin mengomeli menantunya, malah Rino memintanya untuk pulang.


Rasti tertawa kecil melihat ibu mertuanya itu, yang tidak bisa berkutik dan kewalahan di minta mengurus Sinta.


"Aku tidak sudi, jika harus ikut mengurus Mbak Sinta. Aku bukan Rasti yang dulu, bisa kalian perlakukan seperti babu!" gumam Rasti kemudian berlalu menuju dapur, dan menyiapkan makanan untuk Della.


...****************...


Marni tiba di rumahnya. Rino sudah menunggu di depan teras.


"Ibu ke mana sih, aku cariin dari tadi! Sinta itu butuh bantuan Ibu,jadi lebih baik Ibu di rumah saja. Tidak usah pergi-pergi!" ucap Rino pada Ibunya. Agar Marni mengurus istrinya sepanjang hari. Karena dia sendiri, enggan di repotkan sang istri.


"Kenapa kamu yang mengatur ibu! Memangnya Ibu ini babunya Sinta, atau baby sitternya disuruh menjaga dia 24 jam. Harusnya kamu sebagai suami yang jagain dia! Ibu ini sudah tua, malah kalian manfaatkan!" cerocos Marni yang sebenarnya tidak mau, merawat menantunya.


Dulu dia memang kompak dengan Sinta. Apalagi ketika memusuhi jadi lebih baik Ibu di rumah saja. Tidak usah pergi-pergi!" ucap Rino pada Ibunya. Agar Marni mengurus istrinya sepanjang hari. Karena dia sendiri, enggan di repotkan sang istri.


"Kenapa kamu yang mengatur ibu! Memangnya Ibu ini babunya Sinta, atau baby sitternya disuruh menjaga dia 24 jam. Harusnya kamu sebagai suami yang jagain dia! Ibu ini sudah tua, malah kalian manfaatkan!" cerocos Marni yang sebenarnya tidak mau, merawat menantunya.


Dulu dia memang kompak dengan Sinta. Apalagi ketika memusuhi Rasti. Tapi sekarang keadaan dan kondisi Sinta. Hanya menyusahkan dia saja.


"Ya wajar dong Bu, Ibu itu kan Ibu mertuanya. Masa tidak mau merawat menantu sendiri!" sahut Rino dengan entengnya.


"Ibu pusing dengan keadaan ini, kamu tahu tadi istrimu itu pipis. Jijik Ibu!" cicit Marni.


"Itu karena tidak ada yang menolongnya!"


"Kamu saja Rino yang mengurusi istrimu sendiri. Kamu kan tidak punya pekerjaan, mau ke mana? Lebih baik kamu urus Sinta, atau jika tidak mau mengurus Sinta. Kamu bisa menggunakan jasa perawat," ujar Marni memberi saran.


"Aku tidak punya uang, baiklah aku akan menggunakan jasa perawat dan meminta uang pada Dion, jika Ibu tidak sanggup untuk mengurus Sinta. Bagaimana?"


"Nah benar juga itu, kami minta tolong pada Dion!" Marni menyetujuinya.


"Tapi untuk sekarang ibu rawat dulu ya Sinta. Karena aku mau pergi!" jawab Rino.


Rino menuju sepeda motornya, yang terparkir di halaman depan rumah.


"Rino, mau ke mana kamu? Dasar anak tidak berguna! Dia meninggalkan istrinya itu padaku!" gerutu Marni.


...****************...


Marni menuju kamar Gita yang masih tertutup.


"Anak ini, dia belum juga bangun?" cicit Marni dan kemudian membuka jendela kamar Gita.


Membuat Gita merasa silau.


"Gita bangun! Sudah siang ini!"


Gita masih tertidur.


"Gita!" Marni mengguncang tubuh Gita agar putrinya itu bangun.


"Kepalaku sakit Bu, aku masih mau tidur!" ujarnya parau.


"Bangun sekarang, lekas kamu pergi mandi agar merasa segar. Cepatlah! Apa yang kamu lakukan semalam, kamu mabuk mulutmu itu bau alkohol!"


Tak Ada jawaban dari Gita dia masih tetap memejamkan matanya.


"Gita! Kenapa pergaulanmu seperti ini, ibu takut terjadi hal buruk padamu. Apa yang kamu lakukan semalam, apa saja yang kamu lakukan hah!" hardik Marni yang tidak diacuhkan oleh Gita.


Anak gadisnya itu, masih saja tertidur.


"Anak ini memang kurang ajar, tunggu kamu ya!" tunjuk Marni kemudian keluar kamar.


Marni mengambil teko dan kemudian masuk lagi, ke kamar Gita.

__ADS_1


Ibunya mengguyurkan air di dalam teko itu, pada Gita yang sedang tidur. Gita gelagapan dan dia spontan terduduk.


"Banjir..!" teriak Gita.


"Banjir gundulmu, itu! Cepat bangun dan mandi. Setelah ini Ibu ingin bicara denganmu!" pekik Marni.


Gita menatap ibunya, sekarang matanya sudah bisa terbuka. Gita cengo dan kebingungan. Tapi kepalanya masih merasa sakit.


"Bu apakan aku?" tanya Gita yang masih seperti orang linglung.


"Mandi sekarang!" bentak Marni.


...****************...


Sinta merasa sesak. Ia baru saja melihat foto Dion bersama perempuan, cantik.


Dian memposting foto dengan perempuan. Mereka sedang makan siang bersama dia. Tanpa caption apapun, sepertinya wanita itu teman kerja Dion karena dari segi penampilannya. Seperti wanita kantoran.


[Siapa dia Mas?] balas Sinta.


Menit berlalu, tidak mendapat balasan dari Dion. Sinta mencoba menghubungi adik iparnya, namun panggilannya di-reject oleh Dion.


"Menyebalkan! Kenapa sih kamu tidak mengerti dengan perhatianku. Kamu harusnya sadar aku itu menyukaimu. Jika kamu berselingkuh, harusnya itu denganku bukan wanita lain!" gumam Sinta menahan perih.


"Aku ingin cepat sembuh dan kembali bisa berjalan lagi, jika aku sakit seperti ini terus maka aku tidak bisa mendapatkan Dion. Aku tidak bisa mendapatkan perhatiannya, aku harus kembali cantik dan bisa merawat diri!" ujar Sinta dan menatap nanar pada kakinya.


...****************...


Marni menatap tajam pada Gita. Yang kini sudah duduk di hadapannya.


"Kamu mabuk dengan siapa?"


"Dengan teman-teman!"


"Jawab yang benar!" hardik Marni.


"Teman perempuan kok! Ibu jangan menyudutkan aku seperti ini," jawab Gita bersungut-sungut.


"Aku sudah jujur, berani sumpah!"


"Tapi matamu itu berbohong, kamu tidak bisa membohongi ibu, Gita! Kamu jangan main sumpah, kalau ucapanmu itu tidak benar. Pergaulanmu semakin bebas, Ibu khawatir!" ujar Marni yang khawatir dengan anak gadisnya.


"Ibu tenang saja, aku tidak macam-macam. Aku bisa jaga diri!" ujar Gita meyakinkan sang Ibu.


"Ibu tidak mau kamu seperti anaknya si Ema. Kamu tahu kan dia itu hamil duluan, bulan kemarin baru menikah. Ibu sering mencaci anaknya, karena hamil duluan. Jangan sampai kamu juga seperti itu, nanti ibu yang malu!"


"Aku tidak akan seperti itu, aku bisa jaga diri! Ibu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan hamil duluan dan membuat ibu malu," jawab Gita dan menuangkan air putih ke dalam gelas.


"Ibu pegang ya ucapanmu, Gita. Jika sampai kamu membohongi Ibu. Rasakan akibatnya nanti!" Marni menunjuk Putrinya.


Gita meraih ponselnya. Seperti biasa dia akan membuka sosial media.


"Ibu lihat deh ini!" ucap Gita. Seakan ada berita besar.


"Apa?" Marni kemudian mendekati Gita.


"Lihat ini, Mbak Rasti dia ke salon. Sedang perawatan pasti!" cicit Gita.


"Astaga Rasti, dia udah sampai salon aja!" pekik Marni.


". ujar Gita menuduh Rasti.


"Dari mana Rasti dapat uang, kata Dion dia nggak kasih uang buat Rasti!" ujar Marni tapi menantunya itu bisa ke salon.


"Bohong Mas Dion, kenapa istrinya bisa ke salon!"


Gita menggeser story yang lain.


[Me time!] caption Rasti yang memfoto Della putrinya ikut menemani. Karena Della masih izin, dan besok baru masuk sekolah.

__ADS_1


"Tidak bisa di biarkan ini. Ibu harus telepon Dion. Gita kamu yang telepon kakakmu cepat!" titah Marni.


Gita menelpon kakaknya Dion. Namun tidak di angkat oleh Dion.


"Mas Dion lagi kerja kali Bu, jadi gak bisa angkat telpon!" ujar Gita dan menaruh ponselnya di atas meja.


"Kamu tahu tidak di mana Rasti itu perawatan, ayo kita susul dia ke sana!" ajak Marni.


"Maksud ibu?"


"Kita susul Rasti ke sana, ibu harus memarahi dia. Tidak bisa dibiarkan, Rasti seperti ini. Dia menghamburkan uang, Dion!" ucap Marni dan ingin menyusul menantunya yang sedang, di salon.


"Jangan Bu, nanti saja jika dia sudah pulang. Malu jika kita ribut di sana. Ibu mau dicap sebagai mertua jahat, jika memarahi Mbak Rasti, di depan umum?" tanya Gita.


"Kenapa kamu bilang seperti itu!" sahut Marni ketus.


"Aku hanya menasehati Ibu, tahu kan Bu sekarang itu jamannya viral jika. Ibu berbuat salah sedikit saja, bisa di video oleh orang terus viral deh!" Gita berjalan menuju kulkas untuk mengambil susu coklat.


"Susunya habis, ya?" tanya Gita cemberut.


"Ada kok, ibu udah belanja!"


"Tapi ini nggak ada bu, juga ke mana cemilan yang aku beli kemarin? Kenapa semuanya kosong! Buah-buahan juga!" ujar Gita merasa aneh. Karena di rumah itu hanya dia yang doyan nyemil.


Marni kemudian curiga.


"Sebentar Git, kita lihat ke kamarnya Sinta!" ajak Marni.


Ibu dan anak itu kemudian berjalan menuju kamar Sinta. Di kamar Itu Sinta menaruh banyak cemilan, dan juga buah yang ada di dalam kulkas.


Isi kulkas di pindah ke kamar semua.


"Sinta, kenapa semua makanan yang ada di dalam kulkas kamu bawa ke sini. Ini kan milik Gita!" ujar Marni mendekat pada Sinta.


Sinta sedang duduk di atas ranjang. Sedangkan cemilan berada di atas meja, di sebelah ranjangnya.


"Mbak ini kan cemilanku, buah dan juga kotak-kotak susu ini. Kenapa ada di kamarmu semua!"ujar Gita kesal.


"Kenapa memangnya, aku kan sedang sakit dan butuh cemilan. Emangnya tidak boleh aku makan!" sinis Sinta.


"Tapi tidak semuanya juga kali Mbak, kamu bawa ke sini!"


"Ya sudah kamu ambil aja separuhnya!" sahut Sinta tak mau mengaku salah.


"Nyebelin banget sih kamu, Mbak! Ini punya aku. Harusnya kamu beli sendiri dong!" ketus Gita yang tidak suka jika Sinta mengambil makanannya.


Sinta tidak mengacuhkan lagi adik iparnya itu, hari ini dia benar-benar merasa kesal.


Terlebih ketika melihat fotonya Dion masih membuat Sinta sakit hati.


"Bu, Dion dekat dengan wanita lain!" ujar Sinta yang tidak tahan membicarakan ini pada ibu mertuanya.


"Maksudmu, wanita lain apa?" tanya Bu Marni.


"Dion itu berselingkuh dari istrinya!"


"Yang benar kamu, Sin?" ucapnya Marni memastikan.


"Sebentar!" ucap Sinta dan menunjukkan layar ponselnya pada Marni.


"Ini, Ibu lihat storynya Dion!"


Gita ikut penasaran dengan foto yang ditunjukkan oleh Sinta. Dia ikut melihat foto itu.


"Itu selingkuhan, Dion?" Marni justru semringah melihat foto putranya dengan perempuan lain.


"Aku tidak tahu Bu, tapi dia memposting foto ini!" ujar Sinta.


"Jika memang itu selingkuhan Dion, Ibu setuju saja. Kamu lihat kan Gita, wanita itu cantik. Nerbeda dengan Rasti!" ucap Marni memuji kecantikan wanita di foto itu.

__ADS_1


"Iya Bu Dia juga seperti wanita karir, kan cocok deh dengan Mas Dion. Mereka serasi!" timpal Gita.


Mendengar ucapan dari adik ipar dan juga mertuanya, semakin membuat Sinta kesal. Dia ingin Marni melakukan sesuatu dan memarahi putranya itu, tapi justru mendukungnya.


__ADS_2