
"Apa yang kau maksud, dengan masuk penjara?" tanya Sherin.
"Tunggu saja nanti, kau akan mendapatkan jawabannya. Selamat mendekam di balik jeruji besi, setelah itu kau akan menjadi narapidana. Bukan lagi wanita berkelas!" cibir Rasti.
Rasti berlalu dengan motornya, dan meninggalkan mereka berdua.
"Gawat! Apakah dia sudah tahu tentang kita, yang menjadi dalang dibalik penculikan putrinya?" tanya Sherin.
Dia sangat cemas dan khawatir.
"Bagaimana dia bisa tahu, siapa yang memberitahunya?" Casie merasa heran dan degup jantung tak karuan, ketakutan menghampiri mereka.
"Kita, kabur, ke Singapura?" ucap Sherin berniat kabur ke luar negeri. Karena negara itu bisa di kunjungi tanpa Visa.
"Kamu jangan terlalu takut, Papamu banyak uang!" ujar Casie menenangkan sahabatnya.
Mereka bersahabat, karena Casie menjalin hubungan dengan kakak pria Casie bernama Daren. Karena itu mereka berdua dekat.
"Ya, ada papaku. Kenapa aku harus takut!" ujar Sherin mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Ponsel Casie berdering.
"Siapa?" tanya Shering yang semakin panik.
"Tante Zoya, kamu jangan terlalu panik!" ucap Casie dan menjawab panggilan telepon dari Tantenya.
"Oke Tante, sore ini ya. Kebetulan aku sedang bersama Sherin!" jawab Casie mengulas senyum.
"Ada apa?" Sherin bertanya penasaran.
"Tante Zoya mengajak kita untuk, datang ke penthouse miliknya. Dia mengundangmu juga, bahkan menanyakan tentangmu," ucap Casie yang membawa angin segar pada Sherin.
"Benarkah?" raut wajah Sherin berubah ceria. Karena akan bertemu dengan Mama Kenzo.
"Apakah, Tante Zoya mulai memberi lampu hijau untuk hubunganku dan Kenzo?" ucapnya sambil menahan senyum, sebab hatinya terasa berbunga-bunga.
"Bisa saja, sekarang kita bersiap!"
Dua perempuan itu menuju mobil mereka, yang di parkir di depan ritel Indoapril.
...****************...
Karena weekend Fely duduk bersantai di sofa. Sambil bermain ponsel. Dia sedang menghitung semua biaya, yang harus di lunasi pada vendor wedding.
"Kenapa uangku, kurang?" sambil memegangi dahi.
Kepala Fely menjadi pusing, karena uang yang ia miliki tak cukup untuk melunasi semua biaya.
"Apa aku harus, menjual sebagian tas branded. Atau perhiasanku?" gumam Fely berpikir.
Ia menggeleng cepat, karena merasa tak ikhlas. Jika harus menjual barang mahal miliknya.
Fely mengedarkan pandangan. Hanya dia yang ada di rumah sekarang. Dion pun entah kemana,pergi tanpa pamit.
"Ibu kan sedang pergi, pasti
__ADS_1
mertuaku yang bawel itu punya banyak perhiasan dan asli. Kemarin saat acara resepsi, Ibu pakai banyak perhiasan!" ucap Fely dan tersenyum seakan mendapat cara untuk melunasi hutangnya pada vendor wedding.
Gegas Fely menuju kamar Bu Marni. Pintu tidak terkunci.
"Bu, kenapa kamu terlalui mempercayai menantumu, yang baik hati ini. Sehingga memudahkan aku untuk masuk!" tukas Fely dan menuju lemari.
Dimana lagi seseorang menyimpan perhiasan yang di miliki, jika bukan dalam lemari. Apalagi Bu Marni tak mempunyai brankas.
Lemari itu tanpa kunci.
"Ibu, terlalu bod*h!" lirih Fely.
Dengan mudah ia mengeruk dan mencuri perhiasan sang Ibu mertua. Gelang, cincin, kalung. Yang berada di dalam kotak perhiasan.
Fely menyambar paper bag di atas meja rias. Dan tak ada isi. Dan memasukkan hasil pencurian perhiasan itu, ke dalamnya.
"Makasih Ibu mertuaku sayang!" Fely tertawa dan merasa puas. Walaupun mungkin hasil penjualan itu nanti tak mencukupi, setidaknya bisa menambah biaya untuk menutup hutang.
...****************...
Bu Marni pulang dari rumah sakit. Sebelumnya ia mampir ke rumah Sinta. Menanyakan kabar Gita yang tak pulang ke rumah, sudah beberapa hari. Tapi Sinta tak ada di rumah.
Ibunya Dion itu berencana untuk, ke rumah Bagas esok.
Fely sudah kembali lagi duduk, di ruang tengah dan bermain ponsel.
Bu Marni geram melihat menantunya, dan segera menuju belakang ke ruang cuci baju. Bu Marni mengambil baju kotor milik Felly dan juga Dion dari dalam keranjang.
Perempuan paruh baya itu, kembali lagi ke ruang tengah dan melempar pakaian kotor itu pada wajah Fely.
"Ibu apa-apaan sih, ngelempar aku menggunakan pakaian kotor!" hardik Fely yang tidak terima dengan perbuatan Ibu mertuanya.
"Kamu lihatkan pakaian kotormu, sudah menumpuk. Bukannya dicuci, kamu malah enak-enakan di sini, sambil main HP!" cicit Bu Marni mengomeli menantunya.
"Ribet banget sih, jadi mertua bawel! Bawa aja ke laundry, gampang kan? Enggak usah juga Ibu cuciin, aku nggak minta dicuciin sama ibu!" ujar Fely dan mengibaskan rambutnya.
"Apa katamu dibawa ke laundry, siapa yang akan membayar.
Memangnya kamu punya uang, kamu itu udah bangkrut, bahkan gajimu di kantor saja lebih banyak Dion. Di belakang itu sudah ada mesin cuci, kamu tinggal mencuci dan mengeringkannya saja, itu masih malas? Sadar kamu ini bukan anak konglomerat lagi,kamu itu sudah jatuh miskin!" ucap Bu Marni geram.
Pujian yang dulu ia lontarkan setiap bertemu dengan Fely. Sekarang berubah menjadi hinaan, karena Fely bukan anak orang kaya, dan hanya anak angkat. Yang ditinggalkan oleh kedua orang tua angkatnya, tanpa harta sedikitpun.
...****************...
Dion tak kunjung pergi dari rumah Rasti. Dirinya sengaja menunggu kedatangan Rasti.
Pasti Rasti sedang keluar, batinnya. Walaupun dia harus menunggu, hingga lama dan tidak tahu kapan Rasti akan pulang.
Bu Ratih mengintip dari dalam, dia tidak tahu lagi bagaimana cara mengusir Dion. Apakah dia harus memanggil security di kompleks itu.
Dion duduk lesehan di teras rumah, sambil memainkan ponselnya, untuk mengusir rasa jenuh. Tak lama datang sebuah mobil sport mewah yang sangat ia kenali.
"Pria itu lagi, getol sekali ia mendekati mantan Istriku. Jika dia bukan atasanku, sudah aku puk*1 dan haj*r dia!" gumam Dion mengepalkan tangannya.
Sebelum pagar terbuka. Rasti datang menggunakan sepeda motornya.
__ADS_1
"Apakah, mereka janjian?" ucap Dion menaruh dugaan. Karena mereka datang di waktu bersamaan.
Rasti membuka pagar. Kenzo dengan mobilnya memasuki pelataran rumah.
"Oh, jadi kalian selalu keluar berdua ya?" ucap Dion menghampiri Rasti yang turun dari motor.
Rasti menatap pada Kenzo yang keluar dari mobilnya. Dia juga tidak tahu. Kenzo akan datang, dan berhasil memubuat Dion mempunyai alasan untuk menyudutkan Rasti.
"Rasti, ikut aku!" ucap Kenzo dan mengabaikan Dion.
"Hei, kau tidak bisa mengajak Rasti sesuka hatimu. Dia itu masih dalam masa iddah!" ujar Dion menegur Kenzo.
"Aku ada urusan penting, dengan Rasti. Kau tidak usah mencoba memperingati aku. Aku tau batasan!" jawab Kenzo.
"Rasti, kamu harus jaga diri. Dari pria seperti dia, yang mempunyai banyak uang, dia itu sering one night stand, dengan wanita yang dia sukai. Apakah pria seperti ini yang kau mau?" cerca Dion seakan tahu bagaimana Kenzo. Dan menghakimi dia di depan Rasti.
"Tutup mulutmu, kau juga biad*b.
Tau apa kau tentang kehidupanku!" ucap Kenzo dan menyorot Dion. Ingin sekali ia melayangkan puk*lan pada mulut Dion yang seperti perempuan jika bicara.
"Sudah jangan ribut!" ucap Rasti menghentikan mereka berdua.
"Pulang saja kalian, aku ingin istirahat!" Rasti melangkah meninggalkan dua pria itu.
"Tunggu!" ucap Kenzo dan Dion serempak, mereka saling membuang pandangan.
"Rasti, kamu harus ikut aku. Ada hal penting, masalah penculikan Della!" ucap Kenzo.
Rasti berbalik karena ini menyangkut, tentang dalang penculikan itu.
"Bagaimana?" tanya Rasti dan menghampiri Kenzo.
"Ayo masuk mobil, jangan banyak bertanya di sini!" ucap Kenzo. Dan mengundang rasa penasaran Dion.
"Apa ini, kalian sudah mengetahui siapa pelakunya? Kenapa aku tidak di beritahu, aku Ayah Della dan berhak tahu!" ujar Dion dan menghampiri Kenzo.
Tapi Kenzo dan Rasti masuk ke dalam mobil, tanpa memberitahu apapun pada Dion. Waktunya mendesak, dan belum sempat menjelaskan.
"Dia bertingkah, seakan dia adalah Ayah dari putriku! Si*lan. Belum menikah dengan Rasti, dia sudah mengambil tempatku!" kesal Dion.
...****************...
Kenzo mengajak Rasti untuk menuju Penthouse milik Mamanya. Berencana akan menjebak Casie dan juga Sherin. Yang sudah diundang oleh Zoya.
Kenzo takut jika mereka kabur. Apalagi Sherin juga mempunyai bekingan yang kuat. Tapi setidaknya, dia sudah berhasil di tangkap.
Mobil yang di kemudikan Kenzo memasuki basement.
"Kita jangan keluar, tunggu di sini!" ujar Kenzo dan menatap Rasti sambil mengulas senyum.
Rasti tersenyum kecut melihat Kenzo. Biasanya pria itu akan bersikap dingin.
"Jelaskan padaku, apa yang akan kita lakukan?" tanya Rasti.
"Kita akan menunggu kedatangan Sherin dan juga Casiea. Ada beberapa mobil polisi, sudah bersedia di sini. Siap untuk menangkap mereka berdua, Mamaku sudah mengundang mereka dan kupastikan, Sherin akan datang sebentar lagi!" jelas Kenzo.
__ADS_1
Rasti mendengar itu, merasa senang. Karena sebentar lagi mereka yang menyakiti Della. Akan segera di tangkap, dan mendapatkan hukuman.