
Karena tak ada kejelasan juga, dan ada nomor yang tak dikenal menghubungi Rasti, akhirnya Dion dan Rasti langsung ke kantor polisi, mereka melaporkan anaknya yang hilang yaitu Della.
[Halo Ken, ada apa?] Tiba-tiba saja Kenzo menelepon Rasti.
[Anak buahku sudah menemukan dimana Della berada. Kamu ada dimana sekarang? Biar kususul,
dan nanti kita kesana bersama-sama.] Mata Rasti langsung berbinar. Dia senang kalau Della sudah diketemukan.
[Aku sekarang sedang berada di kantor polisi. Dimana Della, Ken?]
[Ok, aku akan kesana sekarang. Kamu yang tenang ya?] Panggilan pun segera ditutup.
"Siapa yang menelepon, Ras? Pak Kenzo?" Tanya Dion kepo. Karena dari tadi dia memperhatikan Rasti terus.
"Iya. Anak buah Pak Kenzo telah menemukan keberadaan Della, dan kita akan segera kesana bersama dengan beberapa orang polisi juga," wajah Dion tampak tak suka, saat tau kalau menelepon adalah Kenzo. Dan malah Kenzo yang telah menemukan Della. Dion benar-benar merasa kalah telak pada Kenzo.
"Andai saja kita tak berpisah, Ras. Pasti Della akan lebih terurus. Kamu tak akan sibuk dengan pacar barumu itu," Rasti menoleh ke arah Dion. Tatapan Rasti menjadi sinis.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu? Aku? Punya pacar? Terus apa kabarnya kamu, Mas? Kamu lupa untuk berkaca? Kamu sekarang sudah menikah. Sudah menjadi suami orang!" Sahut Rasti emosi.
"Kamu cemburu ya, Ras? Kita bisa balikan, asal kamu nanti setelah menikah dengan Kenzo, lalu bercerai darinya. Oh iya, kenapa kamu nggak bilang soal warisan bapak kamu? Kenapa aku baru tau sekarang?" Celoteh Dion tak tahu malu. Rasti langsung membuang muka. Dia benar-benar tak tahu harus bersikap seperti apa di depan lelaki tak tahu malu ini.
Selang beberapa menit kemudian,Kenzo pun telah sampai di kantor polisi. Dion awalnya membuang muka saat Kenzo datang. Namun mau tak mau Dion pun harus menyapa, karena Kenzo adalah atasannya di kantor.
Setelah berbasa-basi, Rasti dan yang lainnya, serta beberapa anggota polisi langsung menuju ke tempat kejadian perkara. Sedangkan anak buah Kenzo telah sampai disana terlebih dahulu, mengawasi para penculik itu.
...****************...
Adzan Maghrib telah berkumandang. Hati Rasti sangat merasa cemas sekali. Karena Della dibawa oleh penculiknya ke daerah yang lumayan jauh, dan juga masuk ke dalam hutan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya Rasti dan yang lainnya pun telah sampai di sebuah tempat terpencil. Sebuah gubuk tua di dekat hutan. Dan Della berada disitu.
Polisi dan yang lainnya langsung menyergap ke gubuk tua itu, mereka langsung menangkap si penculik dan menyelamatkan Della.
Della yang sudah mulai agakmerasa cemas sekali. Karena Della dibawa oleh penculiknya ke daerah yang lumayan jauh, dan juga masuk ke dalam hutan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya Rasti dan yang lainnya pun telah sampai di sebuah tempat terpencil. Sebuah gubuk tua di dekat hutan. Dan Della berada disitu.
Polisi dan yang lainnya langsung menyergap ke gubuk tua itu, mereka langsung menangkap si penculik dan menyelamatkan Della.
Della yang sudah mulai agak lemas, langsung dipeluk oleh Rasti, dan juga Dion.
"Ya Allah, Della!" Teriak Rasti histeris, saat melihat Della yang sedang dibawa oleh Kenzo dalam keadaan lemas.
Rasti memeluk Della terus-menerus sambil menangis. Dan disaat itu juga Dion memeluk Rasti yang masih memeluk Della. Rasti langsung menepis tangan Dion, karena risih.
"Heh Bro, lebih baik biarkan Rasti meluapkan rasa rindunya dulu pada Della. Jangan kamu ambil kesempatan dalam kesempitan." Kenzo berusaha melepaskan tangan Dion yang sedang memeluk Rasti dan Della.
Dion nampak kesal dengan sikap Kenzo yang seenaknya. Padahal disinilah kesempatan Dion untuk bisa memeluk Rasti lagi dan juga anak semata wayangnya.
"Kira-kira siapa dalang dibalik penculikan ini, ya Pak?" Tanya Rasti, setelah dia agak tenang.
__ADS_1
"Kita akan cari tau pelan-pelan. Kamu tenang dulu ya? Yang penting Della sudah ketemu, dan aman di dekat kita," sahut Kenzo.
"Aku harap dalangnya segera ketemu." Ucap Rasti penuh harap.
...****************...
"Dimana Dion, Fel? Kok nggak pulang bareng sama kamu?" Tanya Bu Marni pada menantu barunya.
"Dion pergi ke rumah Rasti, Bu. Si Della diculik katanya." Sahut Fely acuh. Dia mendorong semua koper miliknya ke dalam kamar Dion. Mata Bu Marni memperhatikan gerak-gerik Fely.
"Diculik? Sama siapa? Ngapain si Della pake acara diculik segala? Memangnya Rasti orang kaya?" Gerutu Bu Marni. Yang sama sekali tak ada rasa peduli terhadap cucunya.
"Ya aku nggak tau. Tanya aja nanti sama Mas Dion," sahut Fely yang masih acuh. Dalam hatinya sangat malas, karena ditanya-tanya terus oleh ibu mertuanya.
"Eh, Fel. Kamu ngapain bawa koper kesini banyak sekali? Bukannya nanti mau tinggal di rumah kamu?" Selidik Bu Marni
"Mau tinggal disini dulu untuk sementara, Bu. Mungkin sampai rumahnya Mas Dion selesai dikontrakkan," mata Bu Marni langsung mendelik. Dia bingung dengan ucapan Fely.
"Kenapa nggak tinggal di rumah kamu aja? Dan rumah kamu itu kan besar sekali, kamu juga anak tunggal. Dan pastinya mama kamu tidak akan kesepian lagi dong dengan kehadiran Dion," seloroh Bu Marni.
"Hhmm, mungkin nanti bisa dibicarakan lagi, Bu." Fely benar-benar kehabisan akal di depan mertuanya yang bawel ini.
"Eh iya, uang amplop mana? Kok ibu nggak lihat sejak kemarin ya?" Fely memutar bola matanya malas.
"Besok mama kesini, Bu. Mengantarkan uang itu, sekalian aku melunasi semua biaya pesta yang masih tertunggak." Sahut Fely.
"Lagian kenapa harus ditaruh di Mama kamu sih? Itu semua kan juga ada uangnya Dion.
Seharusnya kalian berdua lah yang memegangnya, bukan malah orang tua kamu. Atau nggak, ibu gitu. yang megang uang amplop itu," cerocos Bu Marni terus-menerus.
...****************...
Pagi harinya, Bu Marni sekeluarga telah berkumpul di ruang makannya. Kebetulan hari ini Dion gajian. Agak terasa lega nafas Dion, setelah berhari-hari membuang uang yang cukup banyak untuk biaya pesta pernikahan yang hanya dilakukan dalam satu hari.
"Kamu hari ini gajian kan, Dion? Jangan lupa ya jatah ibu. Kalau uang amplop ada lebihnya, tolong kasih ibu juga sedikit," bola mmata Fely membulat. Dia baru tau kalau karakter ibu mertuanya seperti ini.
"Iya bu. Nanti aku pikirkan lagi." Dion menjawab singkat. Tubuhnya mendadak lemas. Karena pusing memikirkan semua tagihan yang belum juga dibayarkan. Bu Marni berdecak kesal.
"Mama mu kesini jam berapa, Fel? Katanya mau nganterin uang amplop?"
"Mungkin nanti siang, Bu. Aku berangkat dulu, Mas. Kamu mau bareng nggak? Mobil kamu hari ini datang kan, Mas? Jangan lupa ingatkan Mas Rino," Fely beranjak dari tempat duduknya sekalian mengingatkan Dion tentang mobilnya yang sudah hampir seminggu dipinjam oleh Rino.
Mulut Bu Marni hanya komat-kamit saja, melihat kelakuan menantunya yang ternyata tak sebaik dengan yang dia pikirkan.
...****************...
Hari ini Kenzo dan Bu Zoya akan ke rumah Rasti. Dia ingin melihat kondisi Della.
Tapi Bu Zoya masih pergi, dan terpaksa Kenzo pun harus menunggu mamanya.
"Kamu mau kemana, Ken? Sibuk sekali sepertinya?" Tegur Casie--kakak sepupu Kenzo.
__ADS_1
"Oh, aku mau ke rumah Rasti, Kak. Kamu mau ikut?" Casie langsung menggeleng.
"Padahal hari ini, Sherin mau kesini loh? Dia kangen katanya sama kamu.
"Aku tak ada waktu!" jawab Kenzo.
"Tolonglah beri dia sedikit waktu, mungkin ada hal yang belum selesai antara kalian!"
"Tidak! Dan berhenti memaksa aku untuk menemui dia. Jangan ikut campur dalam kehidupanku Casie!" Kenzo menyebut Casie dengan namanya. Membuat Casie kesal dan menuju kamar.
...****************...
"Dion! Sampai kapan kalian akan tinggal di sini?" tanya Bu Marni.
"Bukannya, kalian mau tinggal di rumahnya, Fely?" cecarnya.
"Nanti, pelan-pelan kita melakukan rencana ini. Ibu jaga rahasiaku ya!" pinta Dion.
"Aman! Oh ya Della udah ketemu. Siapa yang nyulik dia?"
"Enggak tahu Bu, kita belum tahu siapa yang melakukan penculikan itu!" jelas Dion.
"Halah diculik segala, semenjak istrimu itu dekat sama si Kenzo. Ibu rasa Rasti itu semakin sok manja cari perhatian, bisa aja itu cuma akal-akalannya Rasti. Biar dia dapat perhatian dari Kenzo, si Rasti itu haus perhatian dari lelaki!" cerca Bu Marni.
"Aku tahu ibu itu benci dengan Rasti, tapi tidak mungkin lah Rasti merencanakan penculikan anak kami, sendiri. Rasti itu sayang sama Della!" Dion tak setuju kali ini.
Bu Marni memutar bola mata malas.
Fely berjalan ke arah mereka, yang sedang duduk di ruang tengah. Dan kini ia duduk di sebelah Dion.
Bu Marni menatap Fely sekilas.
"Dion, kamu kan minggu depan udah gajian, kartu ATM kamu. Ibu aja yang pegang, biar gampang Ibu ngaturnya nanti. Apalagi, kalian kan tinggal di sini, jadi biar semua biaya ibu yang mengatur!" ucap Bu Marni. Dia takut jika Dion di kuasai oleh istri barunya.
"Oke bu!" Dion mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya, ia memberikan kartu ATM itu pada Bu Marni tanpa ragu.
"Mas?" lirih Fely.
"Nah gini, nanti ibu kan gampang ngambil uangnya. Untuk cicilan yang harus kamu bayar, catat aja, biar Ibu sisihkan!" ujar Bu Marni tersenyum akan mendapatkan uang puluhan juta tiap bulan.
"Gak bisa ini, Mas takutnya Ibu nanti tidak tahu pengeluaran kita!" ucap Fely tidak terima.
"Aku percaya sama Ibu, takut nanti kamu gak bisa ngatur keuangan. Lagian kamu kan juga gajian setiap bulan!" tukas Dion.
Fely cemberut. Apa-apaan Dion tak kompromi dengannya dan sangat pelit.
Ponsel Dion berdering. Panggilan dari Sinta.
Tak lama Dion mengangkatnya. Entah mau apa Sinta menelpon.
"Halo Dion, mobilmu yang di rental oleh temannya Mas Rino itu, sebenarnya tidak direntalkan oleh Mas Rino. Dia itu menjual mobilmu pada temannya, seperti orang yang suka menampung mobil curian!" ujar Sinta dengan suara agak berbisik.
__ADS_1
"Maksud Mbak, apa?" tanya Dion.
"Seperti yang Mbak, jelas kan. Mbak kasihan padamu Dion, karena telah ditipu sama Mas Rino. Dan Mbak bilang ini semua, karena mas Rino menjadikan Mbak sebagai alasannya. Mbak sama sekali tidak menikmati uang penjualan mobilmu, jadi mobilmu itu tidak akan kembali karena sudah dijual pada penadah!" jelas Sinta.