Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Gita hamil?


__ADS_3

Marni memfokuskan pandangannya, ketika sudah menggunakan kacamata. Ia melihat foto Rasti bersama Della. Yang sedang makan malam, bersama dengan Kenzo beserta Bu Zoya.


"Kamu yakin, ini Rasti?" tanya Bu Marni. Walaupun ia juga bisa melihat Rasti cukup jelas. Hanya saja hatinya tidak terima, dengan kedekatan Rasti dengan Kenzo.


"Yakin dong Bu, enggak mungkin aku salah lihat!" ujar Gita.


Dia baru saja melaporkan pada ibunya, jika bertemu dengan Rasti yang sedang makan malam dengan Dion.


"Aduh ini sulit ibu terima, masa pria ganteng, kaya raya. Suka dengan Rasti sih! Main dukun si Rasti, apa ya, Git?" ujar Bu Marni.


"Mungkin Bu, dia pakai pelet. Aku juga ngerasa aneh, Mbak Rasti kan sudah emak-emak!"


"Tapi sekarang banyak loh, bujang nikah sama janda. Aneh memang selera mereka!" cerca Bu Marni dan menghujat status Rasti.


"Lagian Mbak Rasti bilang Mas Dion selingkuh, sampai Mas Dion di denda. Tapi dia sendiri, jalan sama pria lain. Sebelum resmi bercerai!" ucap Gita menghakimi Rasti. Yang tidak tahu bagaimana kenyataan yang sebenarnya.


"Ibu yakin, mereka gak akan menikah. Tidak mungkin mereka punya hubungan! Jika sampai mereka menikah, ibu Berani bertaruh, potong lidah Ibu!" ucap Marni sesumbar.


Gita tercengang mendengar ucapan ibunya.


***


(1 bulan berlalu..)


Aku mau pernikahan kita itu dilakukan di bawah Ballroom hotel Mas.


"Aku sudah booking tanggalnya, dan kita dapat di tanggal 24. 1 bulan lagi persiapan pernikahan kita, harus sudah matang!"


"Ini termasuk sudah serba cepat, karena persiapan pernikahan jika ingin sempurna, harus di siapkan 6 bulan sebelum resepsi. Aku juga sudah memesan catering yang paling bagus, gaun pada designer dan juga W.O yang terkenal di kota ini!" ocehan Fely membuat Dion semakin pusing.


Baru saja 4 hari yang lalu, ia menerima surat dari pengadilan agama. Jika Rasti sudah menggugat dirinya, dan besok adalah jadwal untuk sidang pertama mereka.


"Mas, kenapa kamu bengong sih. Kamu denger nggak sih apa yang aku bilang? Sepertinya kamu tidak antusias dengan persiapan pernikahan kita, aku saja yang membayangkannya sudah bahagia. Tapi beda denganmu!" ujar Fely kesal, dan cemberut karena Dion belum merespon apapun, yang ia katakan.


Padahal Fely sudah merencanakan resepsi, pernikahan yang begitu mewah di sebuah ballroom hotel. Dan juga ia sudah membayangkan,menggunakan gaun putih yang cantik.


"Aku juga sudah punya pilihan cincin berlian, yang nanti akan aku kenakan ketika kita menikah. Bagaimana ini Mas, menurutmu?" Fely menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan gambar cincin berlian, beserta harganya.


"Cuma 150 juta, Mas. Tidak terlalu mahal. Aku yakin kamu pasti sanggup!" ujarnya dan kembali tersenyum karena senang dengan model cincin itu.


Dion memijit pelipisnya.

__ADS_1


"Aku pusing dengan semua rencanamu, dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu. Belum lagi biaya sewa, kamu pikir ballroom hotel itu tidak mahal. Aku bukan Sultan Fely, aku hanya manajer di sebuah perusahaan. Gajiku tidak sampai ratusan juta!" ujar Dion dengan suara agak keras sehingga mengundang perhatian, pengunjung lain di cafe itu..


Mereka sedang makan siang bersama. Saat jam istirahat kantor.


Fely menggeram karena melihat respon Dion yang justru, marah pada dirinya.


"Setidaknya kamu bisa kan mengusahakan demi aku, kan aku juga sudah bilang jika rencana pernikahan kita juga biayanya patungan. Separuhnya dariku!" ucap Fely penuh penekanan.


"Tapi aku minta kamu yang membelikan cincin berlian ini, aku akan menambah 200 juta. Bagaimana?"


Kepala Dion tetap saja berdenyut sakit, karena biaya pernikahan itu lebih mungkin 500 juta jika di hitung.


"Aku pikirkan nanti!" jawab Dion.


Fely bersungut-sungut karena Dion belum memberi jawaban, pasti.


...****************...


Dion berpikir untuk bagaimana menuruti permintaan Fely. Yang ingin resepsi mewah.


Akhirnya Dion melakukan cara terakhir baginya. Dion menghubungi Rasti. Ia ingin menanyakan tentang sertifikat rumah yang tidak ada ia temukan.


"Halo Rasti! Apakah kamu yang membawa sertifikat rumah?" tanya Dion to the points.


"Oke, baiklah aku akan setuju dengan permintaanmu. Tapi kamu tidak perlu menuntut harta gono gini, lebih baik kita menjualnya bersama. Dan aku setuju jika harus membagi hasilnya berdua denganmu, ketika pembelinya nanti membayar. Kamu bisa ikut denganku!"


Rasti paham akan maksud Dion.


"Baiklah, jika begitu. Aku setuju selama kamu menepati omongan!"


"Aku hanya tidak mau, jika nanti urusannya menjadi panjang dibawa ke pengadilan," ucap Dion. Dirinya ingin menjual saja dan membaginya dengan Rasti. Tanpa harus di tuntut saat persidangan. Dan Dion yakin itu akan panjang urusan. Sedangkan dirinya butuh dana cepat.


Pintu terdengar diketuk, sudah malam seperti ini Dion hanya sendirian di rumah.


Dion menuju ruang depan, ia membuka pintu.


Pintu terbuka sudah berdiri Sinta di depan rumahnya.


"Mbak Sinta!" ujar Dion ketika melihat Sinta yang datang.


"Dion, Mbak ada bawa makanan nih untuk kamu

__ADS_1


Pasti kamu sering membeli makanan ya sekarang, karena tidak ada yang masakin lagi!" ujar Sinta dan nyelonong masuk begitu saja.


Padahal Dion belum saja mengizinkan ia masuk.


"Kamu makan, ya. Mbak siapin!" ucap Sinta yang sudah berada di dapur dan meletakkan makan itu di meja makan.


"Makasih Mbak, tapi Mbak taruh aja di meja situ. Aku bisa memakannya sendiri," ucap Dion.


"Kenapa, Mbak mau kok nemenin kamu makan, kamu pasti kesepian di rumah ini. Mbak juga mau menemani kamu malam ini." tukas Sinta dan berjalan mendekati Dion.


Sinta membuka outer yang ia kenakan. Dan hanya menggunakan tank top berwarna hitam.


"Jika kamu merasa butuh kehangatan, Mbak siap!" ujar Sinta.


Dion bergidik ngeri melihat kakak iparnya itu. Dia sama sekali tidak tertarik pada Sinta.


"Kamu jangan menolak Mbak, terus Dion. Mbak mau kok jadi selingkuhanmu, walaupun kamu akan menikah dengan Fely. Sekedar kita berbagi kesenangan!" ucap Sinta dan tubuh Dion.


******


Gita merasakan badannya tidak enak. Dan pagi tadi mual-mual.


Bahkan Gita merasakan sensitif pada bau-bau tertentu.


"Kenapa keadaanku seperti ini, ya?" gumam Gita dia bercermin, melihat tubuhnya. Wajahnya terlihat pucat.


"Aku sakit apa?" tanya Gita pada dirinya sendiri.


Dan ia mengingat jika belum mendapatkan haid pada bulan ini.


"Apa aku hamil?" gumam Gita kembali karena saat itu dia pernah tidur lagi bersama Bagas. Untuk kedua kalinya.


Gita yang mulai khawatir, meraih ponselnya yang ada di atas meja rias. Jari Gita mencari nomor Bagas.


Sudah 4 hari ini dia tidak bisa berkomunikasi, dengan pacarnya itu. Nomor Bagas tidak aktif saat dikirim pesan, masih saja centang satu.


Ketika Gita menghubungi nomornya, sama saja tidak aktif.


"Apa aku harus ke rumah Mas Bagas, untuk mencarinya. Tapi aku harus membeli tespek terlebih dahulu, untuk memastikan jika aku hamil atau tidak!" Gita berjalan mundur dan duduk di bibir ranjang.


"Aduh aku takut, jika aku beneran hamil. Apa kata ibu. Dia bisa marah dan mengutukku, bagaimana caraku untuk menghadapi ini, nanti Ibu mengutuk aku menjadi batu, tidak!" Gita menggeleng dan ngeri membayangkan semua itu.

__ADS_1


Ia tahu betul. Bagaimana ibunya marah jika tahu dirinya hamil duluan.


__ADS_2