Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Kabar burung


__ADS_3

"Udahlah Sayang. Kamu nggak usah bahas mereka lagi. Lebih baik kita fokus sama rencana pernikahan kita aja," Fely mendecakkan bibirnya. Kesal.


Fely langsung berjalan menuju ke mobil dengan langkah terburu-buru. Dan Dion pun langsung menyusulnya menuju ke arah mobil.


Sesampainya di mobil, Dion mengelus lembut pipi Fely, tapi ditepis oleh Fely.


Hati Fely memang terasa panas sekali. Terutama saat melihat Kenzo, lelaki yang sudah lama dia sukainya, tapi malah menjalin hubungan dengan wanita yang benar-benar ada mantan istri dari pacarnya.


"Jadi gimana rencana persiapan nikah kita? Pokoknya aku mau sesuai yang aku impikan! Aku pengen nikah di hotel mewah, bulan madu ke Bali minimal, terus naik kapal pesiar." Dion langsung meremas kasar rambutnya. Kepalanya mendadak pusing tujuh keliling.


Boro-boro mau memikirkan pernikahan mewah sesuai impiam Fely. Untuk membayar cicilan saja sudah sukses membuat kepala Dion cukup cenat-cenut.


Ditambah lagi dia harus memberikan jatah pada ibu dan juga Adiknya.


"Sayang! Kok kamu diem aja sih! Sebel deh!" Rajuk Fely lagi.


"Udah, kita pikirkan nanti ya? Surat cerai aku aja belum turun."


Fely hanya terdiam kesal. Bibirnya sudah panjang hampir lima centi.


...****************...


Kini, Rasti dan Kenzo sudah sama-sama di dalam mobil yang sama. Mereka berdua sama-sama terdiam. Tak ada yang mau memulai untuk berbiacara.


Saat sedang di perjalanan, tiba-tiba ponsel Kenzo berbunyi.


Dan terpaksa Kenzo memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Dan dia pun segera mengangkat ponselnya. Ternyata telepon dari Bu Zoya.


[Hallo, sayang. Kamu lagi dimana?]


"Aku lagi pergi, Mah, sama Rasti." Jawab Kenzo, sambil melirik Rasti. Sedangkan Rasti hanya terdiam gugup. Ada hal juga yang ingin dia sampaikan pada Kenzo.


[Wahhh... syukurlah, kalau Rasti sudah berhasil membuka hatimu.] Kenzo hanya menunduk saja. Bingung bagaimana ingin menjelaskan pada Mamanya.


"Ada apa, Mah?"


[Ya ampun, mama sampai lupa kan! Mama mau minta tolong sama kamu. Tolong kamu jemput Kakak sepupumu di Bandara.


Karena sebentar lagi dia akan sampai di Indonesia.]


"Kak Casie? Dia kesini?" Tanya Kenzo bingung.


[Iya sayang. Pak Ahmad hari ini tidak masuk, karena istrinya lahiran kan. Jadi mama mau minta tolong kamu aja ya? Kamu mau kan? Sekalian ajak Rasti untuk berkenalan dengan Casie itu.]


"Baik, Mah. Aku akan berangkat sekarang,"

__ADS_1


[Ok sayang. Terimakasih ya? Salam untuk Rasti, calon mantu mama. Semoga kalian cepat menikah.] Ucap Bu Zoya penuh harap. Karena kini dia sudah tau status Rasti dari Bu Elena. Dan dia sangat berharap kalau Rasti bisa menjadi menantunya.


"Amin." Sahut Kenzo pelan. Hatinya masih ragu dengan semua yang terjadi saat ini. Karena dia sendiri juga tak menyangka akan seperti ini.


Selesai menelpon dengan Bu Zoya, Kenzo pun langsung menatap ke arah Rasti, lalu tersenyum tipis. Sikap Kenzo sukses membuat jantung Rasti berdebar kencang.


"Ehem. Kamu bisa bicara, kan?" Tegur Kenzo datar.


"Maksud kamu apa? Memangnya aku bisu?" Sahut Rasti sinis.


"Lagian, daritadi diem aja. Kirain aku, kamu nggak bisa bicara," mata Rasti membulat, mempelototi Kenzo.


"Oh iya, kita langsung ke Bandara ya? Aku mau jemput kakakku dulu. Kalau aku mengantarkan kamu ke rumah dulu, nggak akan cukup waktunya," ujar Kenzo akan menjemput kakak sepupu nya.


"Aku turun disini saja. Oh iya, kalau bisa di dekat siapapun, tolong kamu nggak usah asal rangkul ya? Karena aku risih."


Rasti bersiap, dan akan segera turun. Tapi dengan cepat, Kenzo mengambil tisue, lalu memegang tangan Rasti dengan tisue. Berusaha mencegah Rasti untuk turun dari mobil.


"Jangan turun. Kamu mau kalau aku dimarahin sama mama?" Rasti berfikir sejenak.


"Terus ngapain kamu pegang tangan aku pakai tisue?" Kenzo refleks membuang tisuenya.


"Kan bukan muhrim." Rasti langsung menggelengkan kepalanya. Dan beralih lagi ke tempat "Terimakasih." Ucap Kenzo.


Namun tak dibalas oleh Rasti. Karena Rasti tau, tipe lelaki seperti Kenzo, memang harus tak usah banyak bicara. Karena kalau kita banyak bicara, pasti Kenzo yang akan diam.


...****************...


Sekitar 30 menit di perjalanan, dan akhirnya sampai juga Kenzo dan Rasti di Bandara.


Tak lama kemudian, Kenzo pun sudah melihat Casie yang sedang keluar dari pintu arah depan.


"Kak Casie!" Panggil Kenzo. Dan Casie pun langsung menoleh ke arahnya. Lalu tersenyum senang.


Tak berapa lama, Casie sudah sampai di dekat Kenzo dan Casie pun langsung memeluk Kenzo. Dia sangat rindu pada Kenzo. Karena memang jarang sekali bertemu.


"Ya ampun! Kamu udah besar sekali adik gantengku! Nggak nyangka ih, sekarang udah sebesar ini. Dulu masih imut-imut, sekarang udah mau menikah. Oh iya, katanya Sherin juga udah pulang kesini loh," cerocos Chasie, tanpa mau memberikan celah untuk Kenzo berbicara.


"Aku juga kangen sama kakak. Oh iya, kenalkan, ini Rasti, calon istri aku," ujar Kenzo. Mata Chasie sontak membulat saat melihat Rasti yang sedari tadi memang sudah berdiri disamping Kenzo, namun dia tak sadar kalau wanita. tersebut adalah calon dari adiknya.


Dengan perasaan malas, Chasie pun langsung mengulurkan tangannya pada Rasti.


"Chasie." Ucapnya datar. Menjabat tangan Rasti agak malas.


"Rasti." Ucap Rasti sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kakak nggak nyangka, kalau kamu bakal punya selera seperti ini. Biasanya seleramu cewek ***** seperti Sherin," ujar Chasie pada Kenzo, tatapannya juga seperti menjatuhkan Rasti.


"Semua orang bisa berubah kak, termasuk berubah dalam hal sudut pandang." Sahut Kenzo malas. Dia yakin, pasti kakaknya itu tak akan terima kalau dia mempunyai calon istri yang tertutup auratnya seperti Rasti.


Setelah berbincang-bincang sebentar, Chasie pun langsung berjalan duluan, tanpa menengok lagi ke arah Kenzo dan juga Rasti yang berjalan di belakangnya. Mereka berjalan menuju ke arah parkiran.


...****************...


"Kamu dari mana aja, Mas! Sibuk terus, tapi hasil dikit!" Cerca Sinta. Saat Rino baru saja pulang entah dari mana.


"Bawel kamu! Aku itu cari uang, untuk biaya hidup kita," sahut Rino tak senang.


"Mana hasilnya? Zonk kan! Kamu itu sbeenarnya tiap hari kemana sih, Mas? Aku capek sama sikap kamu yang seperti ini!" Tanya Sinta lagi.


"Kan sudah aku bilang, kalau aku itu cari uang! Kenapa nanya terus sih?"


"Kamu bohong! Kemarin Bu Tuti bilang, kalau dia lihat kamu sedang jalan dengan seseorang yang sudah seperti tante-tante. Dia siapa, Mas?" Rino mengacak rambutnya. Kesal dengan pertanyaan Sinta.


"Mungkin dia salah orang! Mana mungkin aku jalan sama tante-tante," Rino berusaha mengelak.


"Jujur saja lah, Mas! Kamu selingkuh kan? Sudah miskin, selingkuh pula!" Cerca Sinta tak terima, kalau dirinya diselingkuhi oleh Rino. Sedangkan dia sendiri juga ingin sekali berselingkuh dengan Dion.


Plaakk!!! Tamparan pun mendarat dengan sempurna di pipi Sinta. Rino benar-benar naik pitam dengan perkataan Sinta barusan.


"Sekali lagi kamu lancang berbicara seperti itu. Aku pastikan nyawamu akan melayang!" Ancam Rino seenaknya. Merasa menjadi manusia paling kuat.


Sinta tak membalas ucapan Rino lagi. Dia hanya bisa menangis sesenggukan. Meratapi nasibnya yang tak beruntung. Sudahlah mempunyai suami yang pas-pasan, dan selalu bergantung pada adiknya. Dan sekarang malah selingkuh dengan perempuan lain.


...****************...


"Bu Marni, kemarin saya lihat si Rino sedang jalan sama tante-tante loh," tegur Bu Tuti. Saat mereka sedang sibuk memilih-milih sayur.


"Sama siapa ya?" "Nggak tau deh. Yang jelas, saya lihat Rino sedang turun dari mobil, lalu si perempuan tua itu keluar dari mobil dan merekapun saling bermesraan. Sepertinya perempuan itu janda kaya, Bu," mata Bu Marni melotot saat mendengar penjelasan Bu Tuti.


Bu Marni tak menanggapinya lagi. Dan langsung buru-buru pulang untuk meminta penjelasan Rino.


"Rino, ibu mau nanya. Kata Bu Tuti, kamu jalan ya sama janda kaya? Karena Bu Tuti melihat kamu turun dari mobil," cecar Bu Marni tak sabar. Padahal Rino sedang asyik makan. Dan Sinta sedang mengurung diri di kamarnya.


"Memangnya kenapa, Bu? Ibu setuju kalau aku sama Siska?" Jawabnya santai. Tak ada rasa bersalah sedikitpun, karena telah menyelingkuhi Sinta.


"Beneran dia janda kaya, Rin?" Mata Bu Marni berbinar-binar saat mendengar kata 'kaya'.


"Dia memang janda kaya, Bu. Tepatnya janda kesepian. Dan aku ingin menemaninya. Kemarin saja aku pergi ke rumahnya, Bu. Dan rumahnya besar sekali," sahut Riono lagi. Mata Bu Marni semakin terbuka lebar dan hampir keluar.


"Wahh? Terus kamu mau menikah dengan dia? Ibu ajak dong ketemu sama dia?" Ucap Bu Marni dengan semangat.

__ADS_1


"Iya nanti." Rino hanya menanggapi dengan santai. Berbeda dengan Bu Marni yang sangat kegirangan saat mendengar pacar Rino yang ternyata orang kaya.


__ADS_2