
"Apa mereka kemari, dan jadi pembantu ya? Pasti mereka tahu di mana Rasti, kasihan banget jadi pembantu!" ucap Bu Marni yang mendengar kabar ini.
"Nggak tau Bu, yang jelas aku melihat mereka masuk ke dalam rumah mewah itu."
"Kamu antar ibu sekarang, Sin. Ibu penasaran, dan ibu mau memastikan bemar atau tidak kalau itu adalah orang tuanya Rasti." Lalu merekapun pergi bersama.
Padahal Bu Marni masih merasa kesal dengan Sinta. Begitu juga dengan Sinta yang sudah tumbuh rasa benci di hatinya pada Bu Marni.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah sampai di depan komplek perumahan elit tersebut. Namun terhalang masuk, karena dihadang oleh security.
"Saya itu mau ketemu sama keluarga saya didalam, Pak! Masa nggak boleh, sih?" Cerca Bu Marni kesal.
"Saya ngerti, Bu. Tapi kan dari tadi saya tanya. Nama keluarga ibu siapa? Apa sudah janjian terlebih dahulu? Karena kalau yang mau masuk sini harus membuat janji terlebih dahulu oleh yang punya rumah. Karena jaman sekarang ini banyak penipuan, Bu. Bisa aja kan, ibu pura-pura punya saudara disini, tapi nyatanya ibu berbohong," mata Bu Marni dan Sinta langsung melotot, saat security komplek tersebut, berkata seperti itu.
"Yang sopan sedikit, Pak, kalau ngomong! Kamu itu cuma security komplek tau nggak! Kok gayanya sudah tinggi sekali! Asal bapak tau ya, anak saya itu manager! Manager di perusahaan besar. Mungkin gaji bapak nggak ada separuhnya kalau kalau dibandingkan sama anak saya!" Hardik Bu Marni lagi. Kali ini berusaha menyombongkan Dion. Sinta yang sedari tadi hanya bisa terdiam, karena dia juga bingung mau beralasan apa, agar bisa masuk ke dalam komplek perumahan mewah ini.
"Ya terserah. Saya nggak peduli, Bu. Mau anak ibu presiden sekalipun, saya cuma menjalankan tugas di sini. Saya kan cuma bertanya, Ibu mau bertemu siapa? Nama saudara ibu yang jadi penghuni Komplek di sini siapa? Ibu sudah berbuat janji atau belum dengan penghuni yang akan Ibu temui? Kan simple. Karena kalau itu semua tidak bisa Ibu jawab, ya Ibu tidak bisa masuk. Terserah kalau Ibu mau marah-marah sama saya. Saya nggak peduli. Sudahlah lebih baik Ibu pergi saja dari sini. Ibu tanyakan terlebih dulu pada salah satu anggota keluarga ibu, agar bisa saya bolehkan masuk ke dalam komplek ini." Ucap Pak security yang masih keukeh dengan pendiriannya.
"Aarrrgghh! Awas kamu ya! Kamu tuh udah menghalangi tujuan saya tahu nggak! Semoga saja besok-besok kamu dipecat, biar tahu rasa kamu!" Lalu Bu Marni pun berjalan menuju ke arah motornya Sinta dengan menghentak-hentakkan kakinya. Dan mau tak mau mereka pun akhirnya harus mengurungkan niatnya. Karena memang tak bisa masuk sembarangan ke dalam komplek itu, jika tak ada jawaban yang detail.
Pak security komplek tersebut, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena bertemu dengan manusia sombong dan juga aneh.
Tiba-tiba pagar terbuka. Ada mobil yang keluar dari dan melaju pergi. Mereka tak bisa melihat dengan jelas, siapa yang di dalam mobil.
Seorang perempuan yang mungkin berusia 30 tahunan. Menutup kembali pagar rumah.
"Itu pembantu? Kenapa bukan orangtua Rasti?" gumam Sinta.
Bu Marni dan Sinta sudah kembali ke rumahnya lagi. Bu Marni lupa kalau dia belum berbelanja sayur. Padahal Dion sudah menunggu dari tadi dengan perut yang keroncongan.
"Lama sekali sih, Bu, perginya. Lalu mana makanannya atau sayur-sayurannya?" Tanya Dion tak sabar, saat Bu Marni sudah masuk ke dalam rumahnya, bersama dengan Sinta.
"Duh, Dion! Ibu ini tuh memang belum membeli sayur. Kan kamu tau, kalau ibu ini tuh habis mencari tahu keberadaan orang tua Rasti. Sinta bilang kan, tadi lihat mereka di komplek tersebut. Nah, ibu jadi penasaran dong. Tapi ibu malah bertemu dengan satpam komplek yang ribet dan juga sombong. Huft!" Sahut Bu Marni kesal. Dia menghembuskan nafas gusar.
"Sudahlah Bu, Lagipula mungkin aja Kak Sinta salah lihat. Aku udah kelaperan nih, karena nunggu ibu yang kelamaan. Mending ibu beli lauk matang saja deh, daripada harus masak lagi, kelamaan," perintah Dion tak sabar.
__ADS_1
"Tapi aku nggak salah lihat kok. Orang itu bener ibunya Rasti. Mata aku kan belum minus, nggak mungkin juga aku salah lihat." Kini Sinta ikut angkat bicara,membela dirinya. Dia tak mau dibilang halu oleh Dion.
"Mbak Sinta tu mengarang saja!" seloroh Dion.
"Mbak benar kok, oiya Dion. Kamu mau menceraikan Rasti, dan menikah dengan Fely?"
"Kenapa, Mbak?" tanya Dion yang risih di tanya oleh Sinta. Karena dia tahu Sinta itu menyukai dirinya.
"Memang kamu yakin, Fely itu bisa jadi istri yang baik. Cari istri yang pinter masak Dion, dan lebih banyak di rumah. Agar maksimal melayani suami, contohnya seperti Mbak ini!" ucap Sinta dan tersenyum.
Dion tak menanggapi dan ngeloyor pergi ke ruang tengah.
"Ishh... Kenapa sih dia gak tertarik padaku? Tunggu ya Dion, Mbak akan cari cara untuk memikatmu!" ucap Sinta.
Semenjak Rasti pergi dari rumah Dion. Kini dia tinggal di salah satu rumah milik Bu Elena.
Bu Elena yang menwarkannya sebuah rumah cluster di salah satu daerah elit. Kejadian malam itu yang membuat Bu Elena menawarkan pada Rasti. Karena jika membeli uang Rasti tidak cukup. Sebenarnya Rasti sungkan, tapi Bu Elena memaksa. Karena ia sangat menyukai Rasti dan menganggap seperti anaknya sendiri.
"Wajah kamu itu hampir mirip, dengan anak Ibu. Yang meninggal 4 tahun lalu. Namanya Leticia. Dia dulu kuliah di London. Dan jarang di Indonesia, tapi Leticia menderita leukimia, dan meninggal karena penyakit itu," ujar Bu Elena sendu.
Leticia yang telah tiada.
Rasti ikut sedih, dan tahu alasan kenapa Bu Elena baik padanya. Saat mereka pertama kali dekat dan saling berbincang.
Apalagi Orangtua Rasti saat itu akan datang. Ke rumah Dion. Tapi akibat di permalukan Rasti pergi dari rumah sang suami.
Karena rumah yang Rasti idamkan, belum ada yang cocok. Sedangkan rumah Bu Elena yang dekat dengan rumah Bu Marni, sudah ada yang membelinya.
Rasti juga membawa kedua orangtuanya untuk ikut tinggal bersamanya. Karena setelah semua urusan perceraian beres. Dia akan pindah ke rumahnya sendiri.
Semua uang hasil penjualan lahan bapaknya di kampung. Akan Rasti gunakan untuk menambah modal usaha dan membesarkannya. Salah satunya yaitu menjadi investor di klinik kecantikan milik Bu Elena.
"Ras, hari ini kamu ikut ibu ke salon ya? Kita harus mengunjungi kesana. Ibu sekalian ingin mengecek pekerjaan para karyawan disana," perintah Bu Elena, saat dia sudah sampai di rumah Rasti.
"Baik, Bu." Lalu dia pun langsung bersiap untuk pergi ke klinik kecantikan tersebut.
__ADS_1
Fely terus menangis seharian di dalam kamarnya. Hatinya benar-benar hancur, saat dia tau kalau dia bukan anak kandung dari Tuan Ferdinand dan Nyonya Carol.
Dia benar-benar tak menyangka kalau jalan hidupnya akan seperti ini.
Orang tua angkatnya yang kini hampir bangkrut dan juga dirinya yang bukan anak kandung.
Seharian Fely hingga siang dia mengurung diri di kamar.
Fely merasa lapar dan berniat pergi ke dapur. Saat menuju dapur, ia berpapasan dengan Carol sang Mama.
"Mama," ucap Fely melihat mata Mamanya sembab.
"Fely, Mama minta kamu bisa mandiri,"
"Maksud, Mama?" tanya Fely.
"Kamu jangan bergantung pada Mama dan Papa lagi, karena-" belum selesai Carol bicara. Fely sudah tidak tahan untuk menangis dan pergi ke kamarnya kembali.
Dia sakit mendengar perkataan Carol. Apakah artinya dia akan di buang oleh orang tuanya.
Akhirnya Fely kembali ke kamar dan memutuskan untuk memesan, makanan online.
***
Keesokan hari..
Ddrttt... ddrrtt...
Dilirik ponselnya yang berada di sebelahnya. Ternyata telepon dari atasannya. Atasan Fely menyuruh Fely untuk ikut meeting penting siang nanti, bersama dengan Kenzo dan yang lainnya.
Hampir saja ia telat ke kantor, saat Fely melihat jam sudah menunjukkan pukul 7. Seharian di kamar hingga pagi lagi. Membuat badan Fely terasa pegal-pegal.
Buru-buru Fely mandi dan bersiap-siap. Dia sangat semangat kalau ada urusan meeting dengan Kenzo. Karena memang sudah lama Fely sangat mengagumi Kenzo, tapi tak pernah digubris sama sekali oleh pria itu.
"Aku harus berpenampilan menarik dan cantik hari ini!" tukasnya dan menyambar handuk menuju kamar mandi.
__ADS_1
****