
Saat Bu Marni sedang asyik berkumpul bersama dengan para ibu-ibu yang lainnya. Tak disangka manik matanya melihat sosok yang tak asing lagi. Dan sontak saja dia pun langsung terkejut, karena Rasti juga berada di acara ini.
"Rasti! Ngapain dia disini?" Gumam Bu Marni kesal.
Rasti kini sedang beramah-tamah pada semua Ibu-ibu yang sudah hadir di acara itu. Tampakk dia sedang berbincang pada salah seorang ibu paruh baya dan terkenal paling kaya di kampung ini.
Mata Bu Marni terus saja memperhatikan gerak-gerik menantunya itu dari kejauhan. Hatinya dipenuhi emosi, karena dia merasa Rasti sudah bertingkah melebihi batas. Padahal selama ini dia tidak pernah ikut arisan, dan hanya diwakili oleh Bu Marni saja.
Apalagi kini si Rasti malah terlihat sedang berbincang-bincang dengan orang terkaya di daerah sini, seakan mereka sudah akrab sekali. Tentu saja hal itu membuat Bu Marni semakin panas hatinya.
Karena sudah tak sabar lagi dan emosinya pun sudah berada di ubun-ubun akhirnya dia berjalan menghampiri menantunya dan langsung saja memarahi Rasti tanpa aba-aba.
"Rasti! Ngapain kamu di sini? ini tuh acara penting! Kamu nggak layak untuk ikut di acara ini. Kan setiap bulannya sudah ibu yang wakilkan, dan kamu nggak pernah ikut juga! tapi kenapa sekarang kamu malah ikut? Lebih baik kamu pulang sekarang!" Hardik Bu Marni sesukanya. Tanpa peduli kalau disitu ada Bu Elena yang kini menatapnya dengan tatapan tajam.
Saat Bu Marni sedang marah-marah pada Rasti, bola mata Bu Marni malah tiba-tiba terfokus ke arah perhiasan yang sedang dipakai Rasti dan semakin panaslah hatinya Bu Marni.
"Eh ibu. Memangnya kenapa kalau aku juga berada disini? Bukannya disini bebas untuk umum? Asal mereka mampu untuk ikutan. Iya kan, Bu?" Sahut Rasti yang nampak santai, dan tak menunjukkan wajah emosi sama sekali.
Karena Rasti juga berusaha untuk menahan amarahnya di depan Bu Elena, seorang pengusaha yang terkenal dan juga memiliki banyak bisnis dimana-mana. Dan melalui Bu Elena jugalah Rasti berhasil membeli rumah mewah itu.
"Hah! Mampu? Kamu aja hidupnya pas-pasan! Bagaimana bisa, kamu bilang kalau kamu mampu ikut arisan besar seperti ini? Udahlah lebih baik kamu pulang sana! Jangan halu!" Teriak Bu Marni lagi, tanpa rasa malu sama sekali.
"Bu Marni Maaf ya, kalau bisa suaranya dipelankan sedikit, karena malu dilihat banyak orang. Bu Marni lihat deh, sekarang semua mata sudah tertuju pada Bu Marni. Oh iya Bu Marni ini mertuanya Rasti kan, ya? Seharusnya ibu sebagai mertua tidak pantas memarahi menantu di depan muka umum seperti ini. Kan bisa dibicarakan baik-baik," kini Bu Elena ikut angkat bicara. Dan berusaha menengahkan perdebatan antara Rasti dan Bu Marni.
"Iya Bu Elena, saya paham tapi saya tuh kesel sama menantu saya ini. Dia itu sok kaya banget orangnya. Padahal dia itu hidupnya itu cuman pas-pasan, nggak usah lah pakai acara ikut arisan-arisan besar seperti ini, cukup saya saja yang mewakilkannya. Ngapain juga dia harus datang ke sini!" Sahut Bu Marni lagi. Berusaha membela dirinya.
"Rasti ini sebenarnya bukan banyak gaya, Bu Marni. Rasti ini memang ikut arisan, karena dia juga mampu kok. Jadi kenapa mesti dipermasalahkan? Oh iya kalau Bu Marni tadi bilang Rasti tidak mampu, berarti memang Rasti tidak dipenuhi dong kecukupannya oleh Dion? Padahal kan Dion itu manager di salah satu perusahaan besar ya? Dan gajinya juga sudah pasti besar. Tapi kenapa ibu bilang kalau Rasti hidupnya pas-pasan? dan saya lihat juga Dion hidupnya enak kok. Tidak susah-susah amat," tutur Bu Elena panjang lebar. Dan sukses membuat Bu Marni jadi skakmat dan merasa sangat malu sekali.
"Iya nih, Bu Marni itu memang selalu seperti itu sama menantunya! Dia juga selalu aja galak sama Rasti! Kasihan kan, Rasti. Rasti juga selalu dibedakan oleh Sinta, padahal Rasti ini istri yang baij dan penurut loh! Tapi kenapa sih Bu Marni sepertinya membenci Rasti?" Kini Bu Nenden, salah satu tetangga Bu Marni turut menimpali dan membela Rasti. Karena dia juga selama ini tidak suka dengan sikap Bu Marni yang seenaknya pada Rasti.
"Loh, kok kamu ikut-ikutan sih? Kenapa kesannya saya jadi dikeroyok gini ya? Lagipula ini tuh urusan saya sama menantu saya. Bukan urusan kamu, Bu Nenden! Udah deh berhenti untuk julid sama saya! Urus aja urusanmu sendiri!" Tampik Bu Marni kesal. Dadanya naik turun, sangking menahan emosi meluap-luap. yang sudah
"Saya sih bukannya pengen ikut campur tapi memang kenyataannya seperti itu. Bu Marni itu seperti tidak suka sama Rasti. Lagi pula benar yang dikatakan Bu Elena, kalau Dion itu kan hidupnya berkecukupan, gajinya juga besar, kerjaannya juga mapan, jadi kenapa Rasti dibilang tidak pantas berada di sini? sangat aneh memang mertua seperti kamu Bu Marni." Sahut Bu Nenden lagi, tak mau kalah. Dan tatapan Bu Nenden yang seolah menjatuhkan harga diri Bu Marni di depan orang banyak.
__ADS_1
"Ah sudahlah! Saya pusing tahu nggak sih! Saya mau pergi aja dari sini. Awas ya kamu Rasti! Ibu akan adukan ke Dion semuanya, atas perbuatan kamu di tempat ini!" Lalu Bu Marni pun langsung pergi dengan terburu-buru karena merasa diserang oleh banyak orang, dan juga banyak ibu-ibu yang meneriakinya. Bu Marni juga tak bisa menjawab pertanyaan semua orang yang barusan bertanya. Oleh karena itu Bu Marni tidak jadi ikut ke acara arisan, dan dia pun langsung pulang ke rumahnya dengan hati yang sangat dongkol dan kesal.
Bu Marni benar-benar merasa telah dipermalukan oleh Rasti. Karena ulah menantunya itu, dia harus menanggung malu.
Bu Marni sangat marah sekali pada Rasti dan ingin memberikan pelajaran pada Rasti.
...****************...
Brakk!!! Sesampainya di rumah Bu Marni langsung membanting pintu rumahnya dengan kesal "Aarrgghhh ...." Bu Marni berteriak sekencang mungkin, sampai Sinta pun yang mendengarnya langsung terkejut. Dengan langkah terseok Shinta pun langsung berjalan ke arah pusat suara dan ternyata suara ibu mertuanya.
"Ada apa sih Bu? kenapa Ibu teriak-teriak gitu? udah kayak di hutan aja!" tegur Sinta penasaran. Bu Marni langsung mencebikkan bibirnya.
"Itu loh si Rasti, dia sekarang ikut acara arisan besar di kampung ini. Kamu tahu kan, kalau arisan itu tuh yang ikut cuma orang-orang yang uangnya banyak. Tapi kenapa dia sekarang malah ikut? Belum lagi tadi ibu lihat dia memakai perhiasan, ada gelang dan cincin yang menghiasi tangannya. Ibu nggak percaya kalau itu semua pemberian dari Dion. Pasti benar kata Gita, kalau dia itu memang menjual diri. Dasar wanita s*al*n! tidak pantas untuk jadi menantuku. Ibu lebih setuju kalau Dion menikah dengan Feli, yang sudah jelas kaya raya dari sananya!" Cerocos Bu Marni yang sedang meluapkan kekesalannya. Emosi yang sudah dia tahan dari tadi. Sedangkan Sinta yang mendengarkan semua ucapan Bu Marni, hanya berdecak sebal.
Dalam hatinya, Sinta merasa cemburu kalau Dion dekat dengan Feli. Karena menurut Sinta, kalau Feli juga tak jauh dari seorang perempuan licik yang sedang memakai topeng.
...****************...
"Bu, minta duit dong! Duit aku udah habis nih," pinta Gita seenaknya. Padahal dia baru saja pulang entah dari mana dan tidak tahu kalau Bu Marni sedang dongkol pada Rasti.
"Ya Kan kemarin udah abis, Bu. Kemarin buat beli buku lah, buat beli ini itulah yang nggak bisa aku jelasin ke ibu. Ah udahlah, aku nanti minta sama Mas Dion aja. Minta sama ibu mah pelit! Bukannya dikasih, yang ada malah di ceramahin!" Gita pun langsung meloyor pergi menuju ke kamarnya dan mengunci pintunya.
"Kesel aku tuh hari ini. Kenapa semuanya pada bikin kesel aja sih! Pokoknya Dion harus tahu kelakuan istrinya saat di arisan tadi." Gerutu Bu Marni, tanpa berniat membalas ucapan Gita.
...****************...
"Bu!" Gita memanggil Ibunya yang sedang di dalam kamar.
"Kenapa!" sahutnya ketus.
"Jangan cemberut terus dong!" ujar Gita.
Ibu sedang menunggu Dion, pulang!" ucapnya.
__ADS_1
"Tapi Mas Dion belum ada kemari, kenapa sih Ibu mengurung diri di kamar. Segitu sebelnya ya sama Mbak Rasti? Itu di luar ada Mbak Fely!"
"Fely?" sahut Bu Marni senang ketika mendengar nama Fely disebut oleh Gita.
"Iya Kak Fely datang, dia banyak bawa makanan dan juga ada kue-kue. Ayo keluar, kita temui dia!"
Dengan semangat Bu Marni turun dari ranjang, untuk segera menemui Fely di ruang tamu.
Fely tersenyum ramah ketika Bu Marni dan Gita menghampirinya.
"Nak Fely, kamu lama ya nunggu, Tante?" tanya Bu Marni dengan ramah.
"Enggak Tante, apa kabar, sehat?" tanya Fely.
"Hanya sedikit tak enak badan, kamu gimana nak sehat?"
"Tante udah periksa? Aku tadi pulang dari kantor terus aku bawain ini buat Tante dan juga Gita," tunjuk Fely pada kantong bawaannya.
"Ya ampun repot-repot sekali, kamu ini," ucap Bu Marni seakan sungkan.
"Aku harap kalian suka," ujar Fely.
"Aku suka banget Kak, ini pasti enak banget. Kakak belinya pasti dari restoran mahal ya makanan, dan kue dari tempat mahal!" ucap Gita dan mengambil bungkusan itu.
Fely hanya mengangguk tersenyum.
"Dion nggak nemenin kamu ke sini?" tanya Bu Marni.
"Katanya Mas Dion, nanti mau nyusul ke sini, dia mau pulang ke rumah terlebih dahulu!" ucap Fely.
"Assalamualaikum..!"
Suara itu berasal dari depan. Mereka serempak menoleh ketika melihat siapa yang datang, dan ikut bergabung.
__ADS_1
"Rasti?" gumam Bu Marni.
"Bu, gimana. Nanti dia tahu?" bisik Gita lirih.