
"Gesya" panggil Rasya dari seberang sana
'Ngapain lagi si tu orang, gak tau kali ya pacarnya udah mau menerkam, cihh' batinku
"Kenapa?" cuekku
"Kenapa kamu sangat cuek Sya, berbeda seperti biasanya"
"Ya aku emang begini orangnya, kamu nilai cuma dari luar aja gak tau dalamku kan?"
"Makanya Sya, aku mau mengenalmu lebih dalam"
"Wtf buat kamu Sya"
"Hehehe eh Sya, nama kita lucu ya. Banyak yang manggil kita Sya, kamu Gesya aku Rasya berasa seperti jodoh"
"Cih ngomong suka seenaknya saja"
"Sya aku mau kita lebih deket dari teman"
"Mimpi"
"Kenapa Sya?"
__ADS_1
"Kenapa? Inget pacar lo Izzy liat sana dia seperti seorang singa menemukan mangsanya dan ingin segera menerkamnya"
"Hahaha kamu cemburu ya?"
"Enggak"
"Dia cuman mantan aku, gak ada hubungan lain lagi. Aku mau deketi siapa aja itu hak aku gak ada urusannya sama dia"
'Gila, kalo gak ada hubungan apa apa kemarin peluk peluk iku tanda apa, mesra mesraan juga apa, dasar playboy kandangan pingin rasa aku tonjok mukanya biar tidak ada yang mau sama dia' batinku
"Oh"
"Sya, aku bener bener gak ada hubungan sama sekali sama dia, kemarin dia habis diputusin pacarnya. Dia butuh teman" jawabnya sepertinya dia bisa membaca fikiranku
"Sya, kamu beneran cemburu ya?"
"Wtf!" aku meninggalkan Rasya dan bergabung kembali di acara reuni.
Tak terasa hari semakin gelap dan acara reuni hampir selesai. Aku mengedarkan mataku dan tak kusangka mataku tertuju pada Rasya, dia sedang mamandangku dari jauh sana. Aku merasa detak jantung berdengup kencang.
Aku semakin merasa bingung dengan hati ini, sebenarnya untuk siapa dia? Kenapa selalu plin plan. Aku takut nanti akan ada hati yang tersakiti jika aku tidak menentukannya. Aku suka perhatian Rasya padaku, meski terkadang aku memberi kesan cuek padanya tapi dia selalu memperhatikanku.
Sepertinya aku juga salah faham dengan dia. Oh Tuhan kenapa aku kau beri hati seperti ini, tidak bisakah aku seberuntung mereka, tidak rumit dalam percintaan.
__ADS_1
Acara reuni sudah selesai aku bersiap pulang, disaat bersamaan Rasya mendekatiku dan menarikku. Aku bingung dengan tingkah Rasya.
"Sya, mau kemana?"
"Sebentar saja Sya, ada yang mau aku omongin sama kamu" dia membawaku kedalam kelas yang sunyi hingga membuatku was was.
"Sya, ka kamu yakin mau bicara disini?" tanyaku dengan ragu
"Iya, kenapa emangnya?" tersenyum licik
"Aku takut Sya" aku mulai gemetaran apalagi ditambah melihat Rasya tersenyum seperti itu.
"Jangan takut ada aku disini" Rasya mulai mendekatiku, aku otomatis mundur hingga punggungku menabrak meja.
"Sya kamu jangan aneh aneh ya, ini udah malem lo"
"Aku gak macem macem kok Sya, kalo kamu nurut sama aku" dia mulai mendekati sehingga membuatku bingung, aku ingin menghindarinya karna dia terlalu menyeramkan. Saat aku ingin berlari dia menarik tangan dan membuatku duduk diatas meja. Wajahnya mulai mendekat diwajahku, bisa kurasakan hembusan nafasnya yang hangat sampai sampai aku tidak sadar bahwa jarak wajahnya sangat dekat dan ada sesuatu yang basah dibibirku. OMG ternyata dia mencium. Awalnya hanya kecupan tapi semakin lama semakin menuntut,
'Oh tidak dia gila, berani sekali menciumku' fikirku
Aku memberontak berusaha melepaskan ciuman itu tapi tenagaku tidak sekuat dengan tenaganya. Semakin aku meronta semakin panas ciuman itu. Tangannya menarik leherku, aku tidak bisa berbuat apa hingga dia merasakan aku kehabisan nafas. Kulihat dia hanya tersenyum dan aku terfokus pada bibirnya merah.
"Gila kamu Sya, brengsek" aku meninggalkan Rasya dan bergegas pulang
__ADS_1