
Meskipun kita dijodohkan, aku tidak mau menerima perlakuanmu ini!
Raka membawaku ketempat biasa, taman dimana kita pacaran dulu. Pemandang disana masih sama indah dan sejuk. Taman itu jarang dikunjungi oleh orang orang, karna hanya orang tertentu saja yang mengerti tempat itu. Makanya keindahannya selalu terjaga.
"Sya, nanti mau kemana?" dia bertanya padaku, hingga membuatku terpaku. Aku harus menjawab apa? Masa bilang aku dijodohkan sama Rasya, dia tidak akan terima karna dia tau Rasya gimana. Walau hanya salah faham, sekarang siapa sih yang gak salah faham antara Izzy dengan Rasya.
"Sya? Kok gak dijawab malah ngelamun?"
"Eh itu, ada grand opening bisnis teman ibu"
"Oh gitu"
Tak lama dari pembicaraan kita, tiba tiba ada suara wanita memanggilnya.
"Kak Raka" ucap perempuan itu, serentak aku dan Raka menoleh.
Wanita itu? Arine Handika, adik dari Raka. Aku sangat membencinya karna dia pernah merebut pacarku, Kevin Anggara. Bagaimana bisa aku bertemu dengannya lagi dari sekian lama tak melihatnya. Dia semakin cantik, menawan dan anggun.
__ADS_1
"Kenapa ada dia?" ucapku dingin
"Iya, aku mengajak dia kesini. Dia ingin bertemu denganmu"
"Ada apa?"
"Kak Gesya, maafin aku dulu merebut kak Kevin darimu. Aku tau kakak sangat membenciku, tapi mau gimana kak aku sama kak Kevin saling mencintai"
"Ya, kalo kamu tidak menggodanya dia tidak akan tergoda" aku meninggalkan mereka, aku merasa kesal dan menyesal karna pergi dengan Raka. Bisa bisanya dia membawanya menemui jalang sialan itu.
Aku segera pulang karna sebentar lagi acara keluarga Rasya. Sebelum aku dimarahi ibuku karna keluyuran tidak ingat waktu. Saat dirumah aku melihat Rasya sudah dirumah. Dia sudah rapi dan tampan tentunya.
"Sayang, kamu sudah pulang? Nak Rasya sudah nungguin kamu lama lo"
"Siapa suruh kesini lebih dulu" cuekku dan langsung menuju kamar
"Gesya! Maaf nak Rasya, Gesya emang begitu orangnya"
__ADS_1
"Tidak apa apa kok tante"
Setengah jam aku keluar dengan setelan atas hitam bawahan rok pink terlalu mudah dan rambut dikuncir. Ya aku memilih pakaian itu atas saran adikku Pevita.
Dia sosok adikku yang baik dan selalu menyayangiku, terkadang dia lebih mengalah dari pada aku. Sampai membuat semua berasa kalo dia itu kakakku bukan adikku, oh ternyata miris sekali aku tak pantas mendapat panggilan kakak darinya.
"Yaudah tante kita berangkat dulu ya"
"Iya nak, hati hati"
Saat dijalan kami hanya terdiam satu sama lain tidak ada yang berbicara sehingga sampai ditempat tujuan. Dia turun dan menggandengku, sebenarnya aku enggan tapi dia memaksa.
"Tersenyumlah, dan bergandeng tangan denganku, jangan mengecewakan orang banyak"
Kata katanya membuatku jengkal, tapi mau gimana lagi benar katanya, ini acara bisnis besar. Aku mengandengnya dengan terpaksa dan memberi senyuman palsu pada semua yang disana.
__ADS_1
"Bagus, nurut sama calon suami" ucapnya dengan bangga.