
lalu mulai mendorong, menekan dan menyentuh bagian bawahku "Kau sudah siap" erang Rasya "Kau sudah basah dan panas, siap untuk diriku..."
Jantungku berdegup kencang, beriringan dengan detak jantung Rasya yang bahkan lebih parah. Dengan perlahan, aku memejamkan mata.
Ini adalah sensasi baru bagiku merasakan junior seorang lelaki yang mencoba memasukinya, menyatu dengannya. Rasanya panas dan membuat seluruh saraf ditubuhnya menggila, membuatku begitu sensitif oleh kebutuhan yang sampai saat ini tidak pernah aku ketahui kebutuhan untuk mencapai puncak.
Hingga rasa sakit yang menyengat tiba-tiba menyentakkannya ke alam sadar, aku mengerang kesakitan, tubuhnya mengejang, dengan panik aku mencengkeram pundak Rasya dan menggeleng-gelengkan kepala ketakutan atas usaha Rasya untuk menyatu semakin dalam dengannya.
Dan ketika Rasya merasakan sesuatu yang menghalanginya, mendengar eranganku yang jelas-jelas kesakitan serta pandangan ketakutan yang membayangi mataku.
Rasya mengalihkan perhatianku dengan cumbuannya dengan segenap keahliannya, rasa senang tak tertahankan membanjiri pikirannya ketika menyadari dirinya adalah lelaki pertamaku.
Diciumnya bibirku dengan lembut, bibir ranum yang sekarang menjadi miliknya. Napasku terengah-engah dan Rasya melihat di matanya, ada ketakutan dan kesakitan. Rasya tidak pernah bercinta dengan perawan sebelumnya, dia tidak tahu seperti apa rasa sakitnya, dia tidak mengerti bagaimana meredakannya. Tetapi Rasya tidak suka melihat rasa sakit itu mendera di mataku.
"Sssh... Sayang, aku tidak bermaksud menyakitimu" Dengan lembut
Rasya menelusurkan tangannya di sisi tubuhku lalu berhenti di pinggulku menahan pinggangnya yang sedikit meronta, mencegah tubuh mereka yang sudah setengah menyatu supaya tidak terpisah,
"Mungkin akan sedikit sakit tapi semua akan baik, tubuhmu akan menerimaku seutuhnya..." Suara Rasya terhenti ketika dia mendorong dengan kuat, menembus batas keperawananku dan menyatukan tubuhnya sepenuhnya denganku.
__ADS_1
Aku berteriak kencang merasakan pedih ketika Rasya menembusnya, jemariku tanpa sadar mencengkeram pundak Rasya dengan keras. Tetapi Rasya tidak berhenti karena dia sadar kalau dia berhenti dia akan menyakitiku. Dengan perlahan, Rasya menggerakkan tubuhnya. Oh Tuhan ! Sekujur tubuhnya terasa nyeri menahan diri.
Untuknya aku terlalu rapat, terlalu basah, terlalu panas, mencengkeram tubuhnya di bawah sana. Dia hampir-hampir tidak tahan dan dorongan untuk memuaskan diri dengan brutal di tubuhku semakin menyiksa.
Lalu ketika desah napasku menjadi pendek-pendek serta pegangannya pada pundak Rasya makin kencang, Rasya sadar, dia telah membuatku mencapai *** pertamanya. Pemandangan ekspresi wajahku saat itu sungguh tak tergantikan, mendorongnya terlempar menuju puncak kepuasan yang sangat tinggi, sangat tak tertahankan seolah-olah dunia meledak dibawahnya. Dan Rasya benar-benar meledak di dalam tubuhku.
*** ini terasa begitu dahsyat, sebuah pelepasan dari akumulasi gejolak yang ditahannya selama ini. Kenikmatan yang luar biasa ini membuat Rasya merasa sedikit sesak napas, seolah olah dia terhanyut dalam pusaran gairah yang tak tertahankan terus menerus menghantamnya tanpa henti, erangan parau keluar dari bibirnya ketika dia menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di sisi leherku.
Ketika usai, mereka berbaring berpelukan sambil berusaha menormalkan napasnya.
"Wow"
Dengan lembut dikecupnya leherku diangkatn kepalanya dan kami bertatapan mata dengan intens setelah mencapai *** terhebat sepanjang eksistensi kehidupannya bertemu dengan mata hitamku yang berkaca-kaca.
"Terimakasih sayang, sudah menjaga kesucianmu untukku" Rasya mengecup keningku.
"Iya sayang, bisakah kamu bergeser ke samping? Tubuhmu sangat berat"
Rasya menarik napas pelan, kemudian dengan hati-hati dia mengangkat tubuhnya dari atasku dan bergeser ke samping.
__ADS_1
Direngkuhnya tubuh mungilku, diletakkannya kepalanya di lengannya.
Aku tampak pasrah, mungkin sudah terlalu lelah,
Kepuasan seksual yang luar biasa masih mempengaruhi pikirannya yang berkabut, tangannya dengan santai mengelus punggungku yang bergelung dipelukannya, sampai lama kemudian disadarinya pundakku berubah santai dan napasnya mulai teratur pelan. Aku tertidur, Rasya mengatur posisinya dengan lebih nyaman. tak pernah sebelumnya dia seintim ini setelah bercinta.
***
Kehidupanku dengan Rasya sangat indah dan tak pernah kusesali, aku merasa bahagia karna mempunyai suami seperti dia.
Baca Juga
🗼Cinta Pertama Abadi Selamanya
🗼I Love You My Devil
🗼My Everything
__ADS_1