
Dimas mengulurkan tangannya untuk membantu Gadis berdiri, dan mereka berlima pun kemudian beranjak keluar dari area pemakaman.
Rintik hujan mulai berjatuhan, mereka mempercepat langkahnya.
saat sudah berada diluar, mereka tak sengaja bertemu dengan Rio yang bersama 2 orang.
Gadis yang semula emosi nya sedikit reda, kini wajahnya kembali memancarkan aura ketidak sukaan melihat Rio.
"waduh, bakalan terjadi perang dunia ke 2 lagi nih bang kayaknya" bisik Alan kepada Vino
"Mau ngapain lo kesini"bentak Gadis dan mendekat ke arah Rio
"Gue mau ke pemakaman Tania" kata Rio
"Apa Lo bilang?" tanya Gadis sambil memicingkan matanya
"Gue mau ketemu Tania untuk yang terakhir kali" kata Rio lirih
BUGH !
"Dasar brengsek !" umpat Gadis setelah memukul wajah Rio
kedua teman Rio dengan sigap mendekat ingin menolongnya, namun Rio mencegah dengan memberi kode lewat tangannya
Belum juga hilang bekas luka di wajahnya karena ulah Gadis, kini ia kembali menerima amukan dari Gadis lagi.
Vino segera menahan bahu Gadis,
"dis..." desis Vino
"udah puas kan Lo sekarang?hah !" kata Gadis
__ADS_1
"Lo ga perlu ketemu Tania, tenang aja dia udah bener-bener pergi dari dunia ini"
"Lo kesini cuma mau mastiin kan kalo dia beneran udah meninggal ! Lo tenang aja ga akan ada yang ganggu hidup Lo lagi"
"Seharusnya dulu gue ga percaya gitu aja sama Lo !"
"Hah !"
"PERGI DARI SINI SEBELUM KESABARAN GUE HABIS, PERGI !" ucap Gadis meluapkan segalanya, dia masih belum bisa menerima bahwa Tania benar-benar meninggalkan nya
"T-tapi..." Rio ingin berucap namun segera dipotong oleh Dimas
"Bro.. gue minta tolong sebaiknya lu pergi dulu dari sini yaa, lu liat kan dia masih belum bisa terima" Dimas menahan pundak Rio dan berucap dengan lembut
Rio hanya menatap wajah Dimas tanpa mengeluarkan suara
"Dan inget jangan pernah lu muncul di hadapan gue lagi, kalo sampe itu terjadi gue bakal ngabisin lu sesuai janji gue waktu itu karena Lo udah nyia-nyia in sahabat gue"
DUAR !
Terdengar suara kilat menggelegar selesai Gadis mengucapkan kalimatnya, seolah-olah kilat itu juga ikut menjadi saksi kemarahan Gadis.
"Duh, ngeri juga si Gadis lan..."ucap Edo yang terkejut
"udah bang ayo kita pulang, sebentar lagi ujan gede kayaknya"kata Alan berbisik ke Vino
Gadis yang mendengar penuturan Alan segera menyahut,
"Gue gamau pulang sebelum orang ini pergi terlebih dahulu" tunjuk Gadis ke Rio
Dimas pun menatap wajah Rio balik, seakan ia meminta Rio mengerti dan segera pergi.
__ADS_1
"yaudah gue balik" ucap Rio akhirnya, kedua temannya juga mengikutinya dari belakang
"Dis..istigfarr" kata Dimas
Gadis pun menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan, kemudian ia beristigfar.
Setelah melihat mobil Rio berlalu baru Gadis mau diajak pulang. Ia menghampiri ayahnya yang berada di warung dekat dengan pemakaman.
"Ayah kira malam ini kamu mau menginap disini dis"kata Pak Hendra
"maunya gitu, tapi mereka berempat juga ga pulang kalo Gadis ga pulang" ucapnya dengan cemberut
"Eeh ni anak, berani ngejawab lagi sama orangtua"kata Edo kesal
Gadis hanya menjulurkan lidahnya mengejek Edo
"yasudah-yasudah, ayo kita pulang" ajak Pak Hendra
"Kita kawal sampe rumah ya om"tawar Alan
"ngapain, gausah nak kalian kan pasti juga capek"
"Bener Alan pak, taunya nanti Gadis kabur balik kesini lagi haha" ucap Edo
Gadis dengan spontan menjitak kepala Edo "Sembarangan!" ucapnya sambil melotot
"Hahaha, gabakalan deh..saya jagain nanti" kata Pak Hendra
Semuanya pun sontak menertawakan Gadis.
...************...
__ADS_1