
Keesokan harinya aku berangkat bekerja dengan mata panda karna tadi malam gak tidur gara gara mikirin Raka. Padahal udah move on eh pas ketemu lagi kayak ada yang tumbuh lagi.
Aku terburu buru hingga tak sengaja menabrak seseorang.
"Eh maaf mbak aku gak sengaja" ucapku
"Matanya buat jalan dong mbak!!" sahut wanita itu
"Mata buat ngeliat mbak yang jalan hanya kaki" ku donggakkan kepala dan terkejut yang aku tabrak adalah Rike Andiva, musuh bebuyutanku.
"Eh kamu" sahutku
"Bener saja nabrak emang gak punya mata, em kerja disini ya lo?"
"Entahhh, aku sibuk"
"Eh lo gue pecat ya, ini kantor papa gue. Gue bisa ngelakuan apa saja"
"Terserah kamu" meninggalkan Rike
Kalo aku terus berdebat dengannya bisa bisa aku dipecat beneran, baiklah Gesya mengalah itu lebih baik kan bukan berarti kamu kalah.
Aku "Sa bawa makanan cadangan gak aku laper"
Anisa "Hhhe udah aku makan"
"Yakkk kamuu, laperr tau aku"
Kiki "Ini buat kamu Sya" dengan memberikan riti sandwicthnya
__ADS_1
"Beneran ni ki"
"Iya makan aja aku tadi bawa lebih soalnya"
"Oke makasih"
Sebenarnya aku mau keluar dari pekerjaan ini tapi aku takut kalo nanti gak dapet pekerjaan yang gajinya lumayan besar, kan aku harus membiayai ibu dan adikku, batinku.
Layla "Gesya, kamu sangat murahan ya gak tau malu sukanya ngrebut punya orang!"
Aku "Maksudnya Bu Layla apa ya aku gak tau?"
"Pura pura bodoh kau Gesya, kamu mau rebut Raka dariku jangan mimpi"
"Hah? Raka? Hahahahaha ambil saja tu Bu makanlah sepuasnya aku sudah tidak tertarik pada bekasku yang sudah pernah dibuang"
"Sebelum kenal Bu Layla dan menikah dengan Rike Andiva, aku sudah menjalin hubungan dengannya. Jadi otomatis bekasku kan? Dan aku gak akan pernah mengambilnya lagi. Bodohhhh!!!" ucapku dengan menyeringgai dan meninggalkan Bu Layla dengan ekspresi kagetnya.
Dalam kejadian itu tidak aku sadari ternyata Raka ada disana dan mendengarkan semua pembicaraanku dengan nyai rongeng. Tapi aku tak peduli aku hanya berkata sesuai hatiku saat ini saja, aku terlalu emosi dengan keadaan ini dimana aku selalu dipojokkan.
Raka hanya menatapku dengan sendu, melihatnya begitu membuat hatiku sakit entah apa yang aku rasakan saat ini aku tak faham. Dia mulai mendekatiku dan membawaku ke mobilnya.
"Raka apa mau mu?" dia hanya melihat sekilas tanpa menjawabku.
"Raka jawab aku!!"
"Diam Sya atau aku akan melakukan disini!!" tatapnya dengan tajam hingga membuat nyaliku menciut. Perjalanan kami sangat sepi tak ada yang berbicara hingga suasana menjadi mencekam.
Hingga mobilnya berhenti di hotel ternama di kota S. Aku hanya menatapnya bingung dan dia tersenyum tipis padaku.
__ADS_1
"Ayo turun"
"Raka, kita mau apa?"
"Ikuti aku saja" dia menarik tanganku hingga keluar dari mobil, penjaga hotel itu menyambutnya dengan sopan dan mempersilahkan kami masuk.
Aku dengan Raka menuju kamar nomer 027, ya 27 adalah angka kesukaanku. Aku hanya diam dan berfikir positif tidak mungkin kan Raka jahat sama aku. Aku kan baik juga menarik, batinku dengan percaya diri.
"Duduklah Gesya, ada sesuatu yang aku omongin" dia menatapku dengan cemas entah apa yang membuatnya cemas aku juga tidak tau.
"Dulu aku meninggalkanmu karna ada sesuatu hal dan membuatku terpaksa harus melakukannya. Keluargaku memang dari kalangan atas tapi keluarga Andiva lebih berkuasa dari keluargaku dan itu tidak bisa dipungkiri lagi. Orang tua ku tak keberatan dengan hubungan kita tapi Rike mempermasalahkan itu dan mengeluh pada ayahnya. Kamu tau kan Rike anak satu satunya dan selalu dimanjakan oleh keluarganya makanya dia sangat tidak berperasaan. Ayahnya Rike mengancam jika tidak menikah dengan anaknya dia akan menyakitimu dan menghancurkanmu bahkan keluargaku. Aku tak mungkin melakukan itu karna aku tak mau siapapun mennyakiti keluargaku dan kamu. Aku rela menderita asalkan kalian orang yang aku cintai bahagia" tanpa kusadari air mataku jatuh bersamaan dengan air matanya. Pertama kali aku melihatnya menangis seperti itu.
"Kamu tahu aku tak pernah menghianatimu bahkan menduakanmu itu hanya rencanaku agar kamu meninggalkanku. Tapi apa kamu masih bertahan denganku saat itu. Maafkan aku Sya, maafkan kesalahanku, hingga saat ini aku masih mencintaimu dan menjadi seorang bajingan. Karna aku terluka dan lukaku kulampiaskan pada para jalang sialan itu" aku memeluknya tak tega dengan penderitaan yang selama ini dia rasakan.
"Kenapa kamu tak bercerita dari dulu kita kan bisa berjuang bersama"
"Maafkan aku Sya"
"Ternyata sangat licik keluarga Andiva. Aku akan membalasnya. Kita harus membalasnya Raka biar mereka merasakan penderitaanmu. Bagaimana kamu mau?"
"Iya aku mau Sya, makasih ya" dia memelukku dengan erat dan perlahan mencium bibirku dengan lembut.
"Apa kamu masih mencintaiku Sya?"
"Entah, aku gak tau karna itu sudah lama. Dan aku mencintai seseorang mulai SMK hingga saat ini, walau itu belum terbalaskan"
"Baiklah Sya, aku tak akan memaksamu untuk kembali denganku"
Kemudian kami terlelap bersama karna kecapekan.
__ADS_1