Secret Of Love

Secret Of Love
Bertemu Rasya


__ADS_3

Hari ini entah berapa kejadian yang harus ku tangani hingga membuat lelah. Ku lirik jam tanganku ternyata sudah waktunya pulang, aku membereskan barang barangku untuk bersiap pulang.


Anisa "Sya, pulang sama siapa?"


"Oh itu, aku ada janji sama bos"


"What? Pak Raka? Hati hati lo Sya dia playboy gadungan jangan sampai kamu masuk perangkapnya"


"Enggak kok Sya, aku sama bos sudah temenan dari dulu aku lebih mengenalnya dari pada kalian yang cuman tau sifat luarnya saja"


"Terserah kamu Sya aku cuman nasehati aja biar kamu gak ketipu sama dia"


"Iya Sa, makasih ya"


"Ya udah aku pulang duluan ya, bye" Anisa meninggalkanku


Aku melirik kearah jendela disebelah pintu keluar dan melihat sosok yang aku tunggu.


"Raka? Kamu denger semua ya?"


Dia hanya mengangguk dan menatapku sendu. Aku merasa ini bukan Raka yang selama ini aku kenal, dia gak pernah begini.


"Jangan dimasukkan kedalam hati kamu ya, mereka hanya menilai dari luar. Kamu itu orangnya special karna kamu rela mengorbankan kebahagiaanmu untuk orang yang kamu sayangi. Aku bangga denganmu Raka" aku menghampirinya dan memeluknya


"Gesya, andai waktu bisa diputar aku mau memperjuangkanmu"


"Sudahlah, itu semua sudah jadi masa lalu, aku gak mau kamu terbebani lagi dengan itu semua. Lupakanlah Ka, kita gak bisa jadi sepasang kekasih seperti dulu tapi kita bisa berteman seperti sekarang ini. Itu sudah lebih dari cukup☺"


"Iya Sya, aku juga merasa senang bisa sedekat ini lagi denganmu"


"Iya. Kita mau kemana hari ini?"


"Hmm, nonton yuk?"

__ADS_1


"Aku lagi gak mood Ka, maaf ya yang lain aja"


"Makan di seberang sana saja gimana?"


"Ayok"


Sebelum memasuk cafe aku merasa deg deg an tidak seperti biasanya. 'Ada apa denganku kenapa aku berdebar. Apa karna ada Raka? Itu tidak mungkin aku dengannya bersama dari tadi juga tak merasakan apa apa sebelum masuk kesini' dalam hatiku


"Sya?"


"Iya?"


"Kamu kenapa melamun?"


"Entahlah, perasaanku gak enak"


"Apa mau langsung pulang saja, aku takut kamu kenapa napa?"


"Gak usah Ka, kita kan sudah sampai"


"Kita makan dulu baru pulang ya?" dia hanya mengangguk, aku melihat wajahnya cemas.


Aku dan Raka masuk ke dalam cafe, kami menuju ke nomer 7. Kemudian Waiter menghampiri kami.


"Mau pesen apa mbak mas?


"Mau pesen apa Sya?" tanya Raka


"Kesukaan aku saja"


"Okelah, Mbak saya pesen ini ya dua"


"Baikah mas, tunggu sebentar ya" waiter itu meninggalkan kami

__ADS_1


Jantungku semakin berdebar kencang, dan itu membuatku bingung dengan perasaan ini, ada apa sih kenapa denganku. Kemudian tidak sengaja aku mendengar suara laki laki yang selama ini aku bayang bayangkan, aku mencari arah suara itu dan benar saja itu dia. Kami saling menatap, aku melihatnya terkejut ketika manik maniknya bertatapan denganku.


"Rasya" ucapku pelan tapi bisa didengar oleh Raka


"Rasya? Siapa dia? Pacarmu? Atau orang kamu ceritakan itu?" aku tak mendengarnya dan masih menatap lekat seseorang yang duduk disebelah sana. Hingga membuat Raka mengikuti arah tatapanku.


"Ohh dia ternyata, Rasya Andrian dari perusahaan Andrian" jelaskan Raka yang membuatku menatapnya


"Bagaimana kau tahu?" tanyaku padanya dengan tatapan menyelidik


"Perusahaanku bekerja sama dengannya. Karna perusahaannya sebanding dengan perusahaanku dan bisa membuat keuntungan besar besar."


"Ohh gitu"


Aku melihat Rasya menghampiriku hingga membuat jantung berdetak cepat.


"Gesya? Raka?"


"Ehh Rasya, kenapa Sya?"


"Kalian saling kenal?" Tanya Rasya


"Iya kita temenan"


"Ohh temen, aku kira pacar kamu Sya?"


"Bukan bukan kok kita temenan saja" jawabku dengan cepat, sedangkan Raka hanya menatapku dengan tajam, aku bisa merasakan kalau Raka sedang menahan emosinya. Tapi yang membuatku bingung kenapa Rasya emosi? Apakah ada yang salah dengan ucapan ku kayaknya tidak sih🙄


"Aku gabung disini boleh?"


"Tapi kan kamu tadi udah sama temen kamu Rasya?"


"Oh dia bukan temen cuman klien aku aja"

__ADS_1


"Hmm ya gak papa Sya, lagian kan biar rame, iya kan Raka" Raka tidak menjawab dan membuatku menoleh kearahnya, benar saja dia seperti singa sedang menerkam mangsanya.


__ADS_2