
Dert..dert...dert hpku bergetar, kulihat ibu tersayangku menelfon.
"Halo bu"
"Halo sayang, lagi ngapain? Udah makan belum?"
"Masih tidur bu"
"Sudah siang sayang ayo cepat bangun, mandi terus makan"
"Hmm ceweretnya ibuku"
"Kamu sudah besar sayang, jangan malas malasan nanti kalo udah nikah ikut mertua gimana?"
"Maunya ikut ibu gak mau ikut mertua aku"
"Kalo suamimu gak mau gimana?
"Dipaksa dong bu"
"Gak boleh begitu, kamu harus nurut sama suamimu nanti"
"Tapi suamiku juga harus nurut sama aku dong bu istrinya"
"Terserah, pasti kalah kalo ngomong sama kamu"
"Hehehe makanya bu jangan ngomongin yang tidak tidak dulu, aku masih banyak impian yang belum tercapai"
"Iya iya sayang, sudah cepat bangun. Ibu mau keluar bentar sama adik kamu"
__ADS_1
"Iya bu"
Setelah itu, aku bangun dan melakukan aktifitas rutinku, Jalan jalan mengelilingi taman. Tak kusangka bertemu dengan Rasya. Kulihat dia bersama pacarnya Izzy, melihat semua itu membuat hatiku sakit. Ingin sekali ku menghampirinya dan mempertanyakan perhatiannya selama ini, tapi aku sudah mempunyai tekad tidak menganggunya.
Aku meninggalkan taman dan melihat Raka duduk santai sendiri disana, tanpa berfikir panjang aku menghampirinya.
"Darrr" dia terkejut dan melihatku
"Gesya? Kebiasaan kamu ya dari dulu selalu sukanya ngagetin mulu" jawabnya dengan menarik hidungku
"Ahh sakit tau Raka, hidungku udah mancung kalo kamu gituin malah mancung lo" aku bersungut sungut
"Hahahaha mancung kedalam ya Sya?"
"Apaan sih kamu Ka, hidungku emang mancung cuman dia gak sombong makanya ngumpet didalam"
"Hahaha makanya kecilin tuh pipi biar bisa lebih mancung kayak aku dong" dia menoel hidungnya sendiri dengan bangga
"Ngomong aja iri Sya"
"Tau ah males sama kamu" aku meninggalkan Raka dan memanyukan bibirku
"Hahaha ada yang marah ni?"
"Siapa yanh marah?"
"Entahlah" dia mengangkan bahunya dan memutar bola matanya
"Wtf"
__ADS_1
"Hahaha kamu kalo marah eh bukan pipimu kayak bakpau"
"Masih kayak kan?"
"Kenyataan sih"
"Raka" aku memukul lengannya, dengan sigap dia menghindar sehingga membuatku hilang keseimbang dan hampir jatuh tapia Raka menangkapku.
"Sampai kapan mau memejamkan mata kamu?" ucapnya, perlahan lahan ku buka mataku.
"Kok gak sakit ya Ka?"
"Iya gak sakit kan kamu cuman mimpi" ucapnya dengan sinis dan menatap malas padaku. Ucapannya membuatku sadar, ternyata aku tak jatuh sepenuhnya karna dia menangkapku.
"Hehehe maaf ya Raka, aku gak tau"
"Berat tau kamu"
"Biarin" aku membenarkan posisiku, kejadian itu membuat gelisah seperti ada sesuatu yang berbeda dan detak jantung tak bisa ku kontrol hingga berasa seperti melompat kesana kemari.
'Aku gak mungkin kan kalau clbk sama dia? Dia sudah punya istri aku harus sadar diri. Kenapa sih kamu ini Sya, pasti sukanya plin plan sebenarnya kamu itu suka sama siapa Rasya atau Raka? Yah kena lagi deh namanya Rasya. Membuatku males saja memikirkan si cowok php itu. Awas saja kamu Rasya aku pasti akan membalasmu, karna sudah mengobrak ngabrik hatiku. Hmm tapi kan bukan salah dia juga, hanya aku saja terlalu berharap tapi kan kalo gak dikasih harapan olehnya aku gak akan berharap apalagi berusaha mengejarnya. Wtf Gesya, kamu lagi mikirin apaan sih jangan suka mikir yang aneh aneh kamu gak boleh jatuh cinta sama kedua lelaki ini. Kamu tak pantas untuknya karna tak sebanding dengan mereka. Tapi hatiku tak bisa berbohong kalo aku masih berharap kepada mereka. Terlalu polos sekali kamu Sya, sehingga mudah jatuh cinta' batinku
"Sya.. Gesya.. Sya" ucap Raka
"Hey Sya, kenapa kamu melamun" bentaknya hingga membuatku kaget
"Hehehe enggak kok, ayo kita makan laper aku"
"Makan mulu pipi kamu itu lo kecilin dulu, hahaha"
__ADS_1
"Ih Raka udah mulai deh"
"Hahahaha"