
Aku hanya terkekeh geli mendengar ucapan mereka gila dan benar benar gila iniππ
Segera aku pergi, aku tidak ingin sampek ketahuan kan bisa malu aku. Hingga membuatku tidak menyadari ada sepasang mata dikejauhan sana memperhatikan kelakuanku tadi.
Aku menuju kamar Tasya dan mulai memetik gitar.
Awalnya tak mengerti apa yg sedang kurasakan
Segalanya berubah dan rasa rindu itu pun ada
Sejak kau hadir di setiap malam ditidurku
Aku tahu sesuatu sedang terjadi padamu
Sudah sekian lama ku alami pedih putus cinta
Dan mulai terbiasa hidup sendiri tanpa asmara
Dan hadirmu membawa cinta sembuhkan lukaku
Kau berbeda dari yang ku kira
Aku jatuh cinta kepada dirinya
Sungguhh sungguh cinta oh apa adanya
Tak pernah ku ragu namun tetap selalu menunggu
Sungguh aku jatuh cinta kepadanya
Coba-coba dengarkan apa yang ingin aku katakan
Yang selama ini sungguh telah lama terpendam
Aku tak percaya membuatku tak berdaya
Tuk ungkapkan apa yang kurasa
Kadang aku cemburu, kadang aku gelisah
Seringnya ku tak tentu lalui hari
Kutak dapat ku pungkiri hatiku yang terdalam
Betapa aku jatuh cinta kepadanya
"Aku gak nyangka ternyata suara bagus juga ya Sya" aku terlonjak dan segera melihat orang itu
"Rasya? Sejak kapan kamu disitu"
"Dari tadi sayang, apa kamu tidak menyadari?" dia mulai mendekatiku dan berbisik tepat ditelingaku. Aku merasa geli merasakan hembusan nafasnya dan mendorongnya.
"Sudahlah Sya, jangan bersikap begitu"
"Bahkan ketika kamu menggoda kakakku saat bercinta dengan pacarnya aku tau" aku membelalakan mataku dan tidak percaya apa yang dikatakan oleh Rasya. Oh Tuhan, sejak kapan dia menjadi penguntitku. Apakah aku sudah membangun singa yang tertidur.
"Apa kamu tidak ingin merasakannya?" dia mulai meraba raba tubuhku hingga membuatku menggelijang.
"Sya, ngapain kamu, lepas"
"Kamu tau, tubuhmu tidak bisa berbohong kalo kamu menikmatinya"
"Sudah Sya jangan becanda, jangan sentuh aku atau aku akan membatalkan perjodohan ini"
__ADS_1
"Mulai berani ya kamu kucing kecilku" dia mulai menyentuh hidungku dengan hidungnya dan ini membuat jantungku berdebar, aku mulai memejam mataku.
"Hem hem" deheman seseorang membuatku sadar dan menjauh dari Rasya.
"Kak Randy?"
"Damn it! Nganggu kesenanganku saja kamu ini kak"
"Hehehe gak tau juga"
"Gesya? Jadi nonton nanti?"
"Mati saja kau kak!" umpat Rasya
"Hahaha adikku sekarang sangat kejam, baiklah aku keluar dan gak akan ganggu waktu kalian"
"Pergi sana! Kenapa tidak dari tadi"
Aku sudah tidak bisa menahan tawaku dan meledaklah yang membuat Rasya semakin kesal padaku.
"Lucu ya? Sampai tertawa begitu"
"Hahaha lumayan!"
"Okelah, aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu, aku akan menggantikan tawamu menjadi kagum!"
"Kamu bisa nyanyi?"
"Kita lihat saja"
Dia mengambil gitar ditanganku dan duduk disebelahku. Dia mulai memetik gitarnya, sungguh indah suaranya, suara gitar tapi lo yaπ
Lama sudah ku menanti
Tapi tak pernah aku senyaman ini
Mungkin dirimulah cinta sejati
Tak akan kuragu lagi
Kujaga sampai ke ujung nadi
Takkan kusia siakan lagi
Buat hidupku lebih berarti
Cintamu senyaman mentari pagi
Seperti pelangi, slalu kunanti
Cintamu tak akan pernah terganti
Selamanya di hati
Aku bahagia, milikimu seutuhnya
Tak akan kuragu lagi
Kujaga sampai ke ujung nadi
Takkan kusia siakan lagi
__ADS_1
Buat hidupku lebih berarti
Cintamu senyaman mentari pagi
Seperti pelangi, slalu kunanti
Cintamu tak akan pernah terganti
Selamanya di hati
Aku bahagia, milikimu seutuhnya
Takkan kusia siakan lagi
Buat hidupku lebih berarti
Cintamu senyaman mentari pagi
Seperti pelangi, slalu kunanti
Cintamu tak akan pernah terganti
Selamanya di hati
Aku bahagia, milikimu seutuhnya
Cintamu senyaman mentari pagi
Seperti pelangi, slalu kunanti
Cintamu tak akan pernah terganti
Selamanya di hati
Aku bahagia, milikimu seutuhnya
Aku bahagia, milikimu seutuhnya
Aku bahagia, milikimu seutuhnya
Aku terkesima mendengar suaranya, suaranya sangat merdu dan membuat telinggaku tergiang ngiang hingga tanpa sadar aku menintikkan air mataku.
"Sayang, jangan nangis, apakah suaraku tidak begitu enak sampai nangis kamu?" ucapnya dengan cemas
"Kamu tau suaramu seperti petir hingga membuatku takut, takut kehilanganmu hiks hiks"
"Apa apa? Cobak katakan lagi!" dia tersenyum memandangku
"Kataku yang mana?"
"Tadi, takut kehilanganmu"
"Salah dengar kamu, kapan aku bicara begitu"
"Sayang"
"Tuli ya!" bentakku
"Hiks hiks kamu bentak aku?"
"Kok ikutan nangis?"
"Ya, kamu jahat"
__ADS_1
Aku mulai tertawa dengan sikapnya yang kekanakan, dia sangat menggemaskan.
"Cup" aku menyium pipinya dan meninggalkannya. Dia hanya bengong disana.