
"HEH, BRENGSEK !"
"LU UDAH GILA YA ! KENAPA LU TIBA-TIBA DATANG KESINI DAN BIKIN ONAR?" Bentak Rio
"KENAPA LO NYIA-NYIAIN TANIA HAH??"kata Gadis to the point
"Siapa Lo berhak ngatur hidup gue, "ucap Rio acuh
"Juga, cuma gara-gara Tania Lo ngamuk-ngamuk disini?Lo udah ga waras?" imbuhnya lagi
"APA LO BILANG?"
"SEENAK JIDAT LO BILANG 'CUMA' ?? LO KAN UDAH JANJI BUAT JAGAIN DIA KALAU GUE MENJAUH DARI TANIA !"
"Heh, asal lu tau ya Tania sendiri yang udah minta putus"
"itu karena Lo semena-mena sama dia, Lo gak memperlakukan dia dengan baik, dan lu udah hianatin cinta tulusnya"
"Dan juga...lo malah ninggalin dia saat dia Hamil?? Lelaki macam apa Lo ! Dasar LAKI-LAKI BRENGSEK ! PENGECUT LO"
BUGH BUGH BUGH
Gadis yang sudah tak bisa membendung Emosi karena kehilangan sahabatnya pun seketika menjambak rambut Rio dan memukuli nya dengan membabi buta,
Di tempat lain, Alan dan Yohan berharap bisa menemukan Gadis. GPS di hp nya mengarah kerumah Rio, dan itu membuat mereka berdua cemas.
Mereka terkejut karena apa yang mereka pikirkan terjadi, Gadis menemui Rio.
"Waduh beneran lan Gadis kesini, ini motornya?"
__ADS_1
"Coba kita masuk yuk"ajak Alan
Alan dan Yohan mencari satpam dirumah Rio, namun tidak ada tanda-tanda ada disana.
Mereka berdua memutuskan untuk masuk halaman dan mendekat ke dalam rumah, dan benar saja dari luar mereka mendengar suara orang sedang beradu argumen dengan berteriak-teriak.
Tentu Alan tau itu suara Gadis dan Rio, Alan segera berlari diikuti Yohan dan langsung menuju ke lantai 2 yang mana itu adalah kamar Rio.
Sampai diatas Alan tercengang melihat Gadis yang memukuli Rio dengan membabi buta, bukan hanya Alan Yohan pun juga syok.
"Pak kenapa tidak di pisah?" tanya Alan panik
"Sudah, tapi mba nya benar-benar marah saya jadi takut mas"jawab satpam tersebut
Alan segera mendekat menarik Gadis
"lepasin gue lan, gue mau kasih pelajaran sama bajingan ini"
Gadis kembali menendang perut Rio hingga tersungkur ke lantai, ia memuntahkan darah saking kuatnya tendangan Gadis.
Bukan Rio hanya pasrah diamuk Gadis, dia sudah berusaha melawan tapi tidak mampu karena Gadis membawa sebuah tongkat. Jadi saat Rio hendak mencekal tangan Gadis dengan cepat ia memukul tubuh Rio.
Sungguh emosi Gadis saat ini tidak bisa dikendalikan, pak satpam yang ingin membantu Rio pun diancam akan dipukulnya juga jika berani mendekat.
Teman tidur Rio tadi juga berusaha menarik Gadis, namun naas dia juga terkena bogem mentah Gadis dan tidak berani mendekat.
"Ga gini juga caranya dis, sabar dulu"
"Apa Lo bilang lan, sabar? disaat gue udah kehilangan sahabat gue gara-gara dia apa gue harus bisa bersabar ! bahkan gue udah gabisa liat dia lagi setelah ini !"
__ADS_1
Gadis ingin memukul lagi Rio yang sudah terkapar tak berdaya namun segera Alan menarik Gadis,
"Dis, sadar dulu" Alan memegang pundak Gadis
"Dengerin gue, apa dengan Lo mukulin Rio Tania bakalan seneng ? Apa dia bisa bangun lagi ?hmm..." ucap Alan dengan lembut
"Sekarang kita kembali, dia butuh lu disaat-saat terakhir kalinya, ya?"
Tubuh Gadis luruh diatas lantai dan ia menangis,
"Dia udah tega sama Tania, dia bilang kalau gue jauhin Tania dia bakalan jaga Tania lan ...hiks tapi apa nyatanya itu malah membuat gue menyesal seumur hidup, gue udah kecewain sahabat gue sendiri, sahabat macam apa gue sampe ngebiarin Tania memendam semua masalahnya sendirian hikss...."
Alan mengusap pundak Gadis, dirasa dia sudah cukup tenang Alan membantu nya berdiri
"Sekarang kita balik kerumah sakit ya?"
Gadis hanya mengangguk menuruti omongan Alan, mereka keluar dari kamar Rio.
"Tunggu lan..." ucap Rio tiba-tiba berusaha untuk duduk
Alan berhenti dan menoleh ke arah Rio tanpa bersuara,
"Maksud temen Lo kehilangan tadi apa?" tanya nya sambil memegangi kepalanya
Alan menghembuskan nafasnya pelan,
"Tania udah ga ada, dia meninggal dunia"
...*********...
__ADS_1