
Meski perasaanku ada yang mengganjal tapi aku itu mencoba mengesampingkan . Mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku mencoba menenangkan diri.
Tak terasa, hari ini adalah hari bahagiaku. Ku akan menikah dengan Rasya sosok yang aku kagumi saat SMK. Aku berasa ini mimpi dan tak percaya akan hal ini.
Aku menggunakan gaun putih panjang dan Rasya memakai jas hitam, dia terlihat gagah dan tampan.
Acara pernikahan kami berjalan dengan lancat tak terasa waktu berjalan cepat, menunjukka jam 12 malam. Aku masuk ke kamar kami, aku merasa deg degan apakah aku akan menyerahkan diriku pada Rasya.
'Sudahlah Sya, jangan membayangkan yang tidak tidak. Lebih baik kamu mandi untuk menjernihkan pikiran mesum mu itu' batinku
Aku memasuki kamar mandi dan berendam di bathub. Setengah jam selesai aku keluar kamar dan melihat Rasya duduk di sofa.
Deg!
Deg!
Deg!
"Sya kamu mau mandi?"
"Iya sayang, kamu jangan tidur ya. Aku gak mau meliwatkan malam pertama kita"
__ADS_1
Pipiku merah merona mendengar ucapan vulgar Rasya.
Dengan santai Rasya itu melenggang ke dalam kamar mandi, aku duduk di pinggir ranjang dan menyalakan televisi.
Detik-detik berlalu dan terasa begitu mencekam sangat kontras dengan Rasya yang sedang di kamar mandi, Rasya mandi dengan santai, bahkan aku mendengar dia itu bersenandung di shower.
Ketika Rasya itu keluar dari kamar mandi, aku sudah hampir tertidur di atas ranjang, pertarungan batin yang bertubi-tubi sudah membuat jiwa dan raganya kelelahan sehingga berdiam diri berbaring di atas ranjang yang nyaman itu membuatnya merasa sangat mengantuk.
Dengan pelan Rasya naik ke ranjang dibelakang lalu diraihnya pundakku, aku terperanjat karena dibangunkan dari kondisi tidur tidur ayamnku, dengan mata yang masih sayu setengah tidur aku menatapnya.
Rasya melihat ketakutan didalam mata itu dan dengan sedikit kasar dibaliknya tubuhku menghadap dirinya,
"Aku bilang jangan tidur aku gak mau melewatkan malam pertama kita Gesya." geramnya parau lalu dikecupnya bibirku,
Aku masih terkejut ketika tiba-tiba saja tubuhnya dibalik dan dicium habis habisan, dia masih setengah tertidur tadi dan benar-benar tak berdaya.
Rasya menciumku terus tanpa memberi jeda, dia seperti tidak tahan sedetikpun tidak berciuman denganku.
Ketika Rasya mengangkat kepalanya, matanya berkabut, pupil matanya membesar terlihat kontras dengan iris matanya yang berubah menjadi biru pucat.
"aku ingin bercinta, em aku ingin memasukimu. Ahh aku sudah tidak bisa menahannya" Ucap Rasya tersengal, lalu melumat bibirku lagi dengan membabi buta,
__ADS_1
Kata-kata vulgar Rasya itu membuat pipiku semakin merona malu. Tangan Rasya menelusup di balik jubah mandiku, menemukan payudaraku m yang hangat dan lembut, lalu meremasnya. Sedikit terlalu bergairah sehingga mmbuatku mengerang.
Rasya menghentikan gerakannya, lalu menatapku lembut.
"Sakitkah atau aku terlalu kasar?" tebisiknya parau
Aku terpaku, suaranya seakan tertelan di tenggorokan, bagaimana aku harus menjawabnya?
Tetapi Rasya tidak memerlukan jawaban. l
Dia hnya tersenyum, lalu menggerakkan tangannya lagi menyentuh payudaraku dengan ahli dia menyingkirkan jubah mandiku yang menghalangi dan menemukan keindahan ranum di baliknya,
"Oh Indahnya" bisik Rasya serak, membiarkan aku memalingkan muka dengan malu dibawah tatapan tajam dan memuja lelaki itu.
Lalu bibirnya yang panas menelungkupi ** payudaraku, lidahnya bermain di sana terasa panas, membakar seluruh tubuhku, membuatku terpaksa merintih. Bingung dengan gejolak yang menyebar di seluruh tubuhku. Rasya begitu ahli sedang aku sama sekali tidak berpengalaman dan lelaki itu tampaknya tidak merasa perlu menahan dirinya.
Entah kapan, kami sudah telanjang bersama di atas tempat tidur itu, Tubuh Rasya yang keras, melingkupi tubuhku yang mungil di bawahnya, menggodanya, menggeseknya dengan kekuatannya, membawa gairahku makin naik, sedikit demi sedikit ke puncaknya.
Kemudian aku merasakan junior Rasya yang tidak terhalang apapun menyentuh pusat dirinya. Pelan, tapi membuatnya terkesiap. Aku membuka matanku yang terpejam, menatap Rasya di atasnya. Lelaki itu menatapnya dengan tajam, matanya berkabut, napasnya terengah dan sejumput rambut tampak jatuh di dahinya, membuatnya tampak begitu liar.
"Ah, ya sayang, ku pastikan kau pasti akan sangat menyukainya bahkan menikmatinya" geram Rasya pelan.
__ADS_1
lalu mulai mendorong, menekan dan menyentuh bagian bawahku "Kau sudah siap" erang Rasya "Kau sudah basah dan panas, siap untuk diriku..."