
Gadis mengeluarkan motor trail nya dari garasi, kemudian ia mulai menancap gas pelan-pelan
Ia berhenti di depan gerbang rumah yang terbuat dari bambu menjulang tinggi, yaps Gadis pergi kerumah Jay.
Vino yang sedang memainkan gitarnya bersama Dimas pun seketika mengernyitkan dahi saat melihat Gadis tengah memasuki halaman rumah.
"Halo abang-abang hehe" sapa Gadis setelah memarkirkan motornya
Vino menghentikan petikan pada gitarnya,
"kamu ga sekolah dis?" tanya nya kemudian
"Hehe, engga bang" jawab Gadis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"pasti bolos nih"tebak Dimas
"CK,, Abang nih kalo ngomong suka bener deh" kata Gadis
"kenapa?bukan nya udah hampir seminggu kamu ga masuk?"
Gadis menghela nafasnya kemudian ia duduk di depan Dimas dan Vino.
"Tadi Gadis udah sampe sekolah bang, pas sampe di depan kelas tiba-tiba keingett........" kata Gadis menggantung kalimat akhirnya
"Hmm"
"Emang ga gampang sih nglupain seseorang yang begitu berharga buat kita apalagi kita selalu sama-sama"kata Dimas ikut menyahut
__ADS_1
"tapi ga baik juga dis kalo kita dalam kesedihan yang berlarut-larut, apalagi ini menyangkut masa depan kamu sendiri" ucap Vino
Dimas terlihat manggut-manggut,
"Abang yakin kamu pasti bisa melewati ini semua dis, semangat"
"Apa Gadis pindah sekolah aja ya bang?" tanya Gadis yang seketika membuat kedua sahabatnya menoleh kearahnya
"apa harus sampe segitunya dis?" tanya Vino
"gatau bang, rasanya kalo masuk ke kelas ngingetin semuanya"
"apalagi kenangan terakhir Gadis yang menjauhi Tania itu gabisa gadis lupa, rasa bersalah itu bang yang selalu datang"
"banyak-banyak berdoa dis" saran Dimas
"Abang setuju sama Vino, kamu ceritakan aja semua sama ayah kamu"
"Iya bang, makasi ya atas saran kalian hehe"
"Oh, ya mba Laras ada ga?"
"Ada kok, masuk aja" kata Vino
Gadis pun masuk ke dalam rumah untuk mencari Laras.
***
__ADS_1
Gadis sudah mulai masuk sekolah.
Ya, setelah mendapat saran dari Dimas dan Vino ia pun berbicara kepada ayahnya.
Ayahnya menyarankan untuk mencoba pindah kelas saja dulu daripada harus pindah sekolah karena nanggung juga, dan Gadis pun menuruti.
Alhasil sekarang jadilah ia satu kelas dengan Yohan setelah mendapat izin dari kepala sekolah.
Hari-hari berlalu dan berganti bulan, Gadis mulai bisa sedikit melupakan Tania namun tidak dengan rasa bersalahnya selama ini. Untunglah ada keempat sahabat nya yang selalu menguatkan.
Alan kini telah menyelesaikan ujian nya dan tinggal menunggu pengumuman kelulusan.
Oh, ya gimana kabarnya dengan anak Tania ya?
Anak Tania diasuh oleh nenek dan kakek kandungnya, tentunya Rio tidak tau. Mereka menyembunyikan anak itu dengan mengatakan bahwa putri Tania tidak bisa diselamatkan karena kecelakaan waktu itu.
Papa dan Mama Tania merencanakan semuanya dengan matang. Seminggu setelah meninggalnya Tania mereka memutuskan untuk membawa cucunya pindah ke luar negeri karena mereka tidak mau anak itu sampai direbut oleh keluarga Rio yang tentunya sangat berkuasa.
Hanya Gadis yang tau keluarga Tania pindah kemana, namun ia sudah berjanji untuk tidak memberitahukan nya kepada siapapun.
Ada penyesalan di hati Rio setelah mengetahui Tania meninggal beserta darah dagingnya yang tidak bisa diselamatkan.
Entah perasaan menyesal itu baru muncul sekarang.
...Memanglah Rio...penyesalan itu selalu datang di akhir.....
...Kalo di awal mah namanya pendaftaran hehehe...
__ADS_1
...Salah lu sendirikan, 😅...