Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 10


__ADS_3

"Ku kira bahagia, ternyata hanya luka yang tersisa.


Apakah tak ada lagi harapan tuk bahagia?


Apakah aku memang pantas mendapatkan duka?"


**🌹🌹🌹


Happy reading**....


Malam ini Arzan pulang cepat, ia ikut makan malam bersama keluarga Aisyah. Ada ayah, Ibu tiri dan adik tirinya yang ikut makan di meja makan malam itu. Diam-diam Aisyah merasa bersyukur karena sikap Arzan yang sudah tak sedingin kemarin. Bahkan ia bersikap seolah tidak ada apa-apa di antara mereka. Ia bersikap manis dan membuat hati Aisyah melambung.


"Gimana pekerjaan kamu, Nak? Apakah semua lancar?" tanya Ayah Aisyah di sela makan malam.


"Allhamdulillah, lancar Yah. Bahkan kemarin Arzan sangat sibuk sekali karena mengurusi proyek baru."


"Syukurlah kalau begitu. Tapi sesibuk apapun, jangan sampai lupa dengan istri kamu ya." nasehat Ayah Aisyah. Pria yang sedang minum itu terdiam, melirik istrinya yang juga ikut terdiam.


"Ah tidak akan mungkin, yah. Arzan selalu memprioritaskan Aisyah kok. Sesibuk apapun pekerjaan Arzan, Aisyah nggak akan pernah merasa kesepian. Begitu 'kan sayang?" ia tersenyum manis menatap istrinya. Di tatap sedemikian rupa membuat Aisyah salah tingkah.


"Eh, iya yah. Mas Arzan selalu memprioritaskan Aisyah. Sesibuk apapun, dan dalam keadaan apapun." ucapnya bertolak belakang dengan apa yang ada di hatinya.


Kenapa kamu berbohong, Mas? Apakah kamu hanya ingin menyenangkan hati ayah? jeritnya dalam hati. Apa yang di katakan oleh Arzan tak sesuai kenyataan. Semuanya hanyalah bualan semata.


"Wah kak Aisyah benar-benar beruntung, yah punya suami kayak kak Arzan. Udah ganteng, kaya raya, baik, sayang istri. Ih ... Dita jadi makin iri nih sama kak Aisyah." ucap Dita seraya melirik Arzan dengan genit.


"Kenapa harus iri? Kamu juga bisa dapat yang lebih dari saya. Kamu cantik, kamu juga masih muda. Pasti kamu bisa mendapatkan lebih dari saya." sahut Arzan seraya tersenyum.


"Tapi kalau Dita maunya yang sama persis dengan kakak, gimana?" gadis itu mengangkat sebelah alisnya. Ucapan Dita sontak saja membuat hati Aisyah terganggu. Ia menatap adiknya tidak suka. Kenapa Dita selalu berkata seolah dia sangat menginginkan suaminya? Pikiran buruk terlanjur mengusik kepalanya.

__ADS_1


"Yang sama persis gimana? Yang lebih dari saya itu banyak, Dita." Arzan mengelap mulutnya dengan tisu karena ia sudah selesai makan.


"Ya pokoknya seperti kakak. Sama kakak juga nggak apa-apa. Dita pasti bakal seneng banget punya suami kayak kakak." sontak saja ucapan Dita membuat yang ada di sana terkejut. Bahkan sang Ayah sampai tersedak karena sedang minum. Kening Aisyah berkerut sangat dalam sembari menatap adik tirinya yang duduk tepat di sebelah suaminya.


"Ya ampun ... Kalian langsung terkejut begitu. Tenang saja, Dita cuma bercanda." gadis itu tertawa tanpa dosa.


"Dita! Meskipun bercanda, harusnya kamu tidak mengucapkan hal seperti itu. Hargai perasaan kakak kamu!" sergah sang ayah.


"Mas, Dita hanya bercanda. Jangan terlalu di ambil hati. Lagian Aisyah dan Nak Arzan nggak apa-apa kok. Mereka pasti maklum dengan sikap Dita yang suka bercanda." bela Ibunya.


"Tapi, Bu."


"Nggak apa-apa, yah. Aisyah baik-baik aja. Kita tahu kok, Dita hanya bercanda. Mana mungkin 'kan, gadis secantik dan sebaik Dita tega merebut suami kakaknya sendiri?" ucapan Aisyah sangat menohok. Dita merasa tersinggung dan kesal, jika tidak ada Arzan di tempat yang sama maka gadis itu akan memaki habis-habisan Kakak tirinya. Aisyah melirik sebentar pada Dita, melihat ekspresi gadis itu yang sudah kesal. Sementara Arzan hanya tertawa kecil melihat keluarga Aisyah.


"Ya mana mungkin lah Dita seperti itu. Dia kan anak yang baik, dia juga bisa menjaga kehormatan dirinya. Nggak sembarangan pacaran bebas dan bergaul secara bebas. Dia pasti akan mendapatkan suami yang baik dan nggak akan ngerebut suami orang." cibir Ibunya seraya melirik sinis pada Aisyah, sang anak tiri. Arzan mengerling, ia melihat wajah sedih Aisyah. Ia sangat mengerti dan paham dengan apa yang di ucapkan Ibu mertuanya.


"Tapi yah, ucapan Aisyah sangat tidak enak di dengar. Seolah-olah dia mengatakan jika Dita mau merebut suaminya." Ibu tirinya masih tidak terima dan malah menjadi kompor.


"Bukan begitu maksud Aisyah, Bu."


"Palingan kak Aisyah takut kalah saing sama Dita, Bu. 'Kan Dita lebih cantik dan masih gadis ting-ting. Berbeda sama kak Aisyah yang ...." gadis muda itu sengaja menggantung kalimatnya. Melirik Aisyah dan tersenyum miring, begitu juga dengan Ibu tirinya. Melihat suasana makin tidak enak membuat Ayah mencoba mendinginkan kembali suasana yang mulai panas.


"Sudah-sudah, selesaikan makan malam kalian. Maaf nak Arzan, maaf atas sikap anak dan istri saya yang sekiranya membuat nak Arzan tidak nyaman." Ayah meminta maaf atas semua yang terjadi.


"Tidak apa-apa, Yah." ucap Arzan tersenyum tipis.


"Ohya, Nak Arzan. Gimana, apa boleh Dita tinggal di sini selama kuliahnya belum selesai?" tanya Ibu mertuanya tiba-tiba. Arzan melirik Aisyah, lalu mengangguk.


"Tentu boleh, Bu. Dita sudah Arzan anggap adik sendiri, Saya tidak keberatan jika Dita ikut tinggal di sini. Malahan saya senang, karena Aisyah ada yang menemani selain mbok Sumi." ujarnya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Wah, terima kasih banyak loh Nak. Kamu memang baik, cuma Aisyahnya aja yang pelit yah." sindir wanita itu seraya melihat sinis pada anak tirinya.


"Bukan begitu, Bu. Aisyah hanya tidak enak dengan Mas Arzan."


"Sama aja. Suami kamu itu baik, sudah Ibu duga nak Arzan pasti dengan suka rela mengizinkan Dita tinggal di sini. Lagian kamu ini kakak macam apa sih? Adiknya butuh pertolongan malah di persulit."


Aisyah hanya menghela napas lelah, ia memijit pelipisnya yang terasa pusing.


"Yeay ... Terima kasih ya kak, kakak baik banget." ucap Dita seraya menyentuh lengan kanan kakak iparnya.


"Iya, sama-sama." Kata Arzan dengan senyum khasnya. Mendapat senyum manis dari Arzan membuat gadis yang masih sangat muda itu amat senang. Ia tersenyum amat lebar dan merasa menang. Begitu juga dengan ibunya yang memperhatikan dari seberang meja. Ia tersenyum puas, sesekali melirik wajah Aisyah yang tampak murung.


"Maafkan keluarga kami, ya Nak. Maaf kami telah merepotkan nak Arzan." ucap Ayah Aisyah penuh sesal. Sungguh ia sangat malu sebenarnya dengan kelakuan sang istri dan anak tirinya.


"Nggak apa-apa kok, yah. Kita kan keluarga." kata Arzan tersenyum maklum.


Setelah makan malam selesai, ayah dan Ibu Aisyah berpamitan pulang. Tapi tidak dengan Dita. Ia pergi ke kamar yang akan ia tempati. Sepasang suami istri itu pun ikut pergi ke kamar.


"Terima kasih ya mas, kamu sudah sangat baik pada keluargaku." Aisyah membuka pembicaraan setelah hening tercipta cukup lama di antara mereka.


"Hmmm ...." Arzan hanya berdehem menanggapi.


"Mas, apa kamu sudah tidak marah denganku? Ummm ... sikapmu tadi di meja makan ...."


"Jangan salah paham! Aku bersikap baik karena ada keluarga kamu. Aku masih tidak terima dengan apa yang aku dapatkan. Dan aku masih sangat kecewa sama kamu!" ucapan Arzan membuat Aisyah sangat terkejut. Ia kira suaminya susah memaafkan dirinya dan kembali bersikap seperti biasanya. Tapi ia salah, sikap baik itu di tunjukkan Arzan hanya karena di depan keluarganya saja. Bagai di sayat sembilu, luka yang belum kering itu kembali berdarah. Wanita itu menekan dalam-dalam rasa sakit yang terus mengiris hatinya. Ia hanya bisa diam tanpa bisa berkata apa-apa. Tanpa sepatah katapun Arzan segera keluar kamar meninggalkan Aisyah seorang diri.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Aisyah tapi tak di hiraukan oleh Arzan. Pria itu masuk ke ruang kerja dan menutup pintunya, membuat Aisyah meremas dadanya yang terasa sangat sakit dan sesak.


"Maafkan aku, mas." lirih wanita itu di iringi derai air mata yang sudah tak tertahankan.

__ADS_1


__ADS_2