
"Aku hanya insan yang berlumur dosa, dengan masa lalu kelam yang coba ku kubur dalam-dalam.
Aku hanya berusaha menjadi lebih baik, dan tak pernah menganggap diri ini baik."
🌹🌹🌹
Happy reading....
"Mas, aku ingin bicara." kata Aisyah saat suaminya pulang. Ia memberanikan diri untuk berbicara dengan suaminya, karena jujur saja dirinya tidak tahan juga jika selalu di diamkan dan mendapatkan perlakuan dingin dari sang suami selama beberapa hari. Ia juga manusia biasa, tak tahan jika di perlakukan begitu.
Arzan menatap istrinya dengan dingin,
"Kamu nggak liat kalo aku baru pulang? Aku capek!" bentak Arzan sehingga Aisyah berjengkit mundur. Ia menatap suaminya dengan tatapan nanar.
"Ma-mas. Maaf, tapi semua ini harus di bicarakan." cicit Aisyah seraya mati-matian menahan buliran bening yang sebentar lagi akan turun akibat bentakan oleh suaminya.
"Apa yang perlu di bicarakan lagi?"
"Mas, aku tidak bisa jika di diamkan terus seperti ini."
"Jika tidak mau di diamkan, maka jangan murahan jadi perempuan! Aku kira kamu berbeda, ternyata kamu sama saja!"
Deg ....
Sungguh, kata - kata Arzan sangat menusuk hati, buliran bening itu keluar deras tanpa ada hambatan. Meluncur membasahi wajahnya, hatinya sakit. Sangat sakit.
"Ma-mas, tega banget kamu bilang aku murahan." lirih wanita itu dengan dada yang sangat sesak.
"Lalu? Harus ku sebut apa wanita seperti kamu? Sudah tidak perawan setelah menikah."
"Kata-kata kamu itu menyakitkan buat aku, mas."
"Lalu, aku harus apa? Memangnya keperawanan kamu hilang karena apa? Sehingga kamu tidak terima di bilang murahan? Kamu di perkosa? Atau apa?"
Aisyah terdiam, ia menatap suaminya dengan perasaan hancur.
"Jawab Aisyah! Jangan diam saja!" Pria itu mengguncang tubuh istrinya, ia juga ingin mendapatkan jawaban dari segala pertanyaannya selama ini.
"Siapa yang sudah merenggut kesucian kamu!" Arzan masih memegang bahu istrinya.
"Mas, a-aku ...."
"Katakan siapa! Jangan ada yang di tutupi lagi dari suami kamu!"
Suara tangis Aisyah semakin kencang, ia sungguh menyesal atas masa lalunya.
__ADS_1
"Dia pacarku, sewaktu aku masih kuliah." cicit Aisyah di sela Isak tangis. Tak ada lagi yang perlu di tutupi olehnya.
Arzan terlihat shock, ia melepaskan cengkraman tangannya di bahu istrinya. Tubuhnya reflek mundur ke belakang. Ia menatap Aisyah dengan perasaan sakit dan kecewa.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang? Lalu, kenapa kamu marah ketika aku bilang murahan?"
"Meski masa lalu ku buruk, tapi kata-kata kamu itu tetap saja menyakitkan bagi aku mas."
"Kamu sangat mengecewakan, Aisyah. Aku menyesal, sangat menyesal." Arzan berjalan melewati Aisyah yang masih terisak pilu.
"Mas, mau kemana?" ia memberanikan diri untuk bertanya. Arzan menghentikan langkahnya, menoleh pada wanita yang baru beberapa hari di nikahinya itu.
"Jangan pernah bertanya apapun lagi padaku!
Dan semua ini bukan urusan kamu! Kita cerai!"
Deg ....
Bagai tersambar petir di siang hari, Aisyah melotot sempurna. Tak menyangka jika satu kata keramat itu harus keluar dari mulut sang suami. Setelah itu Arzan segera keluar kamar, tak lama terdengar suara mobil yang keluar dari garasi. Aisyah meremas serta memukul dadanya yang terasa sesak, tubuhnya luruh ke lantai yang dingin. Ia menekuk lututnya, meratapi nasib yang membuatnya sakit luar biasa. Bagaimana bisa ia di ceraikan ketika usia pernikahan masih seumur jagung? Menjalin keluarga bahagia hingga tua tampaknya hanya sekedar khayalannya saja.
"Maafkan aku, mas. Maaf ...." lirihnya di sela Isak tangis. Ia memukul dadanya dengan kuat, demi menghilangkan sesak yang membuatnya kesulitan bernapas.
Apa yang akan ia katakan pada ayahnya nanti? Terbayang akan wajah kecewa sang ayah jika benar Mereka harus bercerai.
Aisyah duduk di kursi taman samping rumah, tatapannya jauh ke depan. Pikirannya kosong, sudah dua hari ini Arzan pulang dalam keadaan mabuk. Ia akan berangkat pagi-pagi sekali, lalu pulang saat sudah larut malam dalam keadaan mabuk. Aisyah menyadari jika berubahnya sikap Suaminya itu karena dirinya. Terlebih lagi di setiap kali ia mengigau, Arzan selalu memaki tanpa sadar.
"Dasar wanita murahan! Ku kira kamu wanita baik-baik, tapi ternyata sama saja. Aku menyesal sudah menikahi kamu! Aku sangat kecewa! Kau sangat mengecewakan!"
Masih jelas terngiang di telinganya, rasa sakitnya, serta hancur hatinya ketika mendengar umpatan kasar yang jelas-jelas di tujukan untuknya. Aisyah menghapus setitik bulir bening yang jatuh tanpa permisi. Entah berapa banyak air mata yang jatuh, ia tak tahu. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak jelas, tubuhnya pun mulai kurus.
"Apa wanita seperti ku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan? Apa aku memang tak pantas memiliki pernikahan yang bahagia?" Aisyah kembali tergugu sendirian di kursi taman itu. Tak jauh dari sana mbok Sumi memperhatikan dirinya. Ingin sekali rasanya asisten rumah tangga itu menghampiri dan meminjamkan bahunya, mendengar keluh kesah sang majikan. Tapi ia tidak ingin nantinya di anggap lancang. Sehingga ia hanya bisa berdoa jika rumah tangga majikannya baik-baik saja. Mbok Sumi pun pergi dari sana untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Sementara itu, Aisyah masih sibuk dengan pikirannya. Ia teringat akan masa lalu kelamnya empat tahun lalu.
Empat tahun lalu, ia menjalin hubungan dengan kakak tingkatnya di kampus. Awalnya mereka hanya berpacaran seperti biasa tanpa ada sentuhan fisik yang lebih. Sekedar berpegangan tangan, ataupun mencium kening dan pipi. Layaknya anak muda biasanya, mereka sering nonton ke bioskop atau pun main di mall. Pada suatu waktu, Rendi kekasihnya membawanya ke rumah pria itu di saat rumahnya kosong. Keluarga Rendi sedang ke luar kota untuk menjenguk tantenya yang sakit.
"Aisyah, apakah kamu mencintaiku?" tanya pria dengan potongan rambut undercut itu. Ia menatap intens pada wanita cantik yang ada di hadapannya. Membelai lembut wajah bersih milik Aisyah menggunakan jemarinya, menciptakan gelanyar aneh yang pertama kali di rasakan oleh Aisyah.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Sudah jelas aku sangat mencintaimu."
"Tapi aku perlu bukti."
Aisyah mengernyitkan keningnya.
"Bukti?"
__ADS_1
"Hu um ...." Pria itu mulai menjelajahi wajah Kezra dengan ujung hidungnya.
"Bukti apa, Ren? Selama ini aku selalu setia sama kamu. Selama satu tahun kita pacaran, aku selalu nemenin kamu."
"Sayang, aku mau kamu memberikan semua milikmu padaku. Agar aku yakin bahwa kamu cuma milik aku seutuhnya. Aku takut kamu meninggalkan aku. Aku nggak mau kehilangan kamu." Rendi menatap Aisyah, mata pria itu terlihat sayu di penuhi napsu.
"Apa maksud kamu, Ren?"
"Aku menginginkanmu. Semua yang ada padamu." Bisiknya.
"Tapi, Ren. Aku takut ...." cicit Aisyah dengan cemas.
"Kenapa harus takut? Teman-teman kita sudah sering melakukan hal itu, dan hal itu juga sudah biasa di lakukan dalam berpacaran."
Aisyah diam, sibuk dengan pikiran dan ketakutan dalam dirinya.
"Aku berjanji akan bertanggung jawab. Jika kamu hamil nantinya, aku pun akan segera menikahimu." rayu Rendi sekali lagi.
Aisyah menatap Rendi dengan ragu.
"Kamu berjanji akan bertanggung jawab?"
"Iya sayang. Aku janji!"
Berbekal sebuah janji dari pria yang ia cintai, Aisyah merelakan mahkota paling berharga miliknya. Semenjak saat itu, mereka sering melakukan **** bebas setiap kali bertemu. Rendi yang notabenenya anak orang berada, tak berat untuk dirinya menyewa hotel demi memuaskan napsu terlarangnya. Begitu pun Aisyah yang terlanjur sangat mencintai Rendi, ia tak dapat menolak setiap pria itu mengajaknya bercinta.
Tapi janji tinggallah janji. Suatu hari ketika keduanya bertemu, Rendi memberikan sebuah undangan pernikahan di taman tak jauh dari rumahnya.
"Siapa yang akan menikah?" tanya Aisyah dengan wajah cerianya sambil menerima surat undangan yang sangat mewah itu.
Rendi hanya diam tanpa kata, bahkan ia menunduk tak berani menatap kekasihnya. Aisyah pun mulai curiga ketika melihat wajah Rendi yang sangat berbeda dengan biasanya. Apalagi ada inisial R dan L di cover luar undangan. Dengan cepat Aisyah membukanya, benar saja. Mempelai pria itu bernama Rendi Pratama, kekasihnya. Bendungan air mata itu tak dapat lagi di tahan, mengalir dengan deras tanpa mau berhenti.
"Apa maksud semua ini, Ren?" tanya Aisyah dengan suara parau.
"Maafkan aku. Mama dan Papa menjodohkan aku dengan anak teman mereka. Aku tidak bisa menolak, karena jika aku menolak maka aku akan di coret dari ahli waris."
Aisyah tak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur. Tak ada lagi yang tersisa darinya. Ia telah kehilangan semuanya.
"Kamu bilang hanya akan menikahi aku. Kamu bilang kamu akan bertanggung jawab. Lalu aku nanti gimana, Ren? Nggak akan ada yang mau sama perempuan yang udah rusak kayak aku!"
"Pasti ada kok. Apalagi kamu cantik. Maafkan aku, ya. Aku tidak bisa jika harus di buang dari keluarga. Aku pamit," ujarnya seraya berdiri meninggalkan Aisyah yang hancur.
Asiyah berdiri, mencoba mengejar Rendi yang semakin menjauh. Ia terjatuh tersandung karena tubuhnya lemah tak berdaya. Tubuhnya bagai gak bertulang.
"Jangan tinggalkan aku, Ren! Kamu harus bertanggung jawab! Kamu harus menikahi aku!" teriaknya putus asa. Ia meraung sejadi-jadinya, tak mempedulikan pandangan orang-orang di sekitar taman sore itu.
__ADS_1