Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 12


__ADS_3

Meski kau telah menjauh,


tapi tidak dengan aku.


Aku masih di sini menunggumu, dengan cinta dan rasa yang sama.


Di bawah pohon Trengguli, saksi bisu atas cinta kau dan aku.


🌻🌻


Happy reading


Aisyah keluar rumah untuk menghilangkan kejenuhan serta kegalauannya. Ia tidak ingin berlarut dalam kesedihan yang mengungkungnya. Mencari udara segar demi merilekskan pikiran serta hatinya, menatap kembali perasaan yang jatuh berserakan. Membangun kembali perasaan yang terlanjur runtuh, hancur berkeping. Ia berjalan menyusuri rak panjang yang menyusun berbagai macam buku. Aisyah pun berjalan pada rak yang menyediakan berbagai judul novel best seller, karya penulis terkena lalu mengambilnya satu. Membaca sinopsisnya sebentar, ia mulai tertarik dengan gaya penulisannya yang simpel dan mudah di mengerti. Ia langsung jatuh hati pada buku dengan sampul bewarna baby blue dengan judul Mencintai dalam diam. Tanpa berlama-lama ia segera membawanya.


Berjalan, menyusuri trotoar di siang hari sendirian. Sesekali menikmati semilir angin yang berhembus meniupkan Surai hitam panjang miliknya. Memberikan kesejukan yang membuatnya sesekali memejamkan mata. Bersyukur atas nikmat Tuhan yang di berikan.


Melihat sebuah bangku panjang di bawah pohon Trengguli, ia tersenyum tipis. Kilasan kejadian beberapa waktu lalu membuatnya tersenyum getir. Kemarin, di bawah pohon yang menjadi saksi bisu atas lamaran sang suami. Dirinya begitu bahagia karena telah di lamar oleh kekasih yang teramat ia cintai. Hingga dirinya dan Arzan melangsungkan pernikahan. Rumah tangga yang ia kira akan bahagia, tak di sangka semuanya akan penuh duka dan air mata. Masa lalu itu, membuat pernikahan impiannya hancur berantakan. Ia pun tak tahu apakah pernikahannya bisa di selamatkan atau tidak.


Wanita bersurai hitam itu terus melangkah menuju bangku panjang itu, mendaratkan tubuhnya yang lelah di sana. Meraba samping tempat duduknya, teringat akan waktu itu. Di tempat itu, mereka duduk berdua membicarakan pernikahan. Masih teringat sangat jelas wajah bahagia pria yang selalu ada di hatinya itu. Memintanya dengan penuh harap untuk menjadi istrinya, berjanji untuk terus bersama apapun yang keadaannya. Berjanji akan menerima apapun masa lalunya, tak kan mempermasalahkan semua yang telah terjadi di masa lalu. Ah semuanya begitu indah kemarin, tapi kenyataannya tak seindah bayangannya. Apakah dirinya begitu sangat mengecewakan sehingga suaminya langsung berubah 180 derajat? Sikap yang awalnya sangat hangat, kini berubah sedingin es. Rasa sesal terus menggerogoti hatinya, tapi kembali lagi. Sampai kapan ia terus menyesali hal yang terjadi? Nasi sudah menjadi bubur. Ia hanya berpasrah pada yang menciptakannya, dan berusaha menjadi istri yang baik meski suaminya tak pernah bisa menerimanya dengan baik.


Seorang pria datang menghampiri, duduk cukup lama di sampingnya. Memperhatikan wanita yang hanya melamun menatap bibir jalan, tatapannya kosong hingga tak menyadari ada orang lain di sampingnya.


Pria itu membiarkan Aisyah yang sibuk dengan pikirannya, hingga beberapa menit berlalu membuatnya jengah. Aisyah sangat betah melamun hingga mengabaikan kehadirannya.


"Ngelamunin apaan sih neng? Kok betah banget dari tadi?" kata pria itu akhirnya. Meski begitu, Aisyah tetap menatap kosong pada jalanan yang mungkin terlihat lebih menarik dari apapun. Hingga membuat pria itu kesal bukan main, ia pun mengambil tindakan agar keberadaannya di sadari oleh wanita itu.


"Kebakaran! Kebakaran!" teriak pria itu tepat di telinga sang wanita yang sedang fokus melamun. Sontak saja teriakan pria itu membuat Aisyah berjengkit kaget hingga dengan refleks berdiri panik.


"Dimana kebakaran? Mana kebakaran?" jeritnya dengan panik. Melihat Aisyah yang terkejut bukan main membuat pria jahil itu terbahak-bahak. Ia tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya yang sakit. Menyadari bahwa ia di kerjai oleh sang pria membuat Aisyah kesal. Ia memukul pelan bahu pria yang terguncang karena tertawa itu. "Kenapa kamu mengerjai ku? Dasar jahil!" teriaknya kesal.

__ADS_1


"Haha ... Lihatlah wajahmu! Seperti pakaian yang belum di setrika. Sangat kusut dan jelek!" pria itu menunjuk wajah Aisyah yang cemberut.


"Kamu sih! Kenapa kamu mengerjai ku? Kalo aku jantungan gimana?"


"Ya bagus dong. Kalau nggak jantungan ya mati kamu."


"Astaga ini anak. Ngapain sih kamu di sini?" tanya Aisyah seraya mendaratkan bokongnya kembali. Duduk di sebelah pria yang menjadi temannya semasa kuliah.


"Aku nggak sengaja lewat, lihat pengantin baru sendirian. Bengong kayak sapi ompong,"


Aisyah mencebik.


"Enak aja kayak sapi ompong!"


"Lagian ngapain sih, bengong sendirian di sini? Pengantin baru itu harusnya kemana-mana berdua. Jangan kebanyakan melamun kagak jelas. Untung nggak di rasuki penunggu pohon. Kalo sampe kerasukan repot."


"Dih. Jelek banget ucapannya."


"Aku baru balik dari perpustakaan kota, terus tadi nggak sengaja mampir buat ngadem."


"Benarkah?" tanya pria yang bernama Haris itu tak percaya. Aisyah hanya mengangguk menanggapi.


"Kok aku nggak percaya, ya? Kalian baik-baik aja, 'kan?" tanya Haris ingin tahu. Aisyah melirik pria yang ada di sampingnya sebentar, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada jalanan yang ramai.


"Baik kok. Memangnya kenapa?"


"Nggak apa-apa. Setelah menikah, kok aku malah lihat muka kamu sama Arzan beda."


Aisyah mengernyitkan dahi, menatap bingung pada Haris.

__ADS_1


"Beda gimana?"


"Ya beda aja. Nggak seceria biasanya."


"Ah nggak kok. Kita baik-baik aja, mungkin mas Arzan capek karena pekerjaannya sangat banyak akhir-akhir ini. Bagitu pun dengan aku, terlalu banyak hal yang di kerjakan membuat aku kurang istirahat." ujarnya. Ia berusaha terlihat baik-baik saja. Bagaimana pun tak baik mengumbar masalah internal pada orang luar yang tak seharusnya tahu masalah rumah tangganya.


Pria itu manggut-manggut, lalu menatap sendu pada wanita yang ada di sebelahnya.


"Semoga kalian selalu baik-baik saja dan bahagia, ya. Aku akan selalu mendo'akan kalian berdua. Jika ada masalah, cerita aja sama aku. Aku pasti bakal bantuin kamu dan selalu ada buat kamu." ucap pria itu tulus. Bulir bening menggenang di pelupuk mata Aisyah, ingin rasanya ia menceritakan semua hal yang terjadi pada pernikahannya. Tapi sekuat hati ia menahan karena tak ingin orang lain tahu keretakan rumah tangga yang baru seumur jagung itu.


"Terima kasih, ya. Kamu selalu baik padaku. Aku dan mas Arzan baik-baik aja kok. Dan kami akan selalu bahagia." ujarnya seraya tersenyum.


Ya, aku berharap semua akan baik-baik saja dan kami akan bahagia. Batin Aisyah dalam hati.


"Nggak boleh makasih, kalo traktir baru boleh." canda pria itu seraya terkekeh.


"Kamu mah selalu gitu. Makan aja yang di pikirin."


"Ya kalau ada yang mau traktir, kenapa nggak?" pria itu menaik turunkan alisnya.


"Astaga. Udah jadi atasan masih aja minta traktir. Harusnya aku yang minta traktir!"


"Boleh, tapi lain kali ya. Nanti juga ada waktunya."


"Siap, aku tunggu." balas Aisyah seraya tersenyum manis.


Deg ....


Jantung Haris hampir meledak mendapatkan senyuman manis dari wanita yang ada di hadapannya. Bunga itu masih bermekaran, tak pernah layu meski harapan tak ada lagi. Dengan segenap tenaga, ia tekan dalam-dalam perasaan yang tak tahu malu itu. Yang terus menyelinap membisikkan kata indah di relung jiwanya. Mencoba melupakan dan meredam, tapi semakin di redam rasa itu semakin dalam. Tanpa di sadari keduanya, sepasang mata menatap geram pada keduanya. Mencengkram dengan kuat setir mobil yang di pegangnya.

__ADS_1


"Brengsek!" umpatnya kesal dan memukul setir mobil dengan kuat.


__ADS_2