Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 66


__ADS_3

Aisyah berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan sendal jepit yang di kenakannya. Rambut acak-acakan bahkan piyama dengan motif Doraemon bewarna biru masih melekat di tubuhnya. Wanita itu segera menuju ruang rawat Mawar no.25 sesuai informasi dari seseorang yang menghubunginya di telepon. Ia sedang tertidur ketika ponselnya berdering dan memberi kabar bahwa Desy masuk rumah sakit karena kecelakaan. Sesampainya di ruang rawat yang di maksud Aisyah tidak menemukan siapa pun di sana sehingga membuatnya kebingungan. Dirinya baru saja akan keluar ketika seorang pria masuk seraya berlari ke dalam ruangan itu. Bahkan keduanya hampir tabrakan jika saja Aisyah tidak menghindar.


"Arman?" Aisyah mengerutkan keningnya.


"Aisyah? Kenapa kamu ada di sini?" tanya pria itu sama terkejutnya. Wajahnya juga tampak panik dan khawatir.


"Aku di sini karena mencari sahabat ku. Kamu ngapain di sini?"


"Ya aku juga mencari adik aku yang katanya di rawat di ruangan ini."


"Loh, kok sama. Tapi di sini tidak ada siapa-siapa." kata Aisyah bingung seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Coba saya lihat ke toilet." kata pria itu seraya berjalan ke arah toilet di ikuti oleh Aisyah. Keduanya berjalan ke toilet, baru saja masuk tiba-tiba Aisyah merasakan tubuhnya di dorong dengan kuat ke dalam toilet dan tak sengaja menubruk tubuh Arman. Keduanya jatuh terjengkang ke lantai, tiba-tiba pintu toilet di tarik seseorang dari luar.


"Woy! Siapa kamu?!" teriak Arman sembari membantu Aisyah berdiri.


"Selamat bersenang-senang!" teriak seorang pria yang suaranya sangat Arman kenal.


"Weh, Haris! Buka pintunya sekarang juga!" teriak Arman dengan keras tapi sia-sia. Terdengar suara tawa Desy dan Haris dari luar.


"Apa ini semua rencana mereka?" tebak Aisyah seraya menatap Arman.


"Bisa jadi," Arman mengangguk. Ia membersihkan pakaiannya yang sedikit kotor.


"Tapi kenapa? Aku bahkan tidak sempat cuci muka." rutuk Aisyah seraya membenarkan rambutnya yang berantakan. Rambut yang biasa tergerai itu di ikat Cepol ke atas. Penampilannya sangat berantakan.


"Pantesan ada bau-bau tidak enak." celetuk Arman.


"Enak saja! Kamu tuh yang bau tidak enak. Mandi juga belum. Bahkan kelihatannya pulang aja belum."


"Iya, tadi aku masih di kantor. Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengatakan bahwa Haris di rawat."


"Tunggu dulu! Jadi kamu dan Haris kakak beradik?"


Arman mengangguk.


"Ya, kami bersaudara."


"Astaga. Benar-benar ya, mereka. Ini pasti ulah mereka berdua." kata Aisyah kesal. Ia duduk di atas kloset yang tertutup. Ia tidak kuat jika harus berdiri lebih lama.

__ADS_1


"Jadi, kita harus bagaimana?" tanya wanita itu pada Arman.


"Ya bagaimana lagi? Tidak ada jalan keluar di sini." pria itu mengedarkan pandangannya ke ruangan yang sempit itu. Hanya ada lubang ventilasi yang sangat kecil.


"Kau benar! bahkan aku melupakan ponsel entah dimana." kata Aisyah semakin kesal.


"Ya, tampaknya aku juga begitu." sahutnya pasrah. Arman segera menggedor pintu toilet berharap agar Haris dan Desy membukakan pintu untuk mereka.


Hingga malam tiba, keduanya masih terjebak di dalam toilet rumah sakit. Sesekali Aisyah menguap dan memegangi perutnya yang lapar. Sejak tadi siang perutnya belum di isi sama sekali.


Kruuuk ....


Terdengar suara dari perut wanita itu sehingga membuatnya tersipu malu.


"Apa kamu lapar?" tanya Arman pada Aisyah.


"Tidak. Aku mengantuk." jawab Aisyah acuh tak acuh. Mendengar hal itu membuat Arman mencoba mengabaikan wanita itu meski sesekali ia mencuri pandang. Aisyah tampak semakin menekan perutnya yang sakit.


"Ini." Arman mengulurkan sebungkus roti dari sakunya. Aisyah melihat itu dengan horor.


"Dapat dari mana?"


"Ih jorok banget sih?"


"Ya abisnya nanya yang aneh-aneh aja. Mau apa nggak? Kalo enggak ya udah untuk aku aja."


"Nggak!" tolak Aisyah jual mahal.


"Ya udah kalau nggak mau, rotinya aku makan sendiri." kata Arman seraya membuka plastik roti tersebut. Melihat hal itu membuat Aisyah menelan ludah. Perutnya sangat lapar saat ini.


"Uhh enak banget. Apalagi coklatnya, meleleh banget." katanya seraya melirik Aisyah yang melihat rotinya dengan penuh minat.


"Beneran nggak mau?" kata Arman. Aisyah hanya diam saja, lalu tanpa aba-aba Arman menyuapi wanita itu sehingga membuat Aisyah mendelik.


"Makan aja. Kamu kelihatan sangat lapar." Aisyah tersenyum, ia mengunyah roti itu pelan-pelan seraya tersipu malu. Detik berikutnya jari Arman terulur untuk mengusap sudut bibir Aisyah yang terdapat sisa coklat.


"Pelan-pelan makannya, nggak akan ada yang merebut." kata Arman lembut. Perlakuan yang begitu romantis itu membuat Aisyah terpana.


Keduanya saling tatap sebentar, lalu setelah sadar keduanya sama-sama malu dan mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Setelah rotinya habis, Aisyah dan Arman menyenderkan tubuh mereka ke dinding toilet yang sempit. Tak lama Aisyah tertidur dengan kepala yang sering hampir terjatuh. Melihat hal itu Arman meletakkan kepala wanita itu di bahunya dan mengusap pelan kepala Aisyah. Ia menatap wanita itu penuh cinta dan kesedihan. Ia sangat mencintai wanita yang saat ini bersamanya. Tapi mengingat jika adiknya juga memiliki perasaan yang sama membuatnya harus mengubur dalam-dalam perasaan itu. Akhirnya keduanya tertidur bersama dengan kepala saling menempel dan jemari mereka saling bertaut sampai pagi. Keduanya tak menyadari jika hari sudah pagi. Pintu toilet terbuka, Desy dan Haris tersenyum melihat keduanya.


"Sepertinya rencana kita berhasil." kata Haris sambil tersenyum.


"Iya, kamu benar." Desy mendekati keduanya dah membangunkannya.


"Aisyah, bangun." Desy mengguncang tubuh sahabatnya dengan lembut sementara Haris membangunkan Kakaknya. Mata Kedua orang berbeda jenis kelamin itu akhirnya terbuka. Keduanya kaget dengan posisi mereka yang sangat dekat. Sempat bertatapan sebentar, tapi segera tersadar dan buru-buru bangun dan berdiri menjauh.


"Ciee ... Akhirnya tidur bareng di toilet." ejek Desy dan Haris serempak.


"Apa sih kalian? Ini semua pasti ulah kalian berdua 'kan?" tuding Aisyah. Haris dan Desy hanya tertawa kecil.


"Udahlah, jadian aja. Lagian kalian berdua cocok kok. Kalian juga sebenarnya saling suka. Tapi pada gengsi aja." kata Haris seraya tersenyum.


"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Arman. Haris mendekati kakaknya dan menepuk pundaknya pelan.


"Kak, aku ikhlas kok kalian bersama. Lagi pula kalian saling mencintai. Jangan khawatirkan aku, karena aku sudah bersama Desy sekarang." ujarnya seraya tersenyum tulus.


"Kalian?"


"Ya, kami udah jadian." kata Haris. Sontak saja hal itu membuat Aisyah langsung menutup mulutnya yang terbuka.


"Beneran?"


Keduanya mengangguk. Aisyah memeluk Desy penuh haru. Ia sangat tahu bagaimana perasaan Desy dari dulu.


"Selamat, ya. Semoga langgeng terus." ucapnya penuh haru.


"Aamiin." sahut keduanya.


"Sekarang tinggal kalian yang jadian. Kalian itu cocok banget tahu nggak." kata Desy seraya tersenyum bersama Haris. Arman dan Aisyah saling tatap, keduanya merasakan debaran jantung yang semakin kuat.


"Aku tidak mau jadian." kata-kata Arman sangat mengejutkan. Wajah Aisyah tampak kecewa, senyum di wajah wanita cantik itu menghilang. Aisyah menunduk, meremas jemarinya dengan kuat.


"Kak, apaan sih?" Haris mendelik. Arman tak mengalihkan tatapannya pada wanita yang ada di hadapannya.


"Aku maunya langsung nikah." kata Arman sekali lagi mengejutkan semua yang ada di sana. Wajah Aisyah terangkat, ia menatap tak percaya pada pria yang kini sedang menatapnya penuh senyum.


"A-apa?" mulut Aisyah ternganga. Ia cukup terkejut dengan pernyataan yang keluar dari mulut pria itu. Begitu juga dengan Haris dan Desy.

__ADS_1


__ADS_2