
Rintik hujan turun membasahi bumi
Membawa sejuta kerinduan di dalam hati
Ingin sekali menemui tapi aku sadar diri
Jangan kan bertemu, bahkan memikirkannya pun tak pantas lagi
🌷🌷
Happy reading
Aisyah memutuskan untuk pergi dari taman itu. Ia merasa malu juga kesal karena pria yang ia temui tadi. Sepanjang jalan ia menggerutu, mengomel sendiri mengingat pria asing yang tiba-tiba muncul merusak sesi curhatnya pada alam.
"Dasar pria gila! Pria aneh! Masak tidur di bawah pohon? Kenapa nggak di atas pohon sekalian? Biar jadi penunggu pohon kayak om genderuwo atau Tante Kunti!" rutuknya kesal seraya menjalankan motornya. Baru saja beberapa kilo meter ia berkendara, hujan turun dengan derasnya sehingga ia terpaksa mencari tempat untuk berteduh. Tepat di dekat lampu merah, ada sebuah bengkel yang sedang tutup. Ia segera membelokkan motornya ke sana. Wanita itu segera turun melepaskan helm, lalu mengusap pakaiannya yang sedikit basah terkena air hujan.
"Ah sial! Semalam aku mimpi apa sih? Udah ketemu pria gila, terus sekarang hujan. Benar-benar sial!" rutuknya seraya mengelap wajahnya yang basah. Wanita itu duduk di bangku panjang berbahan kayu sederhana di sana seraya memeluk helm bewarna pink miliknya. Menatap jalanan yang ramai, banyak pengendara mobil sedang berhenti di lampu merah. Sementara pengendara motor banyak yang berteduh untuk menyelamatkan diri. Bahkan ada beberapa pengendara motor lainnya yang ikut berteduh bersamanya di bengkel kosong itu. Tanpa Aisyah sadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya. Pria itu berada di dalam sebuah mobil bewarna hitam dengan kaca mobil yang tertutup. Ia tak sengaja melihat Aisyah yang sedang berteduh.
"Bukankah perempuan itu yang aku temui di taman tadi?" pria itu mengernyitkan keningnya dan memperjelas penglihatannya.
"Ah benar! Dia perempuan aneh itu. Kasihan dia harus berteduh karena hujan. Apakah aku harus memberikan tumpangan?" ia bergumam seraya mengulum senyum. Tapi beberapa detik kemudian ia mengurungkan niatnya kembali.
"Ah kenapa aku harus memberikan perempuan itu tumpangan? Lagi pula sepertinya dia tidak akan mau. Biarkan saja lah." ujarnya kemudian. Tapi setelah itu ia terus memperhatikan wanita yang ada di seberang jalan. Aisyah berdiri, mengulurkan kedua tangannya di bawah tetesan air hujan. Senyum manis tersemat di wajah ayu wanita itu. Wajah yang teduh, menyimpan sejuta kesedihan serta kepedihan.
__ADS_1
"Wanita itu cukup pandai menyimpan kesedihannya. Aku tahu, hatinya sedang tidak baik-baik saja." gumam pria itu seraya terus menatap ke arah Aisyah yang sibuk menikmati air yang turun dari langit membasahi bumi. Sesekali ia memejamkan mata, berharap hujan berlalu serta badai yang menerpanya hilang terbawa hujan. Hatinya sedih dan begitu sangat sakit, tapi ia tetap harus bangkit.
"Mengapa wanita itu begitu cantik dan manis? Ah kenapa aku bisa memujinya begini?" pria itu salah tingkah. Wajah cantik alami milik Aisyah bisa mengalihkan dunianya.
"Meski dia terlihat menyebalkan, tapi tak bisa di pungkiri wanita itu memiliki aura positif yang kuat. Aku yakin, dia telah melewati banyak hal menyakitkan. Dia terlihat kuat dan tegar. Aduhh ... kenapa aku selalu memikirkan dia? Jangan sampai terbawa mimpi! Bisa kacau ini." ia menggelengkan kepalanya seraya terus tersenyum. Mencoba mengalihkan pandangannya dari sang wanita di seberang sana, tapi sesekali masih juga melirik mencuri pandang pada Aisyah.
Di tempat yang sama di mobil yang berbeda, Arzan dan Dita kebetulan juga berasa di sana. Pria itu menangkap keberadaan Aisyah di bengkel kosong itu. Arzan ingin keluar untuk menghampiri istrinya tapi di cegah oleh Dita.
"Kakak mau ngapain?" tanya Dita seraya mencekal lengan pria itu.
"Aku harus menemui Aisyah. Kasihan dia kehujanan."
"Kakak udah gila? Ninggalin aku di lampu merah demi kak Aisyah? Bisa di tabrak orang kalo kita nggak jalan pas lampu hijau. Jangan aneh-aneh deh kak. Kakak kan bisa menemuinya lain kali. Oh ya, temui dia di persidangan!" wanita itu melotot tak suka.
"Udahlah kak, sebentar lagi lampu akan berubah jadi hijau! Jangan kemana-mana!" ujarnya penuh penekanan. Arzan terpaksa harus mengurungkan niatnya karena tak lama lampu telah berubah warna. Dengan sangat terpaksa pria itu melanjutkan perjalannya tanpa bisa menghampiri sang istri yang tampak begitu kedinginan. Tadinya ia akan pulang setelah dari ruang Aisyah, tapi Dita minta untuk di jemput sepulang kuliah. Hingga keduanya harus melihat Aisyah yang berteduh di bengkel kosong itu.
"Jangan pernah berharap kakak bisa bersama Kak Aisyah lagi. Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!" ujar Dita dalam hati. Ia melirik pria yang mengemudi di sebelahnya dengan cemas. Tersenyum sinis penuh arti, menatap lurus ke depan. Bahkan ia berencana akan semakin mempercepat pernikahan mereka. Dirinya tidak ingin jika nanti Arzan akan berubah pikiran dan kembali pada istrinya. Wanita itu menatap Arzan dengan licik, lalu bergelayut manja di lengan pria itu. Kepalanya ia sandarkan di bahu sang kakak ipar. Arzan terlihat risih dan berusaha menjauh tapi tidak bisa.
"Dita, kakak lagi nyetir. Tolong jangan mengganggu." ujarnya risih. Ia pun merasa konsentrasinya buyar karena Dita yang terus bergelayut serta sesekali meraba tubuhnya.
"Kak, apa kakak nggak rindu sama aku? Bukankah kita ... sudah lama tidak melakukannya? Aku sangat merindukan kakak." rengeknya dengan suara manja serta tangan yang kini menjalar kemana-mana.
"Hentikan, Dit. Kita bisa celaka!"
__ADS_1
"Aku tidak akan berhenti sebelum kakak mengatakan kapan akan melakukannya denganku. Aku sangat merindukan kakak. Aku sangat ingin merasakan punya kakak lagi. Kak, aku sangat merindukan kakak."
"Aku rindu, berkeringat bersama kakak lagi." bisiknya penuh gaya sensual. Ia berbisik mesra di telinga Arzan yang menyetir.
"Menjauh Lah, Dit. Jangan seperti ini! Kita bisa mati nanti!" bentak Arzan kesal. Sontak saja Dita memanyunkan bibirnya lalu terpaksa menjauhkan diri dari Arzan.
"Kakak kenapa sih? Semenjak kak Aisyah tahu, kakak seolah menjaga jarak dari aku. Padahal sebentar lagi kita akan menikah dan aku sedang mengandung anak kakak. Harusnya kakak bersikap lebih baik ke Dita."
"Kamu jangan memperkeruh keadaan! Kamu tidak tahu bagaimana hancurnya aku dan Aisyah karena semua ini."
"Ya kakak jangan mengabaikan aku, dong. Aku juga ingin di perhatikan oleh kakak."
"Jangan berharap lebih! Aku menikahimu karena bentuk tanggung jawab pada anak yang ada di dalam perut kamu. Tidak lebih!" Dita tidak terima. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan kesal.
"Kenapa kakak bilang seperti itu? Bukankah awalnya kita melakukan semuanya dengan dasar suka sama suka? Kita melakukanya dalam keadaan sadar!" Dada wanita itu naik turun menahan emosi.
"Maafkan aku, Dit. Waktu itu kakak khilaf." ujarnya penuh penyesalan.
"Apa kakak bilang? Khilaf?" Tanya Dita tak percaya. Bahkan ia menggeleng, merebahkan kepalanya ke belakang. Ia menatap tak percaya pada pria yang ada di sampingnya.
"Kakak bilang khilaf padahal kakak sangat menikmatinya! Bahkan kakak sering meminta lagi menjelang subuh. Dan bisa-bisanya sekarang kakak bilang khilaf?"
"Benar-benar tidak bisa di percaya!" ucap Dita dengan kesal. Ia mendengus sangat kesal, ingin sekali melempar wajah pria yang ada di sampingnya dengan tas yang ia bawa. Sementara Arzan hanya menatap Dita sesekali, seperti tidak punya dosa.
__ADS_1
"Brengsek!" umpat Dita dalam hati.