
Akan terus ku pertahankan meski badai terus menghantam
Kan ku libas semua dengan kekuatan agar aku tak jatuh terlalu dalam
Kan ku hempaskan semua yang berusaha menghancurkan
Yang menjadi badai, suatu saat akan hancur dan masuk ke dalam lubang kehancuran
🌹🌹
Happy reading
Dita turun ke ruang makan ketika Aisyah baru selesai menyiapkan makan malam. Wanita itu melirik adiknya, menelisik penampilan sang adik yang menurutnya tidak pantas. Gadis itu hanya mengenakan gaun tidur tipis sebatas paha, bahkan bra-nya yang berwarna merah menyala sangat terlihat jelas di gaun tidur bewarna putih itu.
Gadis itu duduk begitu saja di meja makan, meraih sebuah apel yang ada di atas meja lalu menggigitnya.
"Dit, nggak ada baju lain?" tegur Aisyah. Gadis yang sedang sibuk mengunyah apel itu pun melirik ke arah kakaknya yang sedang menuangkan air minum ke dalam gelas di seberang meja.
"Emangnya kenapa? Terlalu cantik ya kalo Dita pake ini?"
"Cantik, tapi terlihat lebih murah!" sindir Aisyah. Ia meletakkan teko yang berisi air ke atas meja. Mendengar ucapan kakaknya Dita sangat kesal, ia berhenti mengunyah. Menatap kakaknya dengan tatapan tajam.
"Kakak bilang aku murahan?!" ujarnya tak terima.
Aisyah mengerling, menatap adiknya dengan bibir yang terangkat.
__ADS_1
"Siapa yang begitu?"
"Kalo iri bilang aja, kak. Seluruh dunia juga tahu kok kalau aku itu jauh lebih cantik dari pada kakak." cibir gadis itu seraya menatap sinis pada kakaknya. Di tatap seperti itu membuat Aisyah jengah.
"Jika ingin ikut makan malam, ganti pakaian kamu sekarang."
"Apaan sih kak? Model baju aja jadi masalah? Ribet banget deh banyak aturan." Dita memutar bola mata malas.
"Jika tidak ingin menuruti aturan di rumah ini, ya jangan tinggal di sini!"
"Kakak ngusir aku?" tanya Dita dengan marah.
"Kakak nggak ngusir, kalau kamu berpikir bahwa hidup di sini ribet karena banyak aturan ya silahkan cari tempat tinggal yang membebaskan kamu dan tidak membuat kamu ribet. Di sini kita tidak hanya tinggal berdua, di sini ada kakak ipar kamu! Apakah pantas jika kamu berpakaian seperti itu di depan suami kakak?Jika ada yang melihatnya pun, apa kamu siap jika di bilang sebagai wanita penggoda?"
"Kecuali kamu memang sengaja ingin menggoda kakak ipar kamu. Tapi ... Kakak yakin kamu masih ada hati. Nggak mungkin kamu akan tega merebut suami kakak kamu sendiri. Iya, 'kan Dit?" Aisyah menatap adiknya yang terlihat sangat emosi. Gadis itu hanya diam, menatap sang kakak penuh dengan kebencian.
"Jika ingin makan malam, cepat ganti pakaian kamu. Kakak akan memanggil suami kakak."
"Biar aku aja yang panggil kak Arzan." ucap gadis itu seraya hendak berdiri.
"Tidak perlu!" cegah Aisyah sehingga membuat Dita duduk kembali.
"Mas Arzan itu suami kakak, sudah seharusnya kakak yang memanggilnya. Lagi pula, kamu harus berganti pakaian jika ingin ikut makan. Jika tidak mau, sebaiknya kamu makan di dalam kamar." tegas Aisyah. Ia pun segera berlalu meninggalkan adiknya yang sebentar lagi akan meledak. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya dengan geram, menatap tajam pada punggung kakaknya yang bergerak menjauh.
Sementara itu Mbok Sumi mengintip dari dapur,
__ADS_1
"Nah gitu, nyonya. Hempaskan pelakor nggak tahu diri. Udah di kasih Tebengan eh malah berusaha memiliki, merebut hal yang bukan miliknya. Kalau aku berada di posisi Nyonya, udah aku habisin sampe ke akar-akarnya." ujar Mbok Sumi seraya kembali ke tempat cuci piring.
Rasanya Dita ingin pergi ke kamar saja dan tidak ingin turun lagi untuk ikut makan malam. Tapi dirinya tidak ingin melewatkan makan malam dimana di sana ada sang pujaan hatinya. Bahkan dirinya berniat akan membuat kakaknya lebih kesal malam ini. Ia ingin menunjukkan bahwa sang kakak ipar akan lebih memilihnya di banding istri sah-nya.
Ia pun bergegas menuju kamarnya untuk mengganti pakaian, lalu setelahnya ia turun kembali dan melihat Aisyah dan Arzan yang sudah berada di meja makan. Ia pun segera duduk di sebelah Arzan seperti biasanya tapi di cegah oleh Aisyah.
"Itu tempat duduk kakak, kamu bisa cari tempat duduk yang lain. Lagi pula bukannya kakak yang menjadi istri Mas Arzan? Sudah seharusnya bukan, jika sang istri berada di samping suaminya." mendengar hal itu membuat Dita kesal bukan main. Ingin protes tapi ketika ia melirik ke arah Arzan, pria itu menggeleng pelan sehingga dirinya hanya diam dan akhirnya hanya puas berada agak jauh dari Arzan. Aisyah dengan telaten menyiapkan makanan suaminya, mengambilkan lauk pauk dan memasukkan ke dalam piring sang suami.
Setelah selesai menyiapkan suaminya, Aisyah pun duduk di sebelah suaminya dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Hal itu tak lepas dari tatapan sang adik. Ia menatap dengan perasaan campur aduk. Rasa benci, cemburu, iri, kesal dan marah bercampur menjadi satu. Aisyah berusaha untuk mengabaikan gadis yang ada di meja makan itu. Berusaha sebaik mungkin untuk melayani sang suami.
"Kakak mau perkedel? Biar Dita ambilin yah," tawar Dita seraya berdiri, tangannya akan meraih sepiring perkedel kesukaan Arzan tapi Aisyah terlebih dulu mengambilnya. Dita menatap tak percaya pada kakaknya.
"Mas, kamu mau nambah perkedelnya? Ini aku ambilin." Aisyah menambahkan dua buah perkedel ke dalam piring suaminya, sehingga membuat Dita melongo. Mendapat perlakuan manis dari sang istri, membuat pria itu tersenyum.
"Terima kasih," ucapnya tulus.
"Sama-sama mas. Lagi pula itu 'kan tugas aku sebagai istri." katanya seraya duduk kembali dan melanjutkan makan malam itu. Ia melirik sebentar ke arah adik tirinya yang berusaha menahan gejolak amarah yang menggulung. Aisyah ingin menegaskan bahwa dirinya lah istri seorang Arzan. Ia tidak akan menyisakan celah sedikitpun untuk gadis yang berusaha merusak rumah tangganya. Ia tahu semuanya juga tidak lepas karena dirinya tapi rumah tangganya masih bisa di selamatkan jika tidak ada campur tangan orang ketiga yang akan semakin memperkeruh situasi. Ia akan berusaha memperbaiki semuanya, berusaha menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Terlepas dari itu semua ia hanya bisa berpasrah pada apa yang akan terjadi di masa mendatang. Terlepas dari utuh atau tidak lagi nantinya setidaknya ia sudah berusaha untuk memperbaiki serta mempertahankan rumah tangganya.
Dita tak berselera makan, ia hanya mengaduk makanannya dengan hati yang dongkol seraya menatap dua orang berbeda jenis kelamin yang ada di hadapannya.
"Kenapa nggak di makan, Dit?" tanya Aisyah berbasa-basi.
"Nggak selera!" sergah gadis itu sehingga membuat sudut bibir Aisyah terangkat. Ia pun segera meninggalkan meja makan dengan kesal. Arzan dan Aisyah pun hanya membiarkan adiknya pergi.
__ADS_1