
**Bahagia itu semakin sayup
Rinai kesedihan semakin menelusup
Menorehkan lara hingga basah kuyup
Tinta bahagia semakin samar
Menumbuk hati hingga memar
'Kan ku coba tuk tegar
Meski sakit terus datang menampar
🌻🌻
Happy reading**
Aisyah terbangun, ia mengerjapkan matanya berulang kali. Desy sahabatnya lega kala melihat Aisyah yang siuman dari pingsan.
__ADS_1
"Aisyah, kamu udah siuman?" sapa Desy pada sahabatnya itu. Aisyah kembali mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Mencoba memulihkan kesadaran, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia masih di rumah sakit, memutar ulang kejadian yang membuatnya pingsan. Menyadari bahwa Ayahnya telah tiada, Aisyah mendelik dan menjerit.
"Bapak ....!" teriaknya histeris. Air mata tak lagi bisa di bendung, ia segera bangun mengabaikan sahabatnya yang mencoba untuk mencegahnya.
"Aisyah, kamu harus tenang." ia pun bingung dengan situasi yang terjadi. Tidak tahu apa yang harus di ucapkan karena pada dasarnya hal ini sangat menyakitkan. Kehilangan, bukan hal yang mudah. Sama sepertinya yang pernah mengalami kehilangan Ayah dan Ibunya beberapa tahun lalu. Desy pun tak bisa membendung air matanya yang jatuh berkejaran menuruni kedua pipinya. Ia memeluk sahabatnya penuh rasa haru dan kesedihan. Tak bisa lagi mengeluarkan kata-kata penyemangat.
"Aku ingin ketemu Bapak, Des. Aku ingin ketemu Bapak ...." Aisyah meraung, menatap pintu ruangan tempatnya berbaring. Yang di pikirannya hanya sang Ayah.
"Iya, aku mengerti. Tapi tolong tenang ya," bujuk Desy seraya mengurai pelukannya. Ia menghapus air mata yang membasahi wajah sahabatnya itu. Aisyah mengangguk, tampak ia menghela napas panjang. Air matanya tetap turun tak dapat berhenti. Hatinya sangat sakit mendapati sang Ayah sudah tidak bernyawa. Padahal tadinya ketika dia pergi sang Ayah masih baik-baik saja. Bahkan pria yang sudah merawatnya sejak kecil itu sempat tertawa dan makan dengan banyak ketika di suapi oleh Aisyah.
"Wah, Bapak makannya udah banyak. Pasti sebentar lagi akan sembuh dan kita akan cepat pulang ke rumah."
Setelah tenang, Desy mengajak Aisyah untuk melihat sang Ayah untuk terakhir kalinya. Aisyah berjalan tertatih di papah oleh Desy, sahabatnya. Sampai di ruang jenazah, Aisyah tak dapat lagi membendung kesedihannya. Ia menangis pilu, tangisnya sangat menyayat hati. Membuat yang ada di sana ikut meneteskan air mata. Haris yang sedari tadi tidak pulang, menatap wanita pujaan hatinya dengan sedih. Ia ikut merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Aisyah. Sesekali pria itu mengusap air matanya yang turun begitu saja. Dirinya menatap Aisyah dengan pilu, menyayangkan nasib wanita itu yang begitu malang. Kesedihan tak henti-henti menghampiri, membuatnya terpuruk hingga jatuh ke dasar jurang terdalam. Desy terus mendampingi Aisyah dengan setia, mengusap lembut bahu sang sahabat yang bergetar kerena tangis.
Aisyah membuka penutup wajah sang Ayah, menahan mati-matian sesak yang menghimpit dada. Menatap pilu pada mata ayahnya yang tertutup dengan wajah pucat. Tangis wanita itu semakin pecah, ia meraung sejadi-jadinya. Memeluk erat tubuh sang Ayah yang tidak bernyawa.
"Mengapa Bapak tinggalkan Aisyah sendiri? Katanya Bapak akan menemani Aisyah hingga Aisyah bahagia! Mengapa Bapak pergi secepat ini, Pak? Kenapa?!" teriaknya histeris sembari mengguncang tubuh Ayahnya yang tak bergerak.
"Kata Bapak kita akan tinggal bersama lagi seperti Aisyah kecil. Sebelum ada Ibu dan Dita! Katanya Bapak akan selalu ada buat Aisyah! Bapak bohong! Kenapa Bapak pergi meninggalkan Aisyah sendirian, Pak? Aisyah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Pak. Kenapa Bapak tega sama Aisyah?" tangisnya sangat pilu menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Bahkan perawat yang menyaksikan kesedihan wanita itu pun diam-diam mengelap air matanya yang jatuh.
__ADS_1
"Aisyah, jangan seperti ini ...." lirih Desy dengan suara serak. Hatinya sangat sakit melihat sahabatnya yang sangat terpukul. Ia bahkan juga terpukul dengan wafatnya Ayah sahabatnya itu.
"Kamu masih punya aku dan Haris. Kita akan selalu ada buat kamu," bisiknya seraya melirik pada Haris yang mengangguk.
"Benar, Aisyah. Kita akan selalu ada untuk kamu." ujarnya menenangkan. Pria itu meraih tubuh lemah Aisyah ke dalam pelukannya membuat Desy merasa sedikit cemburu. Tapi hatinya berbisik, ia tak boleh cemburu. Situasinya sedang rumit, wajar saja jika Haris memberikan dukungan pada Aisyah. Wanita itu butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya. Dan orang terdekat Aisyah hanya dirinya dan Haris. Ia tahu betul, sahabatnya itu tidak punya siapa-siapa lagi kecuali mereka berdua.
🌻🌻
Tanah itu masih basah, di taburi bunga beraneka warna. Seorang wanita bergamis putih berjongkok di atas gundukan tanah, membelai pelan batu nisan yang baru di tancapkan. Air matanya tak bisa berhenti meski tak terhitung berapa banyak yang turun. Bahkan mata wanita itu sudah bengkak karena menangis tanpa henti. Para pelayat sudah banyak yang pulang, tinggallah dirinya bersama kedua sahabatnya yang setia menemani. Desy ikut berjongkok, mencoba membujuk Aisyah agar ikut pulang.
"Udah yuk, kita pulang. Bapak udah tenang di sana. Lagian langit udah mendung, takut keburu hujan." bujuk Desy seraya mengelus bahu sahabatnya. Aisyah bergeming, tatapannya yang penuh kesedihan tak beranjak dari batu nisan yang bertuliskan nama Ayahnya. Desy mendongak, menatap Haris untuk meminta bantuan. Haris yang mengerti pun langsung ikut berjongkok, mencoba membujuk Aisyah.
"Aisyah, ayo kita pulang. Jangan terus larut dalam kesedihan, kasihan Bapak kamu. Beliau pasti akan ikut sedih jika melihat anak kesayangannya terpuruk seperti ini." Lelehan air mata itu semakin deras. Benar kata Haris, ia memang anak kesayangan Bapak sebelum Dita dan Ibunya datang merebut perhatian serta kasih sayang Ayahnya. Bahkan setelah Ayahnya di rebut, suaminya pun ikut di rebut oleh sang adik tiri. Kini, tidak ada yang tersisa. Aisyah telah kehilangan semuanya, bahkan dirinya tak yakin jika bisa menghadapi dunia hanya sendirian. Ia hancur, sangat hancur. Semuanya terasa sangat menyakitkan baginya. Semua kebahagiaan telah di rampas darinya dengan paksa.
"Ayo, Aisyah. Kita pulang, yah. Aku dan Desy akan menemani kamu nanti di rumah." Haris kembali membujuk wanita itu. Hingga akhirnya wanita itu mengangguk, membuat kedua sahabatnya saling melemparkan senyum lega.
"Pak, Aisyah pulang dulu ya. Besok ... Aisyah akan datang lagi bawain Bapak bunga. Bapak tidur yang tenang ya di sana. Aisyah sayaaang ... banget sama Bapak." Ucapnya dengan tersendat seraya mengelus batu nisan. Ia memaksakan senyum, lalu dengan cepat mengusap wajahnya yang basah. Detik selanjutnya ia berdiri dan di ikuti oleh Desy serta Haris. Ketiganya beranjak meninggalkan makam, baru beberapa langkah ketiga orang yang tak di sangka berjalan menghampiri mereka. Aisyah menatap ketiganya dengan marah.
"Mengapa kalian ke sini?!"
__ADS_1