Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 34


__ADS_3

**Akankah ku akhiri drama menyakitkan ini?


Aku muak dan begitu lelah dengan semua yang terjadi


Ku langkahkan kaki membawa diri, di temani kecewa yang selama ini menghampiri


🥀🥀


Happy reading**


Aisyah terus berjalan dengan langkah tertatih, menyeret langkahnya yang berat meninggalkan rumah hadiah pernikahan mereka. Masih teringat jelas saat dirinya di boyong ke rumah ini. Mimpi indah nan manis yang menjanjikan tersuguh di depan matanya. Semua tampak manis ketika suaminya belum mengetahui masa lalu yang kini menghancurkannya. Berusaha sekuat tenaga untuk menjaga pernikahan meski perih terus menemani. Berusaha sekuat hati menelan kecewa yang kerap kali menghampiri. Ketika dirinya berusaha menjadi istri yang baik dan berusaha memperbaiki, suaminya malah lupa diri dan berbalik mengkhianati.


Hari ini, hatinya tak cukup kuat untuk mendapatkan perlakuan tidak adil dari suaminya. Suaminya bersikap dirinya seolah sangat menjijikan untuk di sentuh. Sedangkan pada wanita itu, ia begitu bergairah hingga selalu bersamanya di setiap malam ketika istrinya belum benar-benar terlelap. Aisyah mengutuki diri, ia mengasihani nasibnya yang tak seberuntung orang lain. Mengapa bahagia seperti enggan untuk berpihak padanya? Gerimis mulai turun membasahi bumi, rintik rintik yang semula samar kini turun kian deras. Seolah mewakili hatinya yang menangis begitu kencang dengan teriakan penuh rasa perih.


Hatinya hancur, jiwanya remuk. Ia menangis sekencang-kencangnya di sela turunnya hujan yang semakin deras. Jalanan itu sepi, tubuhnya lemah tak berdaya. Dadanya kian sesak mengingat semua hal yang telah terjadi. Tubuhnya luruh ke jalanan yang di penuhi air hujan. Tak ada lagi kekuatan yang bisa menopangnya. Ia menyerah dan mengaku kalah. Ia hanya wanita biasa yang tak mampir lagi menahan sakit yang terus mendera. Ia hanya wanita biasa yang tak sanggup bila harus di terjang badai terus menerus tanpa henti.


Bersamaan dengan itu, tanpa Aisyah ketahui mobil yang di kendarai Arzan berbelok ke jalan sebelah kiri, arah berbeda yang ada di belakang wanita itu. Pria itu begitu menyesal dan berusaha mencari keberadaan sang istri di bawah guyuran hujan yang turun dengan derasnya.


Aisyah terus menangis sejadi-jadinya, berteriak dengan kesakitan luar biasa. Memanfaatkan guyuran hujan yang akan meredam suaranya. Jika selama ini ia begitu pandai menyembunyikan kesedihan yang mendera, tapi tidak dengan malam ini. Ia meluapkan semua perasaannya di jalanan sepi yang menjadi saksi bisu atas ketidakberdayaan seorang istri yang tersakiti.


"Mengapa kau tidak bisa menerima aku, Mas? Mengapa aku terlihat sangat menjijikkan di matamu? Mengapa kita tidak mencoba untuk memperbaiki semuanya ? Mengapa harus Dita yang membuat kamu semakin menjauh dari aku, Mas? Mengapa?!" teriaknya penuh kesakitan. Ia memukul dadanya yang sesak berulang kali, berharap rasa itu segera pergi. Bukannya pergi, rasa itu semakin sesak kala dirinya mengingat semua kenangan mereka berdua. Membuatnya terus memukul dadanya hingga tubuhnya melemah.


🥀🥀

__ADS_1


Arzan memarkirkan mobilnya di depan rumah sederhana bercat biru. Ia segera turun setelah mematikan mesin mobil, bergegas berlari kecil mengindari hujan dan membuka pintu pagar kayu yang berwarna putih. Menuju pintu rumah dan mengetuknya hingga beberapa kali. Setelah beberapa lama, pintu yang berdiri kokoh di depannya terbuka. Memperlihatkan pria setengah baya dengan wajah khas bangun tidur menatapnya bingung.


"Nak Arzan? Ada apa malam-malam begini kemari?" tanya pria itu dengan kerutan dalam di dahi.


Arzan menatap pria itu dengan tidak enak, mencoba memberanikan diri untuk bersuara.


"Maaf, Pak. Saya mengganggu waktu istirahat Bapak. Saya cuma mau tanya, apakah Aisyah ada di sini?" tanya Arzan ragu. Mendengar pertanyaan sang menantu membuat pria itu terkejut.


"Apa maksud kamu? Aisyah tidak berada di sini." jawabnya dengan cemas. Arzan menghela napas berat. Ia benar-benar bingung dan tak tahu kemana Aisyah pergi.


"Tadi Aisyah pergi, Pak. Dan sampai sekarang belum kembali."


"Astaghfirullah, kemana Aisyah pergi? Memangnya Nak Arzan tidak tahu kemana perginya Aisyah?"


Pria itu menggeleng seraya menunduk. Menyesal atas sikapnya yang begitu keterlaluan pada istrinya.


Arzan hanya terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Terlebih lagi semua ini karena salahnya. Ia yang terlalu egois dan terlalu menjunjung tinggi keperawanan. Terlalu memandang rendah pada wanita yang sudah tidak perawan setelah menikah. Bahkan dirinya kini malah lebih menjijikkan karena telah merusak adik iparnya sendiri. Tega berselingkuh dengan adik dari istrinya sendiri. Bahkan untuk mengangkat kepala demi menjelaskan semua yang terjadi pun ia tak mampu. Kini, menatap pria yang ada di hadapannya pun ia tak sanggup. Ia telah menghancurkan kehidupan dua putri pria ini sekaligus! Bukankah ia pantas di katakan sebagai pria brengsek dan begitu sangat menjijikkan? Bagaimana bisa dirinya menghakimi istrinya dan memandang jijik pada sang istri yang sebenarnya juga adalah korban? Korban janji manis pria brengsek yang mengatasnamakan cinta! Sama seperti dirinya. Ia tidak ada bedanya dengan mantan kekasih Aisyah. Kini, ia menjanjikan pernikahan pada Dita setelah mengambil kesucian wanita itu. Sementara ia masih sangat mencintai istrinya dan tidak berniat sekali pun menjadikan adik iparnya sebagai istri.


"Jawab, Nak Arzan! Apakah kalian bertengkar sehingga menyebabkan Aisyah pergi?" tanya pria setengah baya itu dengan tidak sabar.


Arzan mengangguk, ia masih setia untuk menunduk tanpa mau menatap wajah mertuanya.


"Masalah apa sehingga Aisyah pergi dari rumah? Apakah semuanya tidak bisa di bicarakan baik-baik?"

__ADS_1


Arzan memberanikan diri untuk mengangkat kepala, menatap wajah keriput sang mertua.


"Maafkan saya, Pak. Ini semua salah saya," ucapnya penuh penyesalan.


"Memangnya ada apa? Kenapa bisa begini?" Ayah Aisyah memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Membayangkan anaknya pergi entah kemana di bawah guyuran hujan yang deras membuat ia gelisah. Ibu tiri Aisyah yang mendengar suara ribut segera keluar kamar. Ia merasa terganggu dengan suara Arzan dan suaminya yang cukup keras.


"Ada apa sih, Pak? Kenapa malam-malam begini ribut-ribut?" tanya wanita itu seraya menutup mulutnya yang tak sengaja menguap. Arzan dan Ayah Aisyah menoleh, lalu menghela napas berat.


"Ini, Bu. Aisyah pergi dan belum pulang sejak tadi." jawab suaminya dengan sedih.


"Halah ... Palingan kelakuan lama kumat. Dia itu orangnya nggak betah di rumah! Palingan juga nginep di rumah mantan pacarnya. Biasanya kan gitu!" tuding ibu tirinya dengan sinis.


"Jangan bicara yang tidak-tidak, Bu! Sudah cukup kamu membuat cerita buruk selama ini! Aisyah bukan wanita seperti itu! Dan apa kamu tahu, dia tidak betah di rumah selama ini karena kalian berdua! Karena kamu dan Dita selalu membuatnya tidak betah di rumah ayahnya sendiri!" teriak Pria itu dengan emosi yang meluap. Cukup selama ini ia diam dengan semua perlakuan sang istri dan anak tirinya. Ia tidak ingin jika istrinya kembali menyalahkan Aisyah dan membuat cerita buruk tentang anaknya.


"Bapak ini kenapa sih? Mentang-mentang ada Nak Arzan bapak tidak mengakui kelakuan buruk anak Bapak?"


"Diam! Jangan ikut campur dan cepat ke kamar!" bentaknya dengan kesal. Wajah pria itu memerah menahan marah. Melihat suaminya yang seperti itu, membuat nyali istrinya ciut. Belum pernah ia melihat sang suami yang begitu marah padanya. Ia segera berlalu meninggalkan Arzan dan suaminya.


"Tolong, cari Aisyah sampai ketemu. Bapak tidak mau jika terjadi sesuatu hal yang buruk padanya." pinta Ayah Aisyah pada menantunya.


"Baik, Pak. Saya akan mencari Aisyah sampai ketemu." Arzan segera berpamitan dan berlalu.


"Nak Arzan!" Belum lagi pria itu sampai ke mobil, ayah Aisyah telah memanggilnya kembali sehingga membuat Arzan menoleh.

__ADS_1


"Tolong kabari saya kalau Aisyah ketemu," pintanya. Arzan mengangguk,


"Baik, Pak." ujarnya seraya Kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Ia segera memasuki mobil dan meninggalkan kediaman mertuanya. Mencoba mencari Aisyah di rumah temannya atau kerabat yang lain.


__ADS_2