
**Rasa sakit yang kau torehkan tak kan pernah terlupakan
Akan selalu abadi dalam ingatan
Tak kan lekang, tak kan hilang
Semua akan terpatri abadi dalam memori yang terdalam.
🌹🌹
Happy reading**
"Kenapa kalian kesini?!" tanya Aisyah penuh amarah. Bahkan dirinya telah muak melihat ketiga orang yang kini berada di hadapannya.
"Aisyah, kami ke sini untuk menghadiri pemakaman Bapak. Kenapa sambutan kamu seperti ini?" ucap Ibunya tak suka.
Aisyah mendengus kesal.
"Menghadiri kata Ibu? Kenapa setelah Bapak tidak ada kalian baru datang? Bahkan kini ketika Bapak sudah di makamkan kalian baru datang! Kemana saja kalian?"
"Oh, kalian pasti sibuk berbahagia hingga lupa kalau Ibu masih punya suami?" sindir Aisyah seraya menatap penuh kebencian pada Ibu tirinya.
"Jaga bicara kamu!"
"Kakak kenapa berbicara seperti itu? Kenapa membentak Ibu? Tidak seharusnya Kakak bersikap seperti itu pada Ibu!"
"Jangan membela Ibu kamu yang tidak punya perasaan ini. Jika mau di hormati, maka dia juga harus menghormati orang lain!"
__ADS_1
"Kakak! Kenapa kakak tidak punya sopan santun sama sekali? Wajar saja jika kak Arzan lebih memilih Dita di bandingkan kakak! Benar-benar tidak punya adab!"
"Dita! Apa yang kamu katakan?!" bentak Arzan marah. Ia tidak terima jika Dita membentak Aisyah dan mengatakan hal buruk pada Aisyah.
"Jangan membela aku, Mas. Jangan berpura-pura baik di hadapanku. Aku tidak akan tersanjung dan tidak akan pernah luluh kembali dengan semua sikap yang kamu tunjukkan."
"Dan kamu, Dita. Dengar ini baik-baik. Akan sangat sulit meyakinkan lalat bahwa bunga lebih menarik dari pada sampah!" cibirnya seraya tersenyum miring. Dita dan Ibunya sangat marah, bahkan sang Ibu sudah siap menampar anak tirinya itu tapi tangannya tergantung di udara. Haris dengan sigap menahan tangan itu agar tidak menyentuh Aisyah. Pria itu menatap tajam pada sang Ibu tiri Aisyah sehingga membuat wanita setengah baya itu mendelik tak percaya.
"Lepas! Sakit!" rintihnya seraya merintih. Cengkraman tangan Haris sangat kuat, sehingga membuat wanita itu kesakitan. Semua mata tertuju pada Haris dan Ibu tiri Aisyah.
"Jangan berani menyentuh Aisyah! Jika anda berani menyentuhnya sekali lagi, maka akan saya pastikan anda akan kehilangan satu tangan anda!" ancam Haris dengan serius. Ia menatap tajam pada wanita setengah baya yang ada di hadapannya. Wajah wanita itu tampak ketakutan, ia meringis dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Haris. Detik selanjutnya pria itu menghempaskan tangan Ibu tiri Aisyah dengan kasar sehingga membuat wanita itu hampir terjengkang dan untung Dita dengan sigap menahan tubuh sang Ibu.
"Kamu gila, ya? Kenapa kamu menyakiti Ibu saya?" Dita tak terima.
"Jika tidak mau mengalami hal yang lebih parah dari ini, menjauh dari Aisyah dan jangan pernah berani menyentuhnya. Jika kalian berdua masih berani menyentuh Aisyah, maka saya tidak akan tinggal diam!" Haris memperingati. Arzan hanya diam menatap pria yang berada di samping istrinya, diam-diam ia memuji keberanian Haris yang tidak bisa ia lakukan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Haris pada Aisyah. Ia merangkum wajah wanita itu, menatapnya dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja, Ris. Terima kasih sudah membela dan menghalangi Ibu yang mau menamparku." ucap Aisyah seraya tersenyum.
"Syukurlah. Aku sangat mengkhawatirkan kamu."
Arzan tampak sangat cemburu, begitu juga dengan Desy. Kedua orang itu menatap Aisyah dan Haris dengan tatapan sedih.
"Sebaiknya kita cepat pulang, Aisyah. Selain cuaca semakin mendung, ketiga orang ini tidak baik untukmu." sindir Haris seraya melirik ketiga orang yang berdiri tak jauh darinya. Dita dan Ibunya tak terima dengan sindiran Haris, menatap pria itu dengan dendam yang mendalam.
"Ayo, sebaiknya kita pulang saja." Aisyah meraih tangan Haris yang terulur, keduanya beranjak meninggalkan pemakaman tapi Arzan mencegah Aisyah untuk melangkah lebih jauh.
__ADS_1
"Aisyah ...." panggil Arzan seraya menghampiri istrinya. Wanita yang di panggil pun terpaksa menoleh, menatap datar pada pria yang kini berjalan menuju ke arahnya.
"Mas turut berdukacita. Maaf baru datang, karena Mas baru mendengar berita ini." ujarnya penuh sesal.
"Terima kasih." jawab Aisyah singkat.
"Kamu yang sabar, ya. Mas yakin kamu kuat. Kamu bisa melewati semua ini." ujarnya tulus.
Tes ....
Bulir bening itu kembali turun membasahi wajahnya, dengan cepat Aisyah segera menghapus jejak air mata itu. Ia tak percaya jika kata-kata itu keluar dari bibir sang suami yang begitu tega menyakitinya. Apa karena suaminya tahu jika dirinya kuat sehingga bisa melakukan semua ini padanya? Apa ia tak sadar bahwa hal paling menyakitkan itu ialah kehilangan orang-orang yang di cintainya?
Aisyah hanya diam, ia mengabaikan ucapan Arzan dan berbalik. Berjalan dengan cepat tanpa mau menoleh. Hatinya sangat sakit berhadapan dengan pria yang telah menorehkan luka di hatinya itu. Bagaimana bisa dirinya dengan mudah mengatakan hal itu? Apakah sebelum dirinya mengkhianati cinta mereka, pria itu tidak memikirkan Semuanya?
"Apa anda mengucapkan hal itu dengan sadar, Pak Arzan?"
Arzan menoleh, menatap Desy sahabat Aisyah yang berdiri di sampingnya.
"Apa anda sadar dengan ucapan anda? Bukankah luka yang paling besar itu anda yang menyebabkannya? Apakah anda tidak sadar dengan semua yang anda lakukan pada Aisyah? Bahkan sikap anda telah menghancurkan hidup sahabat saya! Anda benar-benar tidak punya hati dan perasaan! Saya harap anda akan menderita seumur hidup!" ucap Desy penuh kebencian. Dadanya naik turun menahan emosi yang menggulungnya. Ingin sekali rasanya ia memukul Arzan secara brutal jika saja ia sedang tidak berada di pemakaman. Arzan menunduk, lidahnya kelu. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Benar yang di katakan oleh Desy. Apa yang telah ia lakukan pada Aisyah benar-benar sudah keterlaluan dan sangat jahat.
"Apakah menurut anda perawan itu di atas segala-galanya?" Arzan mengangkat kepalanya, ia mengernyitkan dahi.
"Anda salah, Pak Arzan yang terhormat! Jangan pernah bilang cinta jika anda tidak mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya! Jangan anda menyangka jika keperawanan akan bisa membahagiakan anda! Anda sudah membuang berlian hanya demi batu kerikil di tepi jalan! Anda telah membuang wanita sebaik dan setulus Aisyah hanya demi perempuan ular seperti Dita. Anda akan menyesal! Akan saya pastikan anda menyesal dan menderita." lagi-lagi Arzan hanya terdiam, menatap Desy dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan.
"Jangan pernah ganggu Aisyah lagi. Hiduplah dengan pilihan anda apapun yang terjadi." Desy pun segera berlalu, meninggalkan pria yang sedang termenung mencerna ucapannya barusan. Tampak Dita yang menghampiri.
"Kak, apa yang wanita itu ucapkan?" tanya Dita menatap tak suka pada Desy yang berjalan menyusul kedua sahabatnya. Arzan masih terdiam, ia memilih untuk mengabaikan Dita dan segera menuju makam sang Ayah mertua. Sikap Arzan membuat Dita sangat kesal. Ia mengerucutkan bibir, mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
__ADS_1
"Semua ini gara-gara kak Aisyah! Aku benci kakak!" umpatnya kesal. Ia pun mengikuti Arzan untuk pergi ke makam sang Ayah.