
**Aku hanya serpihan yang tak kasat mata
Sebuah bayangan yang tak lagi kau lihat
Cinta ini hanya sebatas ilusi, tak lagi ada rasa memiliki
yang ada hanya perih
πΊπΊ
Happy reading**
__ADS_1
Dita menarik tubuh Arzan ketika melewati kamarnya. Ia memang sengaja menunggu pria itu sejak tadi. Arzan yang merasakan tubuhnya di tarik dengan tiba-tiba membuat ia berjengkit kaget. Ia pun mendelik sempurna ketika mengetahui siapa yang menariknya.
"Apa yang kamu lakukan?" bisiknya sangat pelan. Takut jika keduanya di pergoki oleh Aisyah secara tiba-tiba.
"Jangan hanya apa yang aku lakukan. Aku kangen, kak. Lagian tadi aku kesel sama kak Aisyah. Kenapa dia terus menghalangi aku?"
"Menghalangi gimana?" tanya Arzan bingung.
"Ya dia ngelarang aku pake' gaun tidur, terus aku mau duduk di samping kakak nggak boleh. Terus pas aku mau ambilin perkedel juga nggak boleh. Kan kesel!" gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan bibir manyun. Ia begitu kesal dengan sikap kakaknya yang tidak seperti biasanya.
"Jadi baik apanya? Mau dia jungkir balik, mau salto ataupun kayang juga nggak ngaruh sama hubungan kalian. Kakak kan udah punya aku! Aku yang selalu puasin kakak di atas ranjang! Kakak juga ketagihan kan, sama aku? Jadi biar pun dia mau apa juga, kakak itu milik aku. Di mata negara ataupun agama dia emang istri kakak, tapi kenyataannya aku yang bisa menghangatkan kakak."
__ADS_1
Arzan hanya diam. Apa yang di ucapkan oleh Dita memang benar, gadis ini yang selalu menghangatkan ranjangnya. Meski Aisyah berbuat apapun ia tidak akan terpengaruh. Tidak akan membuat sakit hatinya hilang.
"Kak, coba panggil aku 'sayang'." pinta Dita seraya bergelayut manja. Berharap supaya pria yang ada di depannya memanggilnya dengan apa yang di pintunya. Hatinya seakan tercubit ketika mendapati kenyataan yang berbeda.
"Kak, dengar kan ama apa yang aku katakan tadi?" ujarnya kesal seraya menatap pria yang ada di hadapannya. Arzan menggeleng pelan,
"Maaf Dit, kakak nggak bisa."
Mendengar hal itu membuat Dita semakin kecewa.
"Kenapa kak? Apa karena kakak mencintai wanita itu? Atau kakak nggak ada perasaan apa-apa sama aku?" todong gadis itu. Ia memberondong Arzan dengan pertanyaan. Yang di tanya hanya kembali diam.
__ADS_1
"Kakak jahat!" ujar Dita kecewa. Ia pun melangkah meninggalkan Kakak iparnya untuk menenangkan hatinya. Dari kemarin sebenarnya ia sudah berpikir jika kakak iparnya belum mempunyai perasaan yang sama dengannya. Pria itu tidak pernah memanggilnya dengan panggilan sayang seperti yang di lakukannya pada istrinya. Ia merasa bahwa dirinya sudah memiliki sang kakak ipar, ia merasa jika sudah memberikan tubuhnya maka ia dengan mudah mendapatkan hati sang kaka ipar.
Arzan mencoba untuk mengumpulkan sisa kesadaran, mencerna kata demi kata yang di lontarkan oleh Dita barusan. Sungguh ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Dita. Tiba-tiba mendapati Gadis itu sudah pergi begitu saja ke kamar mandi, meninggalkan banyak tanya di benak pria itu. Ia bukan lelaki yang mudah peka sehingga perlu banyak waktu untuk memahami seorang gadis. Tapi sebenarnya itu tidak berlaku pada istrinya, ia akan cepat memahami dengan apa yang di katakan atau pun hanya dengan bahasa tubuh. Ia tidak mengerti mengapa dengan adiknya, ia sulit memahami. Entah karena ia sangat mencintai istrinya, atau karena mereka bersama sudah sangat lama.