
Ku peluk erat hatiku,
Ku lambungkan rasa ikhlas
Ku kuatkan hatiku,
Cintamu siap kan ku lepas
🌻🌻
Happy reading
Terdengar suara bel rumah yang berbunyi, semua orang yang sedang berbicara serius di dalam rumah saling tatap.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" Mama Arzan menatap anaknya yang memijat pelipisnya yang terasa pusing. Pria itu bergeming, ia sibuk dengan pikirannya yang kalut. Semua masalah yang menimpanya begitu rumit dan sulit. Dita dan Ibunya yang juga ada di sana tampak mengerutkan dahi. "Arzan, apa kamu mengundang seseorang?" tanya Mama Arzan pada anaknya. Pria itu masih diam. Tidak mendapatkan respon dari sang anak membuat wanita itu kesal, ia segera memanggil Mbok Sumi untuk membuka pintu.
"Mbok, buka pintu!" teriaknya dengan lantang. Mbok Sumi yang sedang berada di dapur pun segera berlari dengan tergopoh-gopoh, meninggalkan piring kotor yang menumpuk.
"Baik, Nyonya." jawabnya seraya berlalu. Wanita setengah baya itu segera berjalan menuju pintu dan membukanya. Betapa terkejutnya wanita itu setelah mengetahui siapa tamu yang datang ke rumah majikannya. Ia menjerit tertahan, "Nyonya!" teriaknya dengan senyum sumringah dengan mata yang berkaca-kaca. Mbok Sumi sangat bahagia, ia segera menghambur ke dalam pelukan wanita yang di rindukannya itu. Baru beberapa hari tidak bertemu membuatnya sangat merindukan Aisyah.
"Maaf, mbok malah memeluk nyonya. Si mbok senang sekali akhirnya nyonya pulang. Mbok sangat merindukan Nyonya, makanya sampai kelepasan." ujarnya setelah melepaskan pelukannya. Ia merasa sungkan karena sudah berani memeluk majikannya.
__ADS_1
Aisyah tersenyum maklum, ia kini membelai bahu Mbok Sumi dengan lembut.
"Tidak apa-apa, mbok. Aisyah juga sangat merindukan Mbok."
"Benarkah? Mbok kira nyonya tidak akan merindukan Mbok." ujarnya seraya terus tersenyum. Tangan kanannya mengusap sudut air mata yang berair.
"Siapa mbok?" terdengar suara Mama Arzan dari ruang tengah. Keduanya langsung terdiam, saling tatap satu sama lain.
"Ada Mama mas Arzan, mbok?" tanya Aisyah.
Mbok Sumi mengangguk, wajahnya yang semula penuh senyum kini berganti dengan wajah khawatir.
"A-ada Nyonya. Ada yang lain juga," ucap Mbok Sumi ragu.
"Kita masuk saja, nyonya." ajak Mbok Sumi dan segera mendapatkan anggukan dari Aisyah.
Keduanya segera menuju ruang tengah, sementara itu semua orang yang ada di sana melihat kedatangan Aisyah dengan terkejut.
"A-Aisyah....?" Nama itu keluar dengan lancar dari bibir mertuanya. Bersamaan dengan itu mata Arzan yang awalnya terpejam kini terbuka dengan lebar. Ia menurunkan tangannya yang berada di kepala, mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang datang bersama mbok Sumi. Netranya berkaca-kaca, senyum yang belakangan ini menghilang kini terbit kembali.
"Aisyah," lirihnya penuh haru. Ia tak menyangka jika istrinya akan kembali ke rumah ini lagi. Ia segera berdiri dan dengan cepat menghampiri Aisyah yang berdiri tak jauh darinya. Mama Arzan juga ikut berdiri, ia merasa terkejut dengan kedatangan menantunya yang tiba-tiba.
__ADS_1
Sementara Dita dan sang Ibu hanya saling pandang, ia berbisik di telinga Ibunya dengan nada khawatir sembari mengguncang lengan Ibunya dengan khawatir.
"Bu, kenapa kak Aisyah kembali lagi ke rumah ini? Bisa-bisa rencana kita akan gagal dan Dita nggak bisa menikah dengan kak Arzan."
"Kamu tenang dulu! Kamu tenang saja, kakak kamu itu pasti tidak akan tega merebut Nak Arzan dari kamu. Dia tidak akan tega melihat keponakannya lahir tanpa seorang ayah!" ujar sang Ibu karena sejatinya dia sudah kenal betul dengan sipat Aisyah yang lembut.
Arzan segera berlari dan memeluk Aisyah dengan erat demi melepaskan segala kerinduan yang telah menggunung.
"Sayang ... Akhirnya kamu kembali. Mas sangat merindukan kamu," lirihnya di sela dekapannya. Di dalam hatinya ia bersyukur karena istrinya kembali. Tak dapat di pungkiri, hatinya terasa sangat kosong dan hampa ketika jauh dari wanita ini. Hatinya begitu sangat mencintai Aisyah, ia tidak akan mungkin bisa jika harus kehilangan wanita terbaik yang ada dalam hidupnya.
Arzan melepaskan pelukannya, menatap Aisyah penuh kebahagiaan dan penyesalan. Ia meraih jemari lentik milik wanita yang ada di hadapannya.
"Sayang, kamu kemana aja? Maafkan mas, ya. Mas janji nggak akan khianati kamu lagi. Mas janji akan berubah dan akan menerima segala kekurangan kamu." ujar pria itu sembari mengecup punggung tangan istrinya. Dari kejauhan tampak tatapan penuh kecemburuan dari mata Dita. Hatinya begitu sakit melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Mengapa kak Arzan bisa sebegitu romantis dan begitu sayang pada istrinya? Sementara dengannya? Memanggil sayang pun tidak. Ingin sekali rasanya ia menghampiri kedua orang itu dan menarik Arzan agar tidak lagi mendekati sang kakak. Tapi Ibunya mencegah dirinya, sehingga ia harus menutup rapat-rapat keinginannya untuk mengganggu mereka.
"Wajahmu kenapa, Mas?" Tangan Aisyah terulur, menyentuh wajah sang suami yang lebam penuh luka. Sudut bibirnya robek dengan sedikit darah yang mengering, pelipisnya juga robek. Matanya sedikit bengkak dan luka lebam hampir memenuhi wajahnya. Wanita itu menatap suaminya penuh kesedihan, ia begitu menyayangi pria ini. Bagaimana bisa dirinya mengabaikan suaminya yang terluka? Hatinya merasa sakit melihat keadaan suaminya.
"Ini bukan apa-apa, sayang. Mas pantas mendapatkan semua ini. Yang terpenting kamu sudah ada di sini. Luka ini tidak seberapa, sebentar juga akan sembuh."
"Siapa yang melakukannya, Mas?" tanya Aisyah mengelus wajah suaminya penuh kasih sayang. Melihat keadaan suaminya, ia melupakan perselingkuhan yang dilakukan suami dan adik tirinya. Hatinya goyah, ia begitu mencintai pria ini. Apalagi setelah suaminya berkata bahwa akan menerima dirinya dan akan berubah, hatinya begitu senang. Ia pasti akan melompat bahagia karena inilah yang dirinya inginkan selama ini. Tapi melihat Dita yang ada di belakang suaminya, ia pun tersenyum getir. Wanita itu menurunkan tangannya dari wajah sang suami. Dita terlihat sangat marah dan cemburu, ia mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Melihat kakaknya yang juga sedang menatapnya, ia dengan sengaja mengelus perutnya yang rata. Memasang wajah sendu penuh kesedihan. Tenggorokan Aisyah tercekat, ia tidak bisa mengabaikan nasib sang adik. Ia juga tidak akan tega jika Dita akan melahirkan tanpa suami, dan keponakannya akan terlahir tanpa ayah. Ia bukanlah wanita yang sekejam itu. Aisyah menutup matanya rapat-rapat, meredam segala rasa sakit yang mencengkram.
"Sayang, jangan pergi lagi ya. Kita mulai semuanya dari awal. Mas janji hanya ada kamu di hati Mas. Mas sangat mencintai kamu dan mas tidak akan bisa kehilangan kamu. Kamu mau kan memulai semuanya lagi?" Aisyah mengalihkan pandangannya pada Arzan. Hatinya semakin sakit kala melihat pria yang di cintainya memohon dengan sangat. Matanya berkaca-kaca penuh kesedihan, hatinya sakit. Hatinya pilu remuk redam tak berdaya. Mengapa kisah cintanya harus menyakitkan seperti ini? Mengapa rumah tangganya harus hancur seperti ini?
__ADS_1
"Mas, A- aku ...."