
**Kesendirian membuatku mengerti akan arti ketenangan
Kesendirian mengajarkan ku akan bahagia yang ku rasakan
Sendiri merenungi nasib yang tak berpihak
Yang selalu membuat dada sesak.
🌷🌷
Happy reading**
Aisyah duduk di atas bangku panjang di taman yang pernah ia kunjungi. Menatap langit biru yang bertabur awan putih. Ia tersenyum, mengingat kedua sahabat yang di tinggalkannya.
"Semoga mereka bisa bersama selamanya." lirihnya seraya tersenyum. Kembali mengingat kehidupan dirinya yang menyedihkan, ia kembali menarik napas berat. Dirinya sengaja pergi sendiri, tanpa memberi tahu kedua sahabatnya itu. Ia tidak ingin mengganggu keduanya. Menyudahi kesedihannya, wanita itu meraih sebuah novel yang ia bawa dari rumah untuk menemaninya di taman sore itu. Ia membuka lembar pertama novel bersampul pink dengan judul Cinta dalam hati karya penulis terkenal itu. Membaca bait demi bait kata yang tertulis di dalamnya. Entah semenjak kapan ia menyukai novel, yang pasti ia begitu sangat suka membaca cerita terutama novel.
Ia terus membaca tanpa menyadari jika seorang pria sudah duduk di sampingnya. Saat ia mendongak, barulah ia sadar jika ada seorang pria yang duduk bersandar memperhatikan dirinya. Aisyah mengerutkan keningnya, mencoba mengingat siapa pria yang terlihat tak asing itu. Saat Aisyah mencoba mengingatnya, pria itu menyodorkan tangannya ke depan Aisyah. Wanita itu menatap tangan yang terjulur itu dengan bingung.
"Namaku Arman Wijaya. Nama kamu siapa?" tanya pria itu seraya mengulas senyum. Jika di lihat-lihat pria ini tampan juga. bisiknya dalam hati dan langsung di bantah olehnya sendiri. Astaga! apa yang aku katakan? Bisa-bisanya aku berkata seperti itu. Aisyah meringis, menatap pria itu dengan malu. Untung saja pria itu tidak mendengar isi hatinya. Ia lalu menjabat tangan pria itu dan memperkenalkan diri.
"Aku Aisyah." ujarnya. Pria itu mengangguk, lalu melepaskan jabatan tangannya.
__ADS_1
"Kau masih mengingatku?" tanya pria yang bernama Arman itu seraya menatap Aisyah penuh senyum. Aisyah menggeleng.
"Bukankah kita ketemu seminggu yang lalu?" kata Arman mencoba mengingatkan. Kerutan di dahi wanita itu semakin dalam.
"Dimana?"
"Astaga kau benar-benar melupakan ku. Apa aku begitu jelek sehingga kau tidak mau mengingatku?"
Aisyah tertawa kecil.
"Bukan begitu. Aku benar-benar lupa jika telah bertemu dengan mu sebelumnya."
Aisyah mendengarkan, ia mencoba mengingat lagi kejadian satu Minggu yang lalu.
"Saat itu kamu teriak dan aku sedang tertidur di balik pohon itu." pria itu menunjuk sebuah pohon besar yang ada di belakang mereka. Mata Aisyah mengikuti arah yang di tunjuk oleh pria tersebut. Barulah ia mengingatnya.
"Oh, aku ingat sekarang. Kamu bukannya pria menyebalkan yang tidur di bawah pohon itu?"
Arman mengangguk,
"Dan kamu perempuan aneh yang teriak-teriak tidak jelas di sini." keduanya pun akhirnya tertawa bersama.
__ADS_1
"Astaga. Maaf aku tidak mengingatmu."
"Tidak apa-apa. Lagi pula aku tidak penting dan tidak terkenal seperti Valentino Rossi atau pun Michael Jackson." ujarnya seraya tertawa kecil.
"Bisa saja kamu."
"Bisa dong. Apa sih yang tidak bisa?" pria itu menaik turunkan alisnya.
"Kenapa kamu kesini? tidur lagi di bawah pohon itu?" tanya Aisyah menatap Arman yang duduk di sebelahnya. Pria itu hanya mengangkat kedua bahunya.
"Memangnya tidak ada tempat lain yang menyenangkan untuk tidur?"
"Entahlah. Aku sangat suka berada di sini. Bagiku di sini begitu menyenangkan dan menenangkan."
"Kalau kamu, kenapa sering ke sini?"
"Alasannya hampir sama sih, di sini sangat menenangkan. Udaranya juga sejuk membuat aku betah dan ingin berlama-lama di sini."
"Ya. Di sini suasananya masih asri banget dan belum terkontaminasi. Membuat kita betah dan lupa waktu jika berada di sini."
Aisyah mengangguk. Ia membenarkan apa yang di ucapkan oleh Arman. Sore itu, Aisyah menghabiskan waktu dengan pria yang baru di kenalnya. Saling bertukar cerita dan melupakan segala kesedihan yang menimpanya. Mengabaikan suara ponsel yang terus berdering Sedari tadi.
__ADS_1