
Arzan tidak sabar menunggu Dita sadar. Pria itu berdiri di sebelah istrinya dengan wajah yang memerah. Kedua tangannya terkepal kuat, dadanya naik turun menahan emosi yang membakar.
"Arzan, sebaiknya kita tunggu Dita sadar dulu. Duduk lah, Nak. Apa kamu tidak lelah terus berdiri di sini?" Mama Arzan membujuk pria itu untuk duduk, tapi pria itu bergeming. Tak berpindah sedikit pun dari tempatnya berdiri.
"Arzan, ayo kita duduk. Nanti setelah Dita bangun, kita minta penjelasannya." sahut Mama Dita dengan hati-hati. Ia merasa takut jika menantunya itu akan mengamuk karena sedari tadi pria itu hanya diam seribu bahasa. Pandangannya tak beralih dari wanita yang sedang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit.
Saat keduanya kehabisan akal untuk membujuk Arzan, terlihat jemari lentik Dita bergerak. Tak lama mata wanita muda itu terbuka. Hal itu membuat Arzan semakin tak sabar.
"Kak ... Aku di mana?" tanya wanita itu seraya mengerjapkan matanya. Ia menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Kau sudah sadar, wanita ular?" kata Arzan geram. Mendengar hal itu membuat Dita mengernyitkan keningnya seraya mencari sang Mama untuk meminta penjelasan. Ia bingung mengapa suaminya mengatakan dia wanita ular. Terlihat wajah panik sang Mama dari balik tubuh Arzan. Wanita itu tampak sangat ketakutan dan di sebelahnya ada mertuanya yang terlihat menghela napas panjang.
"Kak, apa maksud Kakak dengan menyebutku wanita ular?"
"Lalu, sebutan apa yang pantas untukmu?"
"Kak, aku ini istrimu. Tidak sepantasnya kakak berkata kasar padaku. Aku baru saja sadar, seharusnya kakak senang dan menyambut ku. Lagi pula harusnya kakak meminta maaf padaku karena kakak yang tidak sengaja mendorongku hingga jatuh." kata Dita kesal.
"Iya, aku menyesal tidak mendorong mu lebih keras agar kamu jatuh dan tidak pernah bangun lagi!"
Mendengar ucapan Arzan membuat yang ada di sana terkejut.
"Apa yang kamu katakan, Arzan? Mengapa kamu bicara seperti itu? Jika kamu benar-benar melakukannya, maka kamu bisa masuk penjara! Itu sama saja dengan tindakan kriminal!" ujar Mama Dita marah. Ia maju beberapa langkah mendekati anaknya, berdiri di samping ranjang Dita.
"Lalu? Apakah menipu orang bisa di katakan kriminal?" tanya pria itu dengan senyum miring menatap Ibu mertuanya.
__ADS_1
"Apa maksud Kakak?" tanya Dita bingung. Arzan menoleh, menatap Dita dengan senyum mengerikan.
"Kamu harus membayar semua kebohongan serta kelicikan yang telah kamu lakukan, Dita!" kata pria itu seraya menunjuk wajah wanita yang sedang terbaring itu.
"Apa maksud kamu, kak? Aku baru siuman dan bukannya kamu menanyakan keadaan istri dan anakku, tapi kamu malah berlaku aneh seperti ini." gerutu wanita itu dengan kesal. Mendengar apa yang di katakan Dita membuat Arzan tertawa kecil.
"Anak? Anak apa? Anak khayalan?"
"Kak! Ada apa sih dengan kamu?"
"Ma, kenapa kak Arzan bersikap seperti ini? Ada apa sebenarnya?" tanya Dita pada mamanya. Mamanya terlihat bingung dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Jangan berlagak bodoh kamu, Dita! Harusnya kamu tahu apa yang telah kamu lakukan pada saya! Tidak aku sangka kamu begitu jahat dan licik!"
"Apanya yang tidak berhak? Jelas-jelas kamu telah menipuku! Kamu bilang kamu hamil anakku! Sementara kenyataannya kamu sedang tidak hamil!" teriak Arzan dengan marah. Bahkan urat lehernya tampak jelas di wajahnya. Mendengar hal itu membuat Dita mendelik tak percaya. Bagaimana Arzan bisa tahu kebohongannya? Ia menoleh pada Mamanya, lalu beralih kembali pada pria yang menatapnya dengan berang. Ia duduk dengan takut.
"Apa? Mau mengelak?"
"Kak ... A-apa maksud kakak? A-aku benar-benar sedang mengandung anak kakak."
"Jangan berlagak bodoh! Kamu kira aku bisa di bohongi terus menerus oleh kamu? Dasar wanita licik!"
"Kak! Berhenti mengatakan aku wanita licik! Aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintai kakak!" wanita itu hampir menangis.
"Lalu atas dasar cinta kamu bisa menghalalkan segala cara? Yang kamu lakukan itu salah, Dita!" teriak Arzan dengan marah.
__ADS_1
"Kak, tolong maafkan aku. Aku melakukan semua ini karena kakak. Aku begini karena mencintai kakak dan takut kehilangan kakak."
Wanita itu sudah menangis dan turun dari ranjang. Meraih tangan suaminya untuk meminta maaf. Tapi Arzan langsung menipisnya dengan kasar.
"Kak, aku mohon maafkan aku."
"Dasar perempuan gila! Aku benar-benar menyesal karena menikahi kamu! Kita cerai!" teriak Arzan dengan marah. Bagai di sambar petir di siang bolong, wanita itu terkejut bukan main. Matanya melotot tak percaya, lalu detik berikutnya ia menggeleng.
"Tidak! Aku tidak mau bercerai! Tolong jangan ceraikan aku, kak. Aku tidak mau bercerai!" wanita itu berlutut di depan kaki suaminya memohon ampunan. Mama Dita yang melihatnya pun juga tampak terkejut. Ia segera menghampiri sang menantu dan memohon.
"Tolong jangan ceraikan anak saya. Bagaimana nanti nasib anak saya? Saya tidak tega jika Dita harus menjadi janda dengan umur semuda ini."
"Saya tidak peduli! Saya akan mengurus pembatalan pernikahan secepatnya. Jangan pernah muncul di hadapan saya lagi." katanya dengan tegas. Ia pun segera berjalan meninggalkan Dita dan mamanya. Dita menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Ia tidak mau bercerai.
"Kakak. Tolong maafkan aku! Jangan ceraikan aku!" teriaknya penuh pilu. Mama Dita pun hanya menangis menatap anaknya sedih. Ia mencoba menenangkan, tapi Dita meronta ingin mengejar suaminya.
"Apa kamu tidak mendengar apa yang di katakan oleh anak saya?" Mama Arzan berdiri di depan dua wanita yang bersimpuh di lantai dengan menyedihkan.
"Jangan pernah muncul di hadapannya lagi! Dan saya bersama Arzan bisa saja menuntut kalian berdua atas tuduhan penipuan! Dengarkan baik-baik! Jangan pernah muncul lagi di hadapan kami berdua!" imbuh wanita itu dengan marah.
"Ma, tolong maafkan Dita. Dita melakukan semua ini karena mencintai kak Arzan. Tolong, Ma. Bujuk kak Arzan untuk membatalkan niatnya. Dita mohon Ma," wanita itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Maaf, Dita. Keputusan Arzan memang tepat. Bahkan kamu itu lebih buruk dari Aisyah. Saya kira kamu itu bisa menjadi menantu dan istri yang baik, tapi ternyata kamu lebih buruk dari yang saya kira. Jika Arzan benar-benar menceraikan kamu, maka dengan senang hati saya akan mendukungnya. Kamu itu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga saya! Jadi saya harap kamu jangan pernah datang lagi ke rumah dan jangan pernah menampakkan wajah kamu di hadapan saya dan anak saya!"
Setelah mengatakan hal itu, mama Arzan berlalu begitu saja meninggalkan Dita yang menjerit histeris. Tak ada lagi harapan wanita itu sekarang. Dita dan mamanya hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang sangat menyedihkan.
__ADS_1