
Cinta tak selamanya menyakitkan
Cinta pun tak selamanya membahagiakan
Cinta tak pernah salah, terkadang ia datang ketika tidak tepat waktu
Hingga terjatuh terbelenggu rindu
💕💕
Aisyah merasa sangat gugup, baru beberapa jam lalu ia resmi menjadi istri Arman. Padahal ini bukan pernikahan pertamanya, tapi kejadian di masa lalu membuatnya kembali takut. Arman tahu bahwa dirinya bukan gadis lagi. Tapi entah mengapa ia merasa takut Arman akan kecewa sama seperti Arzan dulu. Wanita itu berjalan mondar-mandir di dalam kamar hotel yang di penuhi dengan mawar merah. Bau lilin aromaterapi memenuhi indera penciumannya, begitu menenangkan dan sangat romantis. Aisyah saat ini mencari pakaian di dalam lemari, tapi hanya satu pakaian tidur yang terbuka bewarna merah.
"Apa ini? Kenapa hanya ada satu dan mengapa begitu ...." wanita itu mengangkat sehelai pakaian itu ke atas. Sangat tipis dan terbuka. Ia bergidik, tidak bisa membayangkan bagaimana dia akan memakainya. Tak lama terdengar pintu kamar mandi yang terbuka, dengan cepat wanita itu menyimpan kembali sehelai pakaian tidur yang tadi di pegangnya dan segera menutup lemari. Tampak Arman yang hanya mengenakan handuk putih sebatas pinggang dengan rambut yang masih basah. Pria itu tampak mengeringkan rambutnya dengan handuk. Melihat Aisyah yang masih memakai gaun pengantin membuat pria itu mengernyitkan keningnya.
"Mengapa belum ganti baju?" tanya Arman heran. Aisyah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menunduk malu, sesekali membuang muka karena Arman bertelanjang dada di depannya. Dadanya yang seperti roti sobek terpampang jelas di depannya, sesekali wanita itu menelan ludah dengan kasar.
"A-aku tidak punya pakaian." kata Aisyah.
"Di dalam lemari?"
"Tidak ada."
Arman kembali mengerutkan dahinya dalam.
"Bukankah Mama bilang sudah menyiapkan pakaian untuk kita? Kata Mama pakaian kita ada di dalam lemari itu." telunjuk Arman mengarah pada lemari bewarna putih yang ada di belakang istrinya. Aisyah ikut menoleh, lalu menatap bingung pada pria yang kini telah resmi menjadi suaminya.
"Ti-tidak ada."
"Ah, yang benar? Mama tidak mungkin bohong 'kan?" Arman melangkah mendekat, bau tubuhnya tercium sangat jelas di indera penciuman wanita itu. Arman membuka lemari itu dan hanya menemukan pakaian dinas malam milik Aisyah.
"Apa ini?"
Ia bertanya pada Aisyah, sehingga membuat wanita itu bersemu.
__ADS_1
"Hanya itu yang ada di lemari. Tidak ada pakaian lain."
"Astaga. Pasti ini semua ide dari Mama. Ternyata mama tidak sabar untuk punya cucu." ia terkikik seraya menggelengkan kepalanya. Terbayang wajah jahil sang Mama.
"A-apa?" Aisyah kembali meneguk ludah dengan kasar.
"Kenapa? Apa kamu belum siap untuk memberikan mama cucu?" tanya Arman seraya mendekat. Ia membuang handuk yang di pegangnya dengan asal. Melihat Arman yang semakin dekat membuat jantung Aisyah semakin berdetak lebih cepat. Kaki wanita itu refleks mundur ke belakang hingga membentur lemari.
"Apa kamu tidak mau memberikan cucu untuk mama?" tanya Arman dengan menaikkan sebelah alisnya pada sang istri. Ia mengungkung wanita itu. Tampak Aisyah yang berdiri dengan tegang. Ia menatap pria yang ada di hadapannya dengan jantung yang hampir melompat keluar.
"A-aku ...."
Cup
Satu kecupan mendarat di kening wanita itu. Aisyah mendelik, tampak seringai kecil di sudut bibir pria yang resmi menjadi suaminya itu.
"Malam ini adalah malam pertama kita, sayang. Malam ini hanya milik kita," bisik Arman di telinga Aisyah. Pria itu menggigit cuping telinga istrinya sehingga membuat tubuh wanita itu merinding.
Arman menatap bingung pada istrinya. Wajah mereka sangat dekat, bahkan hembusan keduanya saling menerpa wajah masing-masing.
"Tapi apa? Kamu tidak menginginkannya?"
"Bukan! Bukan begitu. Aku juga ingin ...."
Uppss .... wajah wanita itu memerah. Ia tersipu.
Aisyah menutup mulutnya. Sontak saja ucapan wanita itu membuat senyum Arman melengkung.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi?"
Arman langsung membungkam bibir istrinya dengan bibirnya. Awalnya Aisyah terkejut dan hanya diam saja, tapi lama-lama ia menikmatinya dan membalas serangan yang tiba-tiba itu. Keduanya terlibat adegan panas yang menggairahkan sampai pagi. Tidak ada penyesalan, semuanya di lakukan atas dasar cinta dan tanpa tuntutan. Semuanya mengalir apa adanya.
💕💕
__ADS_1
Tiga tahun berlalu
Seorang wanita mengenakan hijab bewarna nude dan gamis hitam sedang bermain dengan kedua anak kecil di sebuah taman. Ia tampak bahagia, berlari kecil mengejar kedua buah hatinya yang tertawa dengan riang. Seorang pria mengenakan kemeja hitam mendekati ketiganya.
"Sayang, sudah sore. Sebaiknya kita pulang." Wanita itu menoleh, ia tersenyum menyambut kedatangan suaminya.
"Tapi, Mas mereka belum mau pulang."
"Aisyah, jangan menjadikan anak alasan. Bilang saja kamu masih mau berada di taman ini untuk mengingat pertemuan pertama kita." goda suaminya.
"Bisa saja, kamu mas." Aisyah hanya tertawa.
"Aisyah," panggil seorang wanita separuh baya yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. Aisyah dan Arman menoleh, tampak Ibu dari mantan suaminya menatapnya tak percaya. Melihat hal itu, Aisyah menatap suaminya.
"Temuilah," katanya seraya tersenyum dan mengangguk. Aisyah pun mengangguk dan segera mendekati mantan mertuanya. Tak lupa mencium punggung tangan wanita itu.
"Apa kabar, Ma?"
"Mama kurang baik. Kamu bagaimana? Sepertinya sudah sangat bahagia sekarang?" wanita itu tersenyum tulus. Aisyah ikut tersenyum bahagia.
"Allhamdulillah, Ma. Aisyah sangat bahagia sekarang."
"Maafkan Mama dan Arzan di masa lalu, ya. Kami sangat bersalah padamu. Dan sekarang, Mama dan Arzan sudah mendapatkan karmanya. Arzan tidak mau menikah lagi dan memutuskan untuk hidup sendiri selamanya." Aisyah hanya diam, ia menatap rumput yang sedang di pijaknya.
"Kamu sekarang semakin cantik dengan hijab. Dan wajahmu tampak berseri. Anak kecil itu anak kalian?" tanya Mama Arzan seraya menunjuk dua bocah yang sedang berlarian bersama Papanya.
"Iya, Ma. Mereka kembar. Namanya Alisa dan Abizar."
"Wah, kamu sangat beruntung. Mereka sangat lucu dan pintar. Kamu pasti pintar sekali mendidik mereka." puji mama Arzan tampak sedih. Di sebuah mobil yang tak jauh dari sana, seorang pria menatap sang mantan istri dengan kerinduan yang mendalam. Sudut matanya berair, dengan cepat ia segera menghapusnya.
"Kamu tampak bahagia sekali, Aisyah. Tapi kamu memang pantas mendapatkannya. Kamu wanita yang sangat baik. Seandainya dulu aku bisa menerima masa lalu itu, mungkin aku yang sekarang berada di posisi pria itu." lirihnya seraya menatap Arman yang sedang mengajak kedua anaknya bermain. Tapi penyesalan hanya tinggal penyesalan. Semua tidak bisa di ulang. Kenangan tinggallah kenangan. Tak kan mungkin bisa di kembalikan. Cukup ia menyimpan dalam hati semua perasaannya. Ia kehilangan wanita itu karena kebodohannya. Seandainya saja keperawanan tidak menjadi tolak ukur kebahagiaan, maka tak kan mungkin ia akan merasakan kehilangan.
TAMAT
__ADS_1