
Tak kan ku biarkan aku kalah
Aku tak kan mengalah
Meski semuanya salah,
Kan ku perjuangkan hingga titik darah
πΌπΌ
Happy reading
"Kak, minum jus aja ya." Dita menyerahkan segelas jus apel buatannya pada Arzan sembari tersenyum manis. Pria yang sedang memijat pelipisnya itu menoleh sebentar pada wanita yang tengah berdiri menyodorkan segelas jus itu.
"Letakkan saja di atas meja!" ujarnya acuh tak acuh. Ia kembali memejamkan mata dan memijat pelipisnya. Mendapatkan penolakan kembali membuat wanita itu tidak habis akal. "Kak, tadi nggak mau makan. Sekarang minum jus juga tidak mau? Aku udah capek-capek bikin, loh kak. Aku tuh peduli sama kakak! Kalau kakak sakit gimana? Lagi pula nanti siapa yang akan mencari kak Aisyah kalau kakak sakit? Ayo dong, coba hargai sedikit aja perhatian aku. Aku tuh ...."
Belum selesai wanita itu mengoceh, gelas di tangannya sudah di sambar oleh Arzan. Pria itu duduk dengan tegak dan menenggak habis segelas jus yang di berikan oleh adik iparnya. Setelah gelas itu kosong, pria itu segera meletakkannya ke atas meja.
"Sudah puas sekarang? Kamu mau apa? Ucapan terima kasih? Oke, terima kasih dan saya minta tinggalkan saya. Saya hanya ingin sendiri saat ini!" ketusnya seraya menatap jengah pada wanita yang belum juga mau beranjak dari hadapannya. Sedangkan Dita hanya tersenyum puas melihat Arzan menghabiskan jus buatannya.
"Terima kasih ya ,kak. Udah mau minum," kata wanita itu dengan suara renyah penuh senyum. Arzan memilih untuk mengabaikan, ia kembali merebahkan tubuhnya ke kursi sementara Dita berlalu agar tidak memancing kembali amarah sang kakak ipar.
"Kita tunggu sebentar lagi, pasti sebentar lagi kak Arzan akan membutuhkan bantuanku. Hanya aku yang bisa membantunya," ujarnya dengan senyum puas sambil mengamati pria itu dari pintu dapur.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara ponsel Arzan yang berdering, pria itu segera menerima panggilan telepon yang ternyata dari ayah Aisyah.
"Halo, Pak." terdengar suara Arzan mengangkat telepon, Dita mencoba untuk menajamkan pendengarannya. Ia menguping dan yang terdengar hanya suara Arzan.
"Ya, nanti rencananya saya akan mencoba mencari kembali."
"Baik, saya tunggu." Pria itu segera menutup panggilan telepon dan menyimpan kembali ponselnya ke atas meja. Merasa penasaran, Dita berjalan menghampiri sang kakak ipar.
"Ada apa kak?" tanya Dita setelah dekat. Arzan tidak membuka matanya, ia tetap memijat pelipisnya yang terasa semakin pusing.
"Bapak tanya Aisyah dan akan ke sini," jawab Arzan.
"Bapak mau ke sini?" tanya Dita terkejut.
Dita terdiam, ia tampak memikirkan sesuatu.
Tak lama terdengar erangan dari pria yang sedang terpejam itu.
"Kakak kenapa?" tanya Dita pura-pura khawatir.
"Ada apa denganku? Mengapa tubuhku terasa panas?" ia membuka mata dan duduk merasakan ada yang aneh pada tubuhnya.
"Ada apa, kak? Kakak kenapa?" tanya Dita seraya mendekat.
__ADS_1
"Entahlah, tiba-tiba aku ...." Ada gelombang hasrat yang tiba-tiba menggulungnya, membuatnya menginginkan sesuatu. Tangan Dita menyentuh pipi pria itu, dan hal itu membuat tubuh Arzan semakin bereaksi.
"Dita, apa yang kamu lakukan? Atau kamu telah memberikan sesuatu di minumanku?" tanya pria itu seraya mendelik menatap marah pada Dita. Wanita itu tersenyum menggoda, mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga sang kakak ipar.
"Kak, kakak pasti sangat merindukan sentuhan ku." bisiknya dengan suara mendesah sehingga membuat tubuh Arzan semakin panas. Pria itu mencoba untuk mengendalikan tubuh serta pikirannya, tapi dorongan hasrat yang besar membuatnya hampir hilang akal. Belum lagi sentuhan tipis dari Dita membuat hasratnya semakin bergejolak minta di puaskan.
"Dita, menjauh lah!" ucap Arzan dengan geram. Ia takut tidak bisa menahan diri lagi. Ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyentuh adik iparnya lagi karena ia menyadari jika semua itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
"Kak, jangan menyuruhku menjauh karena aku bisa mati jika jauh dari kakak. Aku sangat mencintai kakak dan aku sangat menginginkan kakak."
"Kamu sangat jahat, Dita. Menjauh dan jangan mendekati ku lagi!" ucapnya dengan suara tertahan dan menahan mati-matian rasa yang bergejolak dalam dada. Bahkan pria itu mencengkram kursi dengan erat, napasnya memburu. Dadanya naik turun dengan terengah sementara Dita menurunkan tubuhnya tepat di atas paha Arzan yang terbuka sehingga membuat Arzan mendelik tak percaya. Terlebih lagi jemari lentik wanita itu mulai menelusuri setiap inci tubuh Arzan, membuat pria itu semakin tidak bisa menahan gejolak hasrat yang semakin menjadi.
"Ayo Kak, kita lakukan lagi. Aku benar-benar merindukan kakak. Aku akan memuaskan kakak seperti biasanya. Aku akan membuat kakak melayang ke udara. Jangan lagi menahan diri, kak. Aku milikmu, dan akan tetap menjadi milikmu selamanya." bisik wanita itu semakin berani. Arzan mencoba menahan diri di ujung pertahanan yang semakin tipis, ia memejamkan mata dan berusaha menepis wanita yang sedang menggerayangi nya. Tapi tubuhnya seolah meminta lebih, meminta Dita menjamah bagian tubuhnya yang lain.
"Tenang aja, kakak akan sembuh jika sudah mendapatkan semuanya." wanita itu mulai menemukan kedua bibir mereka, awalnya mengecupnya pelan dan lama-lama membuat Arzan terlena dan menikmati kecupan bibir Dita. Benteng pertahanan yang ia bangun roboh seketika, ia tidak bisa lagi menahan gelombang hasrat yang kian menggulungnya minta di puaskan. Di sela ciuman mereka, Dita tersenyum puas. Ia berhasil membuat pria itu kembali ke dalam pelukannya. Ia berjanji akan membuat pria itu tidak akan bisa lepas darinya. Saat keduanya sedang berciuman dengan hasrat yang menggebu, Mbok Sumi yang akan keluar dapur melihat keduanya.
"Astaghfirullah, ya Allah apa yang mereka lakukan?" wanita setengah baya itu beristighfar, mengusap dada serta menutup mulutnya yang tak sengaja terbuka. Lalu detik berikutnya wanita itu membalikkan tubuhnya, beristighfar dengan deras.
"Bahkan sekarang mereka melakukan zina secara terang-terangan semenjak kepergian Nyonya. Ya Allah, kenapa mereka begitu tega? Aku tidak sanggup jika harus di sini terus menerus dan selalu melihat kezaliman yang terjadi di depan mata. Apa yang harus aku lakukan?" Mbok Sumi sudah menangis, ia memikirkan nasib Aisyah yang mempunyai suami serta adik yang sangat tega padanya. Ia berlari kembali masuk dapur, Mbok Sumi tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Nikmati aku, kak. Kita akan bercinta sepuasnya dan melupakan segala kesedihan kakak. Tenang saja, aku akan membuat kakak melupakan dia." ucap Dita di sela cumbuannya. Pakaiannya tak lagi berada di tubuh wanita itu, begitu pula dengan Arzan. Kaos yang ia kenakan entah sudah berada di mana. Keduanya hampir tak berbusana, dengan Dita yang duduk sempurna menghadap pria itu. Tanda merah sudah tercetak jelas di leher dan dada wanita itu, saat keduanya sedang sibuk pada dunia mereka dua orang pria dan wanita menatap dengan sangat terkejut ke arah mereka.
"Astaghfirullah ya Allah! Arzan, Dita! Apa yang sedang kalian lakukan?!" teriak sang pria dengan amarah yang luar biasa.
__ADS_1