
Perasaan itu tak pernah hilang, hanya kekecewaan yang membuat seolah semuanya hilang
Sekuat hati menghalau kecewa yang terus menyerang, hingga hati tertutup dengan kekecewaan.
🌻🌻
Happy reading
Dita berdiri, melangkah mendekati sang kakak ipar yang masih tertegun. Membelai lembut wajah yang tampak begitu putus asa. Ia berusaha mengambil kesempatan, mencoba terus masuk agar bisa mendapatkan tempat di hati pria itu.
"Kak, berarti kakak nggak benar-benar mencintai kak Aisyah. Kakak hanya merasa tidak bisa meninggalkan dia selama ini karena kebaikan kak Aisyah. Dari pada kakak terus-menerus di hantui rasa bersalah, maka sebaiknya kakak talak kak Aisyah. Kasihan juga 'kan, kalau kak Aisyah terus menerus di cuekin dan sikap dingin ke dia itu cuma nyakitin dia aja. Kakak juga nggak bahagia sama dia, merasa kecewa dan terus jijik melihat dia. Apa nggak sebaiknya kalian bercerai aja? Biar kalian berdua bisa menata kembali hidup masing-masing." bujuk gadis itu seraya menempelkan wajahnya ke dada bidang suami kakaknya. Jemarinya yang lentik menyentuh dada bidang yang tertutup kaos putih. Jemarinya membentuk garis abstrak, menelusuri dada bidang Arzan hingga naik ke jakun pria itu yang baik turun.
"Aku tidak bisa menceraikan Aisyah."
Gerakan jemari liar gadis itu terhenti. Tatapan gadis itu menyiratkan amarah, tangan kirinya yang berada di pinggang pria itu mengepal. Ia pun menarik tubuhnya menjauh, menghadap kakak iparnya. Sedikit mendongak karena tinggi pria itu berbeda dengannya.
"Kenapa?" tanya gadis itu dengan sorot mata yang tajam. Menanti jawaban yang akan menyakitinya.
Pria itu menghela napas berat, hatinya cukup merasa sesak membicarakan pernikahan yang baru seumur jagung tapi sudah berada di ujung tanduk. Kilasan kenangan indah bersama istrinya selalu terngiang, tak bisa di lupakan ataupun di buang. Di relung hatinya yang terdalam, sungguh dirinya masih teramat mencintai sang istri.
__ADS_1
"Aku masih mencintainya. Aku tidak bisa jika harus berpisah darinya." lirih pria itu seraya menatap gadis yang ada di hadapannya dengan sayu. Tatapan penuh luka, menyiratkan kesakitan yang tiada tara.
"Lalu, apa kakak kira hubungan kita tidak menyakiti kak Aisyah? Kalau Kakak mencintai kak Aisyah, kenapa kakak malah mengkhianati dia dengan berselingkuh dengan Dita? Kita sudah melakukan hubungan suami-istri itu berulang kali dan kakak selalu menikmatinya. Kakak nggak cinta sama dia ! kakak itu cintanya sama aku. Kakak cuma nggak enak aja sama dia, kak. Coba bayangin kalau kak Aisyah tahu hubungan kita, pasti Kak Aisyah akan terluka. Kakak nggak mau 'kan kalau kak Aisyah sakit hati karena mengetahui perselingkuhan kita?" Arzan menggeleng. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana terlukanya wanita itu jika mengetahui semuanya. Bagaimana sakit hatinya wanita itu ketika dirinya tahu jika di khianati oleh suami yang sangat di cintainya.
"Aku nggak mau Aisyah sampai tahu dan terluka karena semua ini."
"Nah, makanya kakak cepetan talak kak Aisyah. Rumah tangga kakak juga nggak akan bisa di selamatkan. Ayolah kak, talak kak Aisyah dan kita bisa bersama selamanya."
"Apa aku bisa?" tanya pria itu dengan ragu.
"Kakak pasti bisa. Lagi pula, kakak udah ngambil kesucian aku. Kakak harus bertanggung jawab. Kalau bukan kakak yang menikahi aku, siapa nanti yang akan menikahi aku? Apa kakak tega nantinya nasib aku sama kayak Kak Aisyah? Kakak harus bertanggung jawab karena kakak yang pertama kali ngambil kesucian aku." tegasnya sehingga membuat Arzan terkesiap. Benar, dirinya sudah mengambil kesucian adik iparnya sendiri. Menikahi kakaknya dan tidak menyentuh wanita yang sah menjadi istrinya. Dan sekarang malah merusak gadis itu. Pria tipe macam apa sebenarnya dirinya? Apakah dia sama buruknya dengan pria yang sudah merebut kesucian Aisyah? Yang sudah merusak masa depan wanita itu ? Bahkan lebih buruk karena telah menghancurkan istrinya hingga hancur lebur tak bersisa.
"Kak, yang kita lakukan ini udah melukai perasaan dia. Lebih baik kakak talak dia sebelum dia tahu dan menyakiti kak Aisyah." Arzan memejamkan mata, meresapi ucapan sang adik ipar sekaligus selingkuhannya. Sementara itu, jemari gadis yang ada di hadapannya itu kembali aktif. Menjelajahi setiap jengkal tubuh sang kakak ipar yang masih termenung mencoba memikirkan segala hal yang terjadi. Mencoba memikirkan langkah yang akan di ambilnya.
Hingga suara erangan terpaksa keluar dari mulutnya kala sang adik ipar yang bermain di bawahnya.
"Dita ... Apa yang kamu lakukan?" tanya pria itu seraya menahan mati-matian gelombang hasrat yang tiba-tiba menggulungnya. Gadis itu selalu bisa membuatnya tertutupi napsu hingga tak bisa berpikir dengan jernih.
"Aku hanya menyelesaikan tugas. Bukankah kakak menyukai apa yang sedang aku lakukan?" Arzan hanya terdiam, yang di ucapkan gadis yang ada di bawahnya, ia sangat menyukai apa yang di lakukan gadis itu.
__ADS_1
"Aku akan membuat kakak menjadi raja, tenang aja. Ayo kita kembali menghabiskan malam ini berdua." ucapnya seraya memasukkan kembali milik Arzan ke dalam mulutnya hingga membuat pria itu kembali mengerang. Hingga ruangan itu di hiasi dengan suara erangan keduanya. Saling menikmati keindahan tubuh keduanya, ruang kerja itu di penuhi oleh suara mereka berdua. Membuat polusi udara bagi siapapun yang mendengarnya. Tubuh keduanya di banjiri peluh, tak sehelai benangpun yang menempel pada tubuh keduanya. Semuanya berserakan entah kemana. Hingga detik berikutnya terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar. Keduanya pun terkesiap, untung saja sebelumnya Dita sudah mengunci pintu itu. Jika tidak, maka orang yang ada di balik pintu pasti melihat semua yang terjadi di ruang kerja itu. Keduanya saling tatap dengan panik, detik selanjutnya terdengar suara Aisyah dari luar.
"Ma-mas, a-apa kamu di dalam?" terdengar suara Aisyah yang bergetar di susul dengan bergeraknya handel pintu. Dita langsung turun dari tubuh Arzan yang ada di bawahnya, sementara Arzan langsung meraih celana pendek miliknya dengan mengenakannya dengan asal. Suara Aisyah Kembali terdengar.
"Mas, buka pintunya mas! Kamu sama siapa di dalam?" teriak wanita itu tidak sabar. Arzan pun segera melangkah menuju pintu, tak sempat mengelap tubuhnya yang penuh dengan keringat.
"Ganggu kesenangan orang aja sih?! Harusnya kak Arzan cepat menalak dia. Biar nggak ada lagi gangguan kayak gini." rutin gadis itu dengan kesal.
"Kamu ngapain sih tengah malam gedor-gedor pintu kayak gitu? Ganggu orang tidur aja!" Arzan mencoba menutupi kegugupannya, tak berani menatap wajah istrinya yang sembab dan telah menangis.
Arzan beralasan jika ia lupa mematikan film yang tadi di tontonnya. Dita yang mendengarnya hanya tersenyum jahat.
"Iya, bikin filmnya sama aku. Mau aja di bohongin. Emang enak di kibulin sama istri sendiri? " lirihnya seraya menutup mulut takut tawanya terdengar oleh sang kakak. Tak lama Arzan menutup pintu dan berdiri di balik pintu itu seraya menetralkan napasnya yang memburu. Tangannya memegang dadanya, sembari mendengarkan langkah kaki istrinya yang menjauh.
"Sayang ... Pengganggunya udah pergi 'kan? Ayo kita lanjutin. 'Kan kita belum selesai." ucap Dita dengan suara manja.
Arzan dengan cepat meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya memberi isyarat agar tidak berisik.
"Jangan keras-keras, nanti Aisyah dengar."
__ADS_1
Dita terkikik geli. Ia kembali menarik sang kakak ipar dan kembali melewati malam dingin penuh dengan kehangatan. Sementara Aisyah, mengabiskan malam dengan segala pikiran buruk tanpa pelukan hangat dari suaminya. Suaminya berada dalam dekapan wanita lain sehingga ia harus puas melewatkan malam hanya dengan memeluk guling yang selalu menemaninya.