Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 35


__ADS_3

Duri itu semakin menusuk


Semakin ku biarkan, ia semakin menyakiti hingga terlalu dalam


Hati ini tak lagi bisa menahan rasa itu


semua bagai mengoyak seluruh jiwa raga


Aku menyerah ....


Aku mengaku kalah ....


Biarkan aku bebas untuk melangkah


Mencari jalan yang tak lagi searah


🌷🌷


Happy reading


Aisyah berjalan tertatih, menyeret langkahnya yang lemah. Tubuhnya basah kuyup karena hujan, tubuhnya menggigil kedinginan dengan bibir yang membiru. Ia terus melangkah hingga mengetuk sebuah pintu coklat yang ada di hadapannya.


Tok ... tok ... tok ...


Ia mengetuk pintu itu, berharap penghuninya akan segera keluar. Tapi hingga beberapa kali ia mengetuk, pintu itu belum juga terbuka. Aisyah sadar, jika hari sudah sangat malam. Ia menatap lantai bewarna putih di bawah sana, giginya sudah gemeletukan karena menahan rasa dingin yang menyerang. Ia memeluk tubuhnya untuk mengusir rasa dingin, berharap bisa memberikan kehangatan meski hanya sebentar. Tak lama terdengar suara pintu yang di buka dari dalam, membuat wanita itu mendongak dan mendapati wajah sahabatnya yang terkejut bukan main.

__ADS_1


"A-Aisyah? Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?" jeritnya tertahan. Sahabatnya tampak kacau dengan pakaian yang basah kuyup, wajahnya sembab seperti habis menangis. Wanita itu menggigil kedinginan, Selanjutnya ia segera mendatangi Aisyah serta memeluknya sebentar dan setelahnya ia segera membawanya masuk. Aisyah terpaksa mendatangi kontrakan sahabatnya karena ia tidak tahu lagi harus kemana. Ia tidak mungkin pulang ke rumah karena di sana ada mama tirinya yang sudah pasti akan lebih menyakitinya.


Setelah berganti pakaian, Aisyah di paksa untuk minum teh hangat yang di buatkan oleh Desy sahabatnya.


"Terimakasih, karena sudah mau menampungku." ucap Aisyah seraya menghirup teh panas yang ada di dalam genggamannya.


"Apa kamu sudah siap untuk bercerita?" tanya Desy seraya menatap Aisyah dengan sendu. Ia sangat menyesali apa yang terjadi pada sahabatnya. Wajah yang biasanya terlihat ceria itu kini di penuhi mendung. Wajah Aisyah terlihat sembab bekas menangis, matanya penuh dengan kesedihan dan luka.


Aisyah segera meletakkan secangkir teh yang di berikan oleh Desy ke atas meja kecil yang ada di kamar itu. Menarik napas berat yang sedari tadi menyesakkan dada. Ia menceritakan semua yang terjadi pada Desy, sahabatnya. Di sela cerita sesekali terdengar umpatan kecil penuh emosi dari bibir sahabatnya itu.


"Brengsek tuh si Arzan!" umpatnya kesal. Bahkan tangannya terkepal ingin sekali menghajar pria yang berstatus sebagai suami sahabatnya itu.


Aisyah kembali melanjutkan cerita yang tertunda setelah Desy tenang, menceritakan semuanya hingga tak bersisa.


"Lalu, kenapa baru sekarang kamu pergi dari rumah bak neraka itu?"


"Semua orang juga berharap seperti itu, Aisyah. Tapi bagaimana bisa kamu tahan dengan sikap buruk mereka ke kamu selama ini? Bagaimana bisa kamu bertahan dalam neraka yang bisa saja membuat kamu gila karena ulah mereka. Dan lagi, adik tiri kamu yang nggak tahu diri itu. Pengen banget aku tarik rambutnya Sampai botak!" geram Desy seraya mengepalkan kedua tangannya dengan wajah penuh kekesalan luar biasa. Ia sungguh tak menyangka wajah sepolos itu bisa dengan sangat tega merebut suami kakaknya sendiri.


"Sudah berapa lama mereka menjalin hubungan?"


Aisyah mengangkat kedua bahunya,


"Entahlah, yang pasti hubungan mereka sudah sampai ke ranjang. Terbukti dari suara-suara yang ku dengar dari ruang kerja Mas Arzan hampir tiap malam. Dan ...."


Wanita itu menjeda kalimatnya, menarik napas yang terasa sangat berat. Sangat sakit rasanya mengingat suara-suara yang membuatnya menangis setiap malam. Suara-suara yang hampir saja memecahkan gendang telinganya.

__ADS_1


"Leher dan dada Dita juga di penuhi tanda merah," lirihnya seraya menatap Desy dengan mata nanar. Sontak saja sahabatnya memejamkan mata, tak terbayang jika dirinya berada di posisi Aisyah. Baru mendengarnya saja ia sudah luar biasa sakitnya, apalagi jika sampai mengalami semuanya sendiri. Ah, entahlah ia tak sanggup jika harus menjalani kehidupan yang begitu menyakitkan seperti yang di alami Aisyah.


"Kenapa mereka bisa sejahat itu padamu, Aisyah. Padahal kamu sudah begitu baik kepada mereka berdua. Aku tidak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan padamu. Sepertinya mereka berdua sudah sakit jiwa!" Desy selalu emosi sedari tadi. Ia pun bingung dengan Aisyah yang bisa-bisanya menyembunyikan semua ini serta bersikap seolah-olah rumah tangganya baik-baik saja.


"Ya ampun! Aku tak menyangka kenapa semua ini bisa terjadi kepadamu." Ia mendesah putus asa.


"Ini semua karena salahku juga, Des." Lirih wanita yang duduk di sampingnya itu. Desy tidak bisa untuk tidak mengernyitkan dahi, ia menatap bingung pada sahabatnya itu.


"Kenapa ini salahmu? Mereka yang mengkhianati kamu, dan kenapa sekarang malah jadi salah kamu?"


Aisyah kembali menarik napas berat.


"Ya karena masa lalu yang kelam, sehingga membuat Mas Arzan kecewa. Coba saja aku masih perawan, pasti Mas Arzan tidak akan berpaling dan menjalin hubungan dengan Dita. Mungkin rumah tangga kami akan baik-baik saja sampai sekarang. Mungkin jika aku masih perawan, Mas Arzan tidak akan berubah dan berbalik mencintai adikku. Mungkin ...." ia tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya, semuanya terasa sakit menusuk hingga ke relung hati yang terdalam. Melihat sahabatnya yang begitu hancur, Desy menarik wanita yang rapuh itu ke dalam pelukannya. Mencoba memberikannya semangat dan dukungan agar ia jatuh tidak terlalu dalam pada kubangan kesedihan dan kehancuran.


"Lupakan, Aisyah. Semua itu hanya alasan dia saja. Cinta tak memandang keperawanan, jika benar ia mencintai kamu maka sudah seharusnya ia menerima segala kekurangan dan kelebihan kamu. Yang pasti Arzan bukan pria baik, ia benar-benar tidak pantas untuk di pertahankan. Tenang, Ya. Aku akan di sini bersama kamu untuk melewati semuanya."


"Terima kasih, ya. Kamu memang sahabat terbaikku." ucapnya dengan penuh haru. Ia bersyukur setidaknya ia masih memiliki sahabat yang begitu peduli padanya.


Keduanya masih berpelukan, di luar masih turun hujan yang tidak begitu deras seperti tadi. Malam pun sudah sangat larut, sehingga hanya terdengar suara hujan yang menyentuh atap.


"Ya udah, kita tidur aja ya. Kamu harus istirahat." ajak Desy seraya melepaskan dekapannya. Aisyah mengangguk, ia menuruti ajakan sahabatnya.


Ketika keduanya hendak tidur terdengar suara mobil berhenti di depan rumah kontrakan Desy. Tak lama terdengar suara ketukan di pintu rumah itu sehingga membuat Aisyah dan Desy saling pandang. Menebak siapa yang datang di malam yang selarut ini.


"Siapa yang datang malam-malam begini?" Gumam Desy heran. Detik selanjutnya keduanya sama-sama mendelik, satu pemikiran.

__ADS_1


"Jangan-jangan ...?"


__ADS_2