Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 49


__ADS_3

Sengaja ku ciptakan jarak,


Tembok tinggi yang tak bisa di bajak


Kepingan kaca masih berserak


Tak mungkin ku biarkan terjebak


🍂🍂


Happy reading


Aisyah mengantar Haris sampai ke luar ruang rawat Ayah Aisyah. Keduanya berjalan perlahan di koridor rumah sakit yang mulai sepi. Waktu menunjukkan pukul 21.00 Malam, jam besuk juga sudah habis.


"Kamu nggak pulang?" Haris mencoba untuk memecahkan kesunyian yang tercipta di antara mereka. Aisyah menggeleng, ia tersenyum tipis.


"Aku akan menjaga Bapak sampai sembuh. Kasihan Bapak jika aku tinggal sendirian," ujarnya seraya berjalan perlahan.


Haris mengangguk, hening kembali tercipta. Saat akan sampai di pintu keluar rumah sakit, Aisyah menghentikan langkahnya begitu pun dengan Haris.


''Hati-hati, ya. Oh ya, terima kasih sudah mengantarku dan menjenguk Bapak." ucapnya tulus. Haris tersenyum, ia mengangguk pelan.


"Sama-sama, hubungi aja kalau butuh bantuan."


"Siap. Terima kasih sebelumnya. Oh ya, omongan Bapak tadi jangan terlalu di pikirkan. Beliau cuma mengkhawatirkan keadaan anaknya."

__ADS_1


Haris mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan ucapan wanita yang ada di hadapannya.


"Ki-ta akan tetap menjadi, te-man 'kan?" tanya Aisyah seraya menatap Haris dengan senyum yang mengembang. Pria itu terpaksa mengangguk, mengulas senyum paksa demi menyenangkan Aisyah dan menyembunyikan kecewa yang melanda.


"Selamanya kita akan menjadi teman, tenang saja. Kamu jangan khawatir," kata Haris seraya mengusap ujung kepala Aisyah.


"Ku harap kamu bisa menemukan cinta sejati kamu, Ris."


"Yah, ku harap kamu juga begitu."


Aisyah mengangguk, lalu segera mendorong tubuh Haris agar menjauh.


"Pulang sana! Nanti di cariin Mama."


"Astaga! Kamu kira aku anak kecil?" pria itu mendelik tak terima.


🍂🍂


Dita bolak-balik melihat pintu rumah yang terkunci, ia menatap khawatir. Arzan belum pulang seharian, ia sangat merindukan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. Wanita itu terus menunggu hingga ia tertidur di ruang tamu. Mbok Sumi yang melihatnya pun hanya menghela napas berat, ia sengaja membiarkan Dita berbaring di sana. Jika dulu, ia akan dengan cepat mengingatkan Aisyah agar menunggu Arzan di kamar dan dia akan membantu Aisyah ke kamar. Tapi berbeda dengan Dita, ia tidak menyukai wanita yang sombong serta angkuh seperti Dita. Maka ia membiarkan wanita itu berbaring di sana tanpa mau menegurnya.


Dita terbangun ketika mendengar suara langkah kaki yang memasuki rumah, ia segera mengucek matanya dan mengumpulkan sisa kesadaran yang belum sepenuhnya. Senyumnya terbit ketika mengetahui pria yang ia tunggu sedari tadi akhirnya pulang. Tapi wajahnya berubah dengan cepat ketika mengetahui bahwa pria itu pulang dalam keadaan mabuk.


"Kak, kenapa kakak mabuk?" tanya Dita dengan kesal. Penampilan Arzan sangat kacau. Kemeja kerja yang di pakai tadi pagi terlihat kusut dengan kancing atas yang terbuka. Bau mulut pria itu tercium bau khas minuman keras. Dita harus menutup hidung, mengibaskan tangannya ke depan wajahnya.


"Astag kak! kenapa mulut kakak bau sekali? Kakak minum berapa banyak? Kenapa sampai mabuk seperti ini?" keluhnya seraya memapah pria itu untuk naik ke kamar atas.

__ADS_1


"Kenapa kamu di sini? Aisyah mana?" pria itu mulai meracau. Ia menatap sengit pada wanita yang kini sedang memapahnya untuk berjalan.


"Udah mabuk masih aja ingat kak Aisyah! Kenapa selalu tanya, dia sih?" rutuk wanita itu dengan kesal.


"Aku mau Aisyah! Kembalikan Aisyah ke rumah ini!" teriak Arzan dengan keras sehingga membuat para penghuni rumah terbangun. Mama Arzan dan Ibu Dita keluar kamar, memastikan apa yang terjadi di luar.


"Ini kenapa Kok ribut banget, sih?" tanya Mama Arzan seraya menatap keduanya.


"Ini Ma, kak Arzan mabuk. Sekarang malah nanyain kak Aisyah. 'Kan aku kesal!" ujarnya menjelaskan.


"Kenapa lagi dia?"


"Lihat aja, Ma. Kak Arzan masih aja manggil kak Aisyah padahal ada Dita di sini!"


"Namanya juga orang mabuk, pasti kalo ngomong itu ngawur! Nggak da yang benar." Bela sang Mama Arzan sehingga membuat Dita semakin kesal.


"Mama kok gitu sih ngomongnya? Mama kan juga perempuan. Pasti tahu sakitnya ketika orang yang kita cintai memanggil wanita lain."


"Kamu ini apaan sih? kenapa berkata seperti itu?"


"Ya abisnya Mama enak banget ngomongnya. Gimana nggak sakit hati kalau saat sadar atau enggak kak Arzan selalu memanggil nama kak Aisyah."


"Ya wajar lah, karena mereka berpacaran udah lama banget."


"Terserah!" Dita mengabaikan Mama Arzan, ia berlalu begitu saja dan meninggalkan Arzan yang tergeletak di tangga menuju kamar. Melihat hal itu membuat Ibu Arzan menggeleng.

__ADS_1


"Kenapa Dita bisa seperti itu? bukannya kemarin baik-baik saja?" Ah entahlah, Mama Arzan segera mengajak anaknya ke kamar.


__ADS_2