
**Menelisik hati dan menunggu waktu
Menguatkan hati untuk sesuatu
Mencoba meredam sakit meski luka itu terlalu dalam
Mencoba diam meski hati menjerit setiap malam
🌹🌹
Happy reading**
Aisyah pulang dengan membawa kegamangan dan kegalauan hati yang tak menentu. Ucapan sahabatnya membuat dirinya berpikir dengan keras. Baru sampai ia di depan pintu rumah, ia sudah melihat adik tirinya sedang menonton sambil memakan camilan. Langkahnya terhenti, ingin rasanya menanyakan semuanya pada sang adik. Tapi hati kecilnya menolak, tidak mungkin adiknya tega berbuat hal seburuk itu padanya. Tapi .... di sisi lain ia juga tidak bisa membiarkan rumah tangganya semakin hancur. Ketika ia berusaha untuk mengumpulkan kepingan puzzle yang hancur, datang orang ketiga yang berniat membuat rumah tangganya hancur tak bersisa. Ia tidak akan tinggal diam, Aisyah akan sekuat hati berusaha untuk menyelematkan rumah tangga yang baru tiga bulan dan sudah di ujung tanduk.
Ia mencoba menguatkan hati, menimang rasa antara enak dan tidak enak. Menimang rasa antara pantas atau tidak pantas.
"Kalau aku sih, rebut terus itu suaminya. Lagian 'kan, salahnya sendiri punya suami nggak di jaga." kata-kata itu meluncur dengan lancar dari mulut Dita yang sedang mengunyah makanan. Aisyah terkejut, kenapa Dita punya pemikiran seperti itu? Meski ia hanya berkomentar tentang sinetron yang ia tonton, tapi Aisyah merasa komentar Dita tidaklah pantas. Atau itu hanya perasaannya saja yang terlalu sensitif? wanita itu menggeleng. Ah entahlah, ia sendiri juga bingung.
Wanita itu melanjutkan langkahnya menuju ruang tv yang terdapat seorang gadis sedang sibuk menonton sinetron.
"Dita, kamu nggak kuliah?" tanya Aisyah berbasa-basi. Gadis yang di sapanya hanya melirik sebentar, lalu kembali fokus pada layar yang ada di hadapannya. Aisyah melihat beberapa bekas makanan yang berceceran, botol minuman dingin yang berserakan serta bungkus jajanan yang berhamburan. Ia menarik napasnya sebentar, lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Kenapa harus berserakan?" keluh Aisyah pada adiknya.
"Kenapa harus repot sih, kak. 'Kan ada mbok Sumi yang beresin. Jangan ribet kenapa sih?" sahut Dita tanpa menoleh.
"Kan kalo bisa rapi, kenapa nggak? lagian anak cewek kok makan berantakan?"
__ADS_1
Dita merasa tersinggung, ia menghentikan kunyahannya lalu menghempaskan sekantong plastik kentang goreng yang sedari tadi di pegang. Ia berdiri, menatap kakaknya dengan kesal.
"Jangan mentang-mentang nyonya di rumah ini, kakak jadi sok berkuasa ya."
Aisyah mengerutkan dahinya, berpikir sebentar.
"Kakak nggak ada maksud untuk sok berkuasa di rumah ini. Tapi kakak cuma menegur cara kamu. Apakah baik, jika anak gadis makan dengan berantakan? Lagian kan kasihan Mbok Sumi. Dia udah capek di dapur, bukannya bantuin malah nambahin kerjaan dia."
"Untuk apa di bantuin? Bukannya itu tugas dia yah?"
"Setidaknya kamu meringankan pekerjaan dia. Kasihan Mbok sumi udah tua, Dit."
"Ya udah, kakak aja yang beresin. Aku mau ke kamar aja kalo gitu."
Gadis itu akan pergi ketika Aisyah menarik lengannya. Merasa ada yang menariknya, Dita berhenti dan melirik lengannya yang di cekal oleh Aisyah.
"Tunggu sebentar! Ada yang ingin kakak tanyakan sama kamu."
"Bentar aja, Dit. Ayo duduk sebentar!" ajak Aisyah. Mau tidak mau, Dita menunda keinginannya untuk pergi ke kamar. Ia pun merasa penasaran apa yang akan di tanyakan oleh kakaknya. Ia pun menatap kakaknya dengan malas sembari melipat kedua tangan di depan dada.
"Jadi, apa yang mau kakak tanyakan?" kata gadis itu. Aisyah duduk di bed sofa panjang bewarna coklat yang ada di depan tv. Menyingkirkan beberapa cemilan yang belum di buka. Menarik adiknya agar ikut duduk.
"Duduklah, tidak enak jika mengobrol sambil berdiri." pinta kakaknya seraya menepuk tempat kosong di sebelahnya. Dita memutar bola matanya secara terang-terangan.
"Mau nanya aja kok repot banget sih." ia terpaksa duduk di sebelah Aisyah. Sementara wanita itu mengumpulkan keberanian untuk bertanya. Takut mendapatkan respon yang tidak baik dari adiknya, tapi rasa penasaran membuatnya mantap untuk bertanya.
"Dit, kamu beneran udah punya pacar?" tanya Aisyah dengan hati-hati.
__ADS_1
"Kenapa sih nanya gitu? Kakak nggak percaya kalau adik kakak ini laku?"
"Bukan begitu, Dit. kakak cuma mau bertanya karena yang Kakak lihat hubungan kalian udah jauh banget."
Dita menatap kakaknya tidak suka.
"Jauh gimana sih, kak?"
"Ya, udah jauh. Sampai ... leher kamu banyak tanda merah. Kalian belum ngelakuin hal itu, 'kan Dit?"
"Kakak ini kok repot banget sih? Mau aku udah ngelakuin hal itu atau nggak, itu bukan urusan kakak. Lagian kakak 'kan dulu udah ngalamin sendiri hal begituan sebelum menikah. Gimana kakak dengan mudahnya mau memberikan semuanya kepada pacar kakak. Jangan sok suci deh!"
Aisyah menghela napas berat.
"Bukannya kakak mau ikut campur atau merasa sok suci, tapi kakak cuma takut kamu bakal ngalamin hal yang sama kayak kakak."
"Nasib orang itu beda-beda, kak. Lagian pacar aku pasti tanggung jawab kok. Dia bakal nikahin aku, tapi waktunya aja belum tepat."
"Kenapa? Bukankah menikah secepatnya akan lebih baik?"
"Ya karena dia suami orang." kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut gadis yang ada di sampingnya. Tenggorokan Aisyah terdekat, ia menatap adiknya tak percaya. Sementara Dita yang keceplosan berusaha untuk tenang.
"Bercanda! Nggak mungkin aku mau sama laki orang. Lagian dia itu laki-laki yang dari dulu aku suka. Dari dulu aku udah cinta sama dia. Jadi pas ada kesempatan untuk bisa memiliki dia, kenapa enggak? Aku nggak bisa kehilangan dia. Jadi ya aku harus ngelakuin hal itu biar dia nggak pergi dari aku."
"Dita, kamu tahu nggak apa yang kamu lakuin itu salah. Cukup kakak yang ngerasain hal itu."
"Udah lah, kakak jangan ikut campur dengan apa yang aku lakuin. Kakak fokus aja sama rumah tangga kakak yang udah di ujung tanduk. Pikirkan baik-baik, mau lanjut atau enggak sama kak Arzan. Lagi pula kasihan kan, kak Arzan harus dapat bekas? Dia itu baik, ganteng, mapan pula. Sudah seharusnya dapat pendamping yang pantas untuk Dia."
__ADS_1
Kata-kata Dita cukup menyinggung perasaan Aisyah hingga wanita itu hanya bisa diam.
"Makanya Kak, kalau jadi wanita itu pinter dikit. Kalo kakak udah nyerahin mahkota kakak sama seorang cowok, ya harusnya kakak nikahnya sama dia. Jangan nikah sama orang lain. Kasihan 'kan anak orang. Berharap dapat perawan, eh malah dapat yang katanya perawan tapi rasa janda. Cowok yang mau nerima kita apa adanya di dunia ini nggak ada kak. Semuanya itu hanya omong kosong!" Aisyah membenarkan ucapan adiknya. Arzan awalnya juga begitu, ia mengatakan akan menerima semua masa lalu Aisyah meski itu buruk sekalipun. Tapi kenyataannya? Semua memang hanya omong kosong. Cintanya hanya sebatas keperawanan. Setelah mengetahui sang istri tidak perawan, rasa cinta itu menguap begitu saja hilang entah kemana. Harusnya ia menikahi anak SD saja, yang belum tersentuh sama sekali. Apalagi di era modern seperti sekarang ini. Banyak para remaja yang dengan sengaja mengumbar kemesraan bersama pacarnya.