
"Kita sama-sama kecewa dan terluka,
Aku berharap kau mau menerima segala kekurangan ku, sementara kamu berharap lebih padaku.
Kemana hati ini kan ku bawa?
Sementara ikatan ini baru terjalin beberapa jam saja ....
***
**Happy reading....
🍄🍄🍄**
Aisyah bangun ketika alarm berbunyi, melirik sebentar ranjang yang kosong di sebelahnya.Seketika hatinya kembali terasa nyeri ketika teringat hal buruk yang terjadi tadi malam. uaminya tidak kembali ke kamar dan membiarkan dirinya tidur sendiri di malam yang seharusnya menjadi malam pertama dan terindah bagi mereka.
“Maafkan aku, mas.” lirihnya seraya menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak, bagai ada sebuah batu besar yang menghimpit. Ia menginjakkan kakinya ke lantai yang dingin, menyeret langkahnya yang lemah menuju kamar mandi. Menyiram kepalanya dengan air dingin mungkin akan sedikit membuatnya merasa lebih baik.
Setelah selesai membersihkan diri, ia segera menunaikan ibadah Sholat subuh. Membumikan kepala, serta melangitkan perasaan pada sang pencipta. Melantukan shalawat setelah sholat serta mengungkapkan semua yang ia rasakan di atas sajadah yang terhampar. Tuhan-Nya memang tahu bagaimana cara yang paling mesra agar hamba-Nya kembali pada-Nya dengan berjuta rasa.
Aisyah masih terisak ketika Arzan masuk ke dalam kamar. Ia mematung, netranya tak lepas dari sosok sang istri yang sedang bersujud dengan punggung yang bergetar. Tubuhnya di selimuti mukena putih, terdengar isak tangis memilukan. Hati Arzan mencelos, bagai ada pisau tak kasat mata yang mengiris hatinya. Menimbulkan rasa sakit yang kian menyebar ke seluruh tubuh.
“Apa sikapku sangat keterlaluan tadi malam?” gumamnya dalam hati. Tangannya masih tergantung menggenggam gagang pintu kamar yang setengah terbuka.
“Tapi aku hanya manusia biasa. Aku kecewa, wanita yang ku kira baik ternyata tidak lebih ... ah entah lah, bahkan hanya sekedar membayangkannya saja membuatku sakit hati.” masih membatin. Detik berikutnya ia segera menutup kembali pintu kamar yang semula ia buka. Melangkah kembali ke ruang kerja yang ia tempati semalaman.
“Aku hanya kecewa. Ku kira kamu berbeda, Aisyah. Makanya aku memilihmu.” desahnya dengan putus asa. Ia menatap langit-langit, lalu memejamkan matanya sebentar seraya memijit pelipisnya yang terasa pening.
Aisyah terlihat sibuk di dapur membantu mbok Sumi, sang asisten rumah tangga. Ia sedang mengupas bawang merah untuk membuat nasi goreng kesukaan Arzan, sementara mbok Sumi sedang menggoreng telur mata sapi.
“Tuan Arzan sangat suka telur mata sapi,” ucap perempuan bertubuh gempal itu sembari memindahkan telur yang matang ke piring.
“Sama mbok, Aisyah juga suka yang setengah matang.” kata Aisyah seraya mengulas senyum.
“Ah Tuan dan Nyonya memang pasangan yang serasi. Kalian memang cocok dan banyak memiliki kesamaan,” puji Mbok Sumi dengan mata yang berbinar. Senyum bahagia sangat kentara di wajah yang mulai di penuhi oleh keriput itu.
__ADS_1
“Tuan Arzan memang sangat beruntung mendapatkan istri seperti Nyonya. Sudah cantik, baik hati, pintar memasak , Solehah pula.” imbuhnya dengan nada ceria. Sementara itu, Aisyah tersenyum getir. Ada sedikit nyeri di ujung hatinya.
“Tapi aku sudah tidak perawan, mbok. Mas Arzan tidak seberuntung seperti yang mbok kira. Bahkan mungkin saat ini Mas Arzan menyesal telah menikahiku.” ujar Aisyah di dalam hati. Mana mungkin ia mengatakan dengan gamblang segala yang terjadi tadi malam.
Dalam beberapa saat, dapur minimalis itu kembali hening. Hanya terdengar suara spatula yang bertabrakan dengan wajan yang berisi nasi goreng seafood yang di buat oleh Aisyah.
***
Arzan memasukkan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya. Mengunyah sebentar, lalu berhenti. Ia menatap Aisyah yang ada di seberang meja, menatapnya dengan penuh kasih sayang.
“Kenapa, mas? Apa tidak enak?” tanya Aisyah dengan khawatir. Pria itu hanya menggeleng, mengunyah kembali nasi goreng buatan sang istri dan melanjutkan suapan kedua hingga pada suapan ketiga, ia mendorong piring yang masih berisi nasi goreng dengan telur setengah matang yang hanya tersentuh sedikit.
“Kenapa mas? Apakah tidak enak?” lagi, Aisyah bertanya hal yang sama pada suaminya.
“Enak.” jawabnya singkat tanpa menoleh. Ia meneguk segelas air putih hingga tandas.
“Itu nasi goreng buatan ku, mas.” Arzan melirik sebentar pada Aisyah yang wajahnya kini di penuhi rasa kecewa.
“Terima kasih.” kata Arzan sembari berdiri.
“Nasi gorengnya enak,” jawabnya. Membuat Aisyah tersenyum dengan mata berbinar.
“Benarkah?”
Arzan mengangguk.
“Lalu, mengapa kamu tidak menghabiskannya ....”
“Aku sudah terlambat ke kantor,” ucap Arzan memotong perkataan istrinya.
“Ah, baiklah.” Wajah itu kembali murung. Arzan melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan, di susul Aisyah yang mengejar Arzan dengan terburu.
“Mas, tunggu.” Pria itu berhenti, lalu menoleh pada sang istri yang membawa tas kerja milik suaminya.
“Mas, tas kerja milikmu tertinggal.” Jelasnya seraya mengangsurkan sebuah tas kerja serta beberapa map berwarna hijau kepada Arzan.
__ADS_1
“Terima kasih, aku pergi.” pamit Arzan. Tanpa aba-aba, Aisyah langsung menarik tangan suaminya, mengecup punggung tangan itu dengan khidmat.
“Hati-hati, mas. Semoga menjadi berkah.” ucapnya tulus. Pria itu menatap wajah cantik yang terdapat garis senyuman, meski senyum itu terlihat sedikit suram. Ia hanya mengangguk sebentar, lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar rumah. Menuju mobil yang telah di panaskan terlebih dulu oleh sang supir. Mengabaikan tatapan sedih sang istri.
“Maafkan aku, mas.” hanya kata itu yang terlontar kembali, mengiringi kepergian suaminya yang meninggalkannya seorang diri di teras. Aisyah masih termenung meski mobil putih yang membawa suaminya telah pergi. Hingga kehadiran Mbok Sumi membuatnya terkejut.
“Sudah, jangan di liatin terus. Nanti sore juga pulang.” goda Mbok Sumi dengan senyum-senyum. Aisyah memaksakan senyum, tanpa berkata apa-apa.
“Namanya pengantin baru, ya Nyonya. Tidak rela di tinggal pasangan walaupun sebentar.”
Lagi, Aisyah hanya tersenyum menanggapi. Jujur ia tak tahu apa yang akan ia katakan. Sementara hati dan isi kepalanya sedang berperang memikirkan sikap Arzan yang terlihat cuek sejak semalam.
“Ah iya, Nyonya. Mengapa tuan Arzan sudah masuk kerja? Bukankah seharusnya pengantin baru menghabiskan waktu bersama? Bulan madu, gitu?”
Aisyah tertawa miris. Menyembunyikan luka yang masih terasa basah di sudut hati yang terdalam.
“Mungkin Mas Arzan banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, Mbok. Jadi tunggu saja jika nanti ia sudah tidak sibuk.” ujar Aisyah menenangkan. Sebenarnya kalimat itu bukan untuk Mbok Sumi. Melainkan untuk menguatkan diri sendiri, Mengenyahkan pikiran buruk yang selalu saja melintas di benaknya.
“Oh, iya ya. Kan tuan bos muda, pasti banyak sekali pekerjaan yang menunggunya.” Aisyah hanya mengangguk.
“Jadi aku harus memaklumi itu semua, kan mbok?”
“Bener, nyonya. Ah anda istri yang sangat pengertian. Anda wanita yang sangat sempurna. Ah bahkan nyaris tidak ada celah dari anda.”
“Mbok Sumi terlalu berlebihan. Saya tidak sesempurna yang Mbok bayangkan. Saya banyak kekurangan serta banyak hal yang tidak bisa di katakan dengan baik.”
“Nah kan, merendah lagi. Ah, nyonya mah terbaik pokoknya.”
Aisyah hanya menggeleng, sementara si mbok sudah masuk terlebih dulu.
“Jangan melamun di depan pintu, Nyonya. Nanti kalau kesurupan kan, tidak ada tuan yang akan membopong Nyonya.” seru Mbok Sumi dari kejauhan.
Asiyah menatap pilu pada gerbang rumah yang tertutup. Ia menghela napas berat berkali-kali di iringi istighfar dalam hati..
“Maafkan aku, mas.”lirihnya kembali. Setitik bulir bening jatuh bergulir di wajah cantiknya. Dengan cepat, ia segera menghapusnya. Wanita itu berbalik, meninggalkan teras rumah yang sepi. Membawa serta luka yang masih bergelayut di dalam hati.
__ADS_1