
Beberapa bulan berlalu, Aisyah harus bangkit dari keterpurukannya. Ia memutuskan untuk mencari kerja demi melanjutkan hidupnya. Rumah peninggalan sang ayah terpaksa di jual demi menutupi hutang-hutang yang di tinggalkan oleh ayahnya karena selama hidup selalu menuruti keinginan Mana tirinya dan Dita. Berbekal surat lamaran dan informasi dari Haris bahwa perusahaan AA group membutuhkan karyawan, maka Aisyah mencoba peruntungan di sana. Dan tak di sangka lamarannya di terima dan ia di panggil untuk wawancara. Aisyah tidak mengetahui bahwa pemilik perusahaan itu adalah pria yang ia kenal sebelumnya. Yang selama beberapa bulan ini membuatnya selalu pergi ke sebuah taman tempat mereka bertemu. Dan siapa sangka ia langsung di tolak sebelum melakukan wawancara apapun. Di sinilah dirinya saat ini. Berhadapan dengan pria yang diam-diam mengambil hatinya.
"Apa maksud kamu? Eh, maksud saya Bapak?" tanya Aisyah tidak terima.
"Bukankah anda sudah mendengarnya dengan jelas? Anda tidak bisa di terima di perusahaan ini dan saya harap segera keluar dari ruangan ini." ujar Arman dengan dingin.
"Saya tahu anda pimpinan di perusahaan ini. Tapi anda tidak bisa seenaknya saja memberikan keputusan sepihak tanpa melakukan wawancara!"
"Kenapa saya tidak bisa seenaknya? Ini perusahaan saya, jadi terserah saya dong mau menerima kamu apa tidak. Mau wawancara atau tidak, sudah jelas saya tidak mau jika anda kerja di sini! Apa anda paham?" bentak Arman dengan wajah super dingin.
"Dasar pria sombong! Tidak berperasaan! Sungguh saya menyesal sudah mengenal anda dan sempat menaruh hati pada pria sombong dan menyebalkan seperti anda! Tapi terimakasih. Setidaknya saya tahu siapa anda sebenarnya!"
"Permisi!" Aisyah segera berbalik dan meninggalkan Arman yang termenung menatap pintu yang di tutup dengan keras oleh wanita yang baru saja mengatainya sombong dan menyebalkan. Pria itu masih duduk diam di tempatnya. Tatapannya kosong menatap ke depan. Ada rasa sakit yang tertinggal di hatinya.
"Apa katanya tadi? dia sempat menaruh hati?" lirihnya tak percaya.
"Jadi sebenarnya perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan?"
"Tapi sayangnya wanita itu juga di cintai oleh Haris. Aku harus mengubur dalam-dalam perasaan ini. Aku tidak boleh terus mencintainya dan berharap padanya."
"Tenang Arman! Apa yang kamu lakukan barusan adalah keputusan yang tepat. Dengan begini, Aisyah pasti akan membencimu dan pasti Lambat laun perasaannya akan berubah." ucapnya penuh kesakitan. Seandainya saja situasinya berbeda, ia pasti akan sangat senang karena cintanya bersambut. Tapi semuanya berbeda, ia harus merelakan perasaannya dan menguburnya dalam-dalam. Pria itu kembali memanggil calon sekretaris selanjutnya untuk wawancara.
__ADS_1
🌹🌹
Aisyah pulang ke rumah dengan wajah cemberut dan tampak sangat kesal. Desy dan Haris yang kebetulan duduk di teras saling pandang.
"Kenapa? Gagal ya?" tanya Desy penasaran.
"Dasar pria gila! Perusahaan apa yang langsung menolak aku tanpa wawancara terlebih dulu? Mana pimpinannya sombong dan sangat menyebalkan!"
"Emang siapa sih pimpinannya?" tanya Desy pada sahabatnya sementara Haris hanya terlihat kebingungan.
"Si Arman! cowok yang pernah aku ceritain ke kamu itu Des."
"Cowok yang kamu temui di taman itu?"
"Astaga! Terus kenapa bisa gitu sih? Bukannya kata kamu dia orangnya asyik dan baik banget? Bahkan kamu sempat suka sama dia dan nungguin dia setiap sore di taman itu, 'kan?"
"Astaga ember bocor!" Aisyah langsung melemparkan sepatunya pada Desy sehingga membuat Desy menghindar agar tidak kena.
"Lah, emang bener 'kan? Kamu bilang kamu mulai punya rasa sama dia setelah pertemuan kedua kalian. Tapi semenjak itu kalian enggak pernah ketemu lagi."
"Tauk ah! Aku mau tidur!" ujar Aisyah segera masuk ke dalam rumah kontrakan Desy. Semenjak ia menjual rumah peninggalan ayahnya ia tinggal bersama dengan Desy.
__ADS_1
"Jadi, Aisyah menyukai pimpinan AA grup?" tanya Haris tak percaya. Desy mengangguk.
"Iya, tapi kita nggak tahu sih kalau perusahaan rekomendasi kamu itu si cowok yang dia suka."
"Des, kamu tahu nggak siapa sebenarnya pimpinan AA grup?"
Desy menggeleng.
"Emang siapa?"
Haris segera membisikkan sesuatu sehingga membuat Desy melotot sempurna.
"Yang bener, Ris?" tanya wanita itu kaget.
"Iya. Dan sebenarnya kak Arman juga suka sama Aisyah." Haris menceritakan semua yang terjadi di antara mereka. Desy hanya mendengarkan sambil melongo tak percaya.
"Kita harus membuat rencana supaya mereka berdua bisa bersama." kata Desy sesaat kemudian.
"Rencana?"
Desy mengangguk.
__ADS_1
"Rencana apa?"
"Sini deh, aku bisikin."