
Cinta yang sesungguhnya, tak mempermasalahkan tentang apapun
Bisa menerima kekurangan pasangan, dan bisa melengkapi.
Bukan menuntut kesempurnaan dan pergi meninggalkan.
🌷🌷
Happy reading
Arzan memasuki kamar mandi, meninggalkan handuk yang ia kenakan dan berdiri di bawah shower yang menyala. Kilasan kejadian tadi malam tak juga mau pergi dari ingatannya. Semuanya terus terbayang hingga miliknya Kembali mengeras. Meskipun gadis itu baru pertama kali melakukannya, tapi permainannya sangat di luar dugaan.
"Dita ... Kenapa kamu membuatku kembali bergairah?" lirihnya di sela guyuran shower. Ia memejamkan mata, menikmati setiap air yang jatuh. Tiba-tiba ia merasakan pelukan dari belakang, dengan cepat ia membuat mata. Netranya tak segan melotot sempurna kala mendapati gadis yang sedang memeluknya dari belakang.
"Dita? Apa yang kamu lakukan?!" jeritnya tertahan. Ia takut jika suaranya akan terdengar oleh Aisyah.
"Kak ... Aku masih kangen sama kakak." ujarnya manja. Bahkan kini jemarinya sudah bergerilya menjamah tubuh tanpa busana milik kakak iparnya.
"Dita, kamu sudah gila? Kalau Aisyah tiba-tiba datang gimana?" pria itu mendelik.
"Aku tidak peduli. Aku menginginkannya lagi, kak. Aku mau lagi." ujarnya dengan tatapan memohon.
"Aku juga menginginkannya, tapi jangan di sini." Pria itu melihat pintu kamar mandi yang tertutup. Takut jika tiba-tiba istrinya membuka pintu itu dan melihat apa yang tengah mereka lakukan.
"Aku nggak tahan kak. Tenang aja, Kak Aisyah lagi masak dan pintunya udah aku kunci. Kita aman."
" Tapi, Dit ...."
"Ayolah, kak. Aku ingin merasakannya di bawah shower. Kita mandi berdua. Mau, ya?" ajak Dita.
Gadis ini benar-benar gila! Bisa-bisanya ia ingin melakukannya di kamar mandi dalam kamar dirinya dan istrinya. rutuknya dalam hati. Belum lagi ia ingin menolak, ia merasakan miliknya sudah di berada dalam mulut gadis itu sehingga membuatnya tak bisa menahan gejolak gairah yang menggulungnya.
__ADS_1
"****! Kenapa kamu selalu membuat aku bergairah dan nggak bisa nolak!" umpatnya seraya menikmati permainan lidah gadis yang ada di bawahnya. Ide gila Dita membuat keduanya kembali melakukan hal itu di bawah guyuran shower di pagi hari. Tak peduli dengan apapun, keduanya hanya mengerang nikmat menikmati hubungan terlarang yang terjalin.
🌷🌷
Aisyah menatap pintu kamarnya yang tertutup, ia sudah lama menunggu suaminya di meja makan. Sudah hampir dua jam semenjak suaminya naik ke atas, dan sampai sekarang belum turun. Apakah suaminya ketiduran? Begitu pikirnya. Ia masuk ke kamar, tapi tak menemui suaminya di sana. Mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, ia mengira suaminya masih mandi. Ia mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan.
"Mas, kamu masih mandi?" tak ada sahutan dari dalam. Bahkan ia mendengar suara aneh yang berasal dari dalam. Tangannya terulur untuk membuka kenop pintu, tapi pintu itu tidak bisa terbuka. Pintu kamar mandi itu terkunci!
"Mas, apa kamu ada di dalam? Kenapa lama sekali?" tanya Aisyah penasaran. Dua manusia yang sibuk mengejar kenikmatan haram itu terkejut. Menghentikan aktivitas mereka sebentar sebelum berusaha menetralkan suara.
"Aku lagi mandi," teriak Arzan sembari mengatur napas. Sementara Dita cemberut, mengutuk kakak tirinya yang menggangu kesenangannya.
"Aku menunggu di meja makan. Ayo kita sarapan bersama." ajak Aisyah dari balik pintu. Ia menempelkan telinganya di daun pintu yang bewarna coklat itu.
"Kamu turun duluan, nanti aku nyusul."
"Ya udah, kalo gitu. Baju kamu udah aku siapin di atas ranjang, yah."
"Istri kamu mengganggu aja sih, kak." gerutu Dita dengan mengerucutkan bibirnya.
"Jangan ngambek gitu, dong. Ayo kita selesaikan, setelah itu kita turun untuk mengisi tenaga."
"Ya udah, ayok." Keduanya kembali tenggelam dalam gairah yang menyesatkan. Mengabaikan seorang wanita yang menunggunya di meja makan dengan harapan yang membuatnya kuat.
Setelah satu jam, Dita dan Arzan turun bersamaan. Membuat Aisyah dan mbok Sumi keheranan melihatnya. Arzan menuntun Dita yang berjalan tertatih, mbok Sumi dan Aisyah bertatapan sebentar. Dengan cepat, Aisyah ikut membantu adik tirinya yang terlihat kesusahan berjalan.
"Dita, kalau kamu susah berjalan sebaiknya minta aja kakak atau mbok Sumi yang nganterin makanan ke kamar." kata Aisyah seraya menggantikan posisi Arzan yang tadinya memapah sang adik. Wajah gadis itu berubah masam ketika Aisyah menggantikan Arzan. Sementara Arzan segera pergi ke meja makan dengan santai.
"Nggak perlu kok Kak, aku cuma sakit sedikit aja."
"Tapi 'kan kasihan kamu, harus naik turun tangga sementara kaki kamu terkilir." Arzan melirik istri dan adik iparnya. Terkilir? yang ada semua itu karena perbuatannya.
__ADS_1
Dita memilih duduk di sebelah kanan Arzan, sementara Aisyah harus puas duduk di sebelah kiri pria itu. Mbok Sumi segera ke belakang sembari menatap Dita dengan banyak pertanyaan dan dugaan yang memenuhi kepalanya. Arzan dengan lahap menyantap nasi goreng buatan istrinya, hal itu membuat Aisyah diam-diam tersenyum.
"Kamu sangat lapar, mas?" tanya Aisyah.
"Iya," jawabnya singkat.
"Wah kakak makannya banyak banget. Pasti lembur semalam sangat menguras tenaga, ya. Ayo tambah, biar stamina nya kuat lagi ntar. Ntar pasti kerja lagi, kan. Yang pasti akan bekerja keras kayak semalam." kata Dita seraya menyendokkan nasi goreng ke piring Arzan. Aisyah hanya terdiam melihat itu.
Arzan tersedak karena mendengar ucapan Dita.
"Uhuukk ...." baru saja Aisyah akan memberi segelas air, Dita sudah lebih dulu menyodorkan air minum ke bibir Arzan. Pria itu pun dengan santai meminum air yang di berikan oleh Dita dan gadis itu masih memegangi gelasnya sampai Arzan selesai minum.
"Hati-hati, dong Kak. Pelan-pelan makannya," kata Dita seraya tersenyum.
"Terima kasih," ucap Arzan seraya tersenyum menatap gadis yang ada di sebelahnya. Semua itu tak luput dari pandangan Aisyah, ia merasa ada yang janggal dan gak biasa. Arzan dan Dita meneruskan sarapan mereka dengan santai, mengabaikan tatapan Aisyah.
Begitu pun dengan Mbok Sumi yang diam-diam memerhatikan gerak gerik Arzan dan Dita yang tidak seperti biasanya. Firasatnya tidak enak mengenai mereka berdua. Aisyah memasukkan sesuap nasi goreng ke mulutnya, mengunyahnya perlahan dan menelannya dengan susah payah. Ia merasa sedang menelan batu kerikil yang membuat tenggorokannya sakit dan tidak berselera. Ia meneguk air putih sebanyak-banyaknya untuk membantu nasi goreng itu turun ke lambungnya. Tiba-tiba netranya melihat bercak kemerahan di leher sang adik tiri. Bercak merah itu sangat ia kenal dan terlihat cukup banyak. Pikiran dan perasaannya tidak enak, ia takut jika adiknya masuk ke dalam pergaulan bebas sepertinya dulu. Ia tidak ingin jika kejadian buruk yang menimpanya akan terjadi juga pada Dita. Aisyah memberanikan diri untuk bertanya.
"Dita, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Aisyah hati-hati. Dita yang sibuk mengunyah nasi goreng itu mengalihkan pandangannya dari piringnya. Ia menatap kakaknya dengan heran.
"Kenapa nanya gitu?" tanya Dita balik.
"Nggak, kok kakak lihat banyak bercak merah di leher dan dada kamu?"
Deg ....
Jantung Arzan seolah berhenti berdetak, matanya mendelik.
Dita melirik leher dan Dadanya, ia tidak menyadari hal itu. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya pada pria yang ada di sebelahnya, ia yakin itu adalah perbuatan sang kakak ipar.
Apakah mereka akan segera ketahuan? Keduanya saling lirik dan Arzan hampir kembali tersedak.
__ADS_1