
Sengaja ku buat penghalang
Agar kau tahu apa itu arti sayang
Sengaja ku menghilang,
agar kau tahu apa itu arti kehilangan
🌹🌹
Happy reading
Desy membuka pintu rumah yang di ketuk dari luar, tampak seorang pria berdiri di hadapannya. Dengan tubuh basah kuyup dan wajah putus asa, wajahnya bergelayut harapan ketika wanita itu membuka pintu rumahnya.
"Kenapa malam-malam begini?" tanya Desy ketus. Rasanya ingin sekali dirinya mengamuk dan memberikan pelajaran pada suami sahabatnya jika saja Aisyah tidak mengingatkannya sebelum dirinya membuka pintu. Sesuai dugaan sebelumnya, seseorang yang datang menggunakan mobil itu adalah Arzan. Ia datang kemari pasti karena mencari istrinya yang pergi dari rumah.
"Des, apakah Aisyah ada di dalam?" tanya Arzan penuh harap. Ia tidak mempedulikan betapa kacaunya dirinya saat ini.
"Nggak ada. Emangnya Aisyah kemana? Kenapa malam-malam begini kamu nyari dia?"
"A-Aisyah ...." Arzan menggantung ucapannya, ia ragu untuk mengatakan bahwa istrinya pergi dari rumah. Tapi jika ia tidak bercerita, maka ia akan mencari Aisyah kemana lagi? Siapa tahu Desy akan membantunya untuk menemukan Aisyah jika benar istrinya itu tidak ada di sini.
"Aisyah kenapa? Jangan-jangan dia kabur dari rumah karena kamu, ya?" todong Desy dengan wajah penuh emosi. Ia berkali-kali mencoba menenangkan hati dan menahan diri untuk tidak menyerang pria yang ada di hadapannya itu.
"I-iya, Des. Aisyah pergi dari rumah dan belum pulang. Aku khawatir dengan keadaannya. Di rumah ayahnya juga tidak ada. Di rumah tantenya pun tidak ada. Aku bingung, harus mencari Aisyah kemana lagi. Apa Aisyah benar-benar tidak ada di sini?" lirihnya putus asa. Rasa sesal memenuhi dadanya hingga membuat sesak. Ia sudah mencari kemana-mana, tapi Aisyah belum juga di temukan.
__ADS_1
"Ini semua pasti gara-gara kamu, kan? Nggak mungkin Aisyah bisa pergi begitu saja kalau bukan karena kamu! Aisyah itu sangat mencintai kamu, jadi tidak mungkin ia pergi tanpa alasan! Dan Aisyah tidak ada di sini."
Arzan termenung, benar yang di katakan Desy. Ini semua adalah salahnya. Jika saja dirinya bisa menerima Aisyah dan tidak tergoda oleh rayuan sang adik ipar, maka Aisyah pasti masih ada di rumah saat ini. Mereka akan bahagia meskipun wanita itu sudah tidak perawan. Ini semua salahnya karena dirinya terlalu egois.
"Kenapa bengong? Cari Aisyah sampai ketemu! Dia pergi karena kamu, jadi kamu harus bertanggung jawab! Kasihan kan, ayahnya sudah tua dan sekarang harus memikirkan nasib anaknya yang tidak tahu bagaimana. Nanti aku akan menghubungi ayahnya jika Aisyah ketemu."
"Hubungi aku juga, ya Des."
Desy memutar bola matanya terang-terangan di hadapan pria itu.
"Iya, kalo aku ingat. Pulang sana! Bisa-bisa nanti Pak RT datang bersama warga gegara ada cowok di rumah kontrakan gadis!" ujarnya ketus. Arzan mengangguk, ia pun segera berlalu dengan tangan kosong. Tak lupa mengucapkan terima kasih sebelumnya dan memohon agar menghubunginya jika Desy menemukan Aisyah. Pria itu berjalan dengan lunglai ke mobil, membawa kekecewaan yang kembali menghampiri.
"Biar tahu rasa, kamu! Jadi laki kok menye-menye! Sekarang orangnya udah pergi baru di cari. Selama ini selalu di sia-siakan. Dasar cowok brengsek!" Umpat Desy. Ia benar-benar sangat kesal dengan kelakuan suami sahabatnya itu. Ia segera menutup pintu dan masuk ke dalam rumah.
"Maafkan aku, Mas. Aku masih sangat mencintai kamu, tapi apa yang kamu lakukan padaku begitu sangat menyakitkan. Aku sudah tidak bisa bertahan, Maafkan aku."
Tes ....
Sebuah bulir bening turun ke wajahnya. Entah berapa kali netra indah itu meneteskan air mata. Ia mengusap dengan kasar wajahnya dengan punggung tangan kala sahabatnya memasuki kamar. Melihat Aisyah berdiri di jendela sembari mengintip ke luar membuat Desy menghela napas. Wanita itu menghampiri Aisyah dan mengelus bahu sahabatnya dengan lembut.
"Udah, biarin aja dia mencari kamu sampai ke ujung dunia. Anggap aja ini semua balasan buat dia karena menyia-nyiakan istri sebaik kamu. Makanya jadi cowok itu jangan keras kepala dan egois! Coba aja dia bisa Nerima kamu apa adanya, rumah tangga kalian nggak akan kayak gini. Semuanya pasti baik-baik aja dan jika pun udah ada bibit pelakor, nggak mungkin Arzan bisa tergoda kalau dia mau bersyukur. Lagian jadi cowok kok sok suci banget sih. Emangnya sekarang dia nggak ngelakuin dosa? Malahan dosanya lebih gede karena udah punya istri dan malah ngambil keperawanan anak orang. Dan parahnya lagi itu cewek adik iparnya sendiri! Udah sakit jiwa si Arzan. Nggak si laki, nggak si betinanya sama aja gatalnya. Pengen banget aku garuk itu orang pakai cangkul!" geram Desy seraya menatap keluar. Melihat mobil Arzan yang perlahan menghilang di telan kegelapan malam.
"Sudahlah, ayo tidur! Ini sudah larut malam, aku nggak mau kalau kamu nanti sakit ya. Jangan pikirin lagi tuh pria brengsek! Dia nggak pantas buat kamu! Nanti kita cari suami baru yang lebih baik dari dia. Eh, aku punya kenalan berondong. Eh, ada yang dewasa juga. Ohya, Haris kan juga punya kakak namanya Amran. Orangnya ganteng banget! Dia juga punya perusahaan yang bergerak di bidang industri. Wuih keren deh pokoknya! Udah tajir melirintir, ganteng, baik pula. Wuih pasti beruntung banget perempuan yang bakal jadi istrinya. Kalau kamu mau, besok deh kita tanya Haris!"
Plak ....!
__ADS_1
Desy meringis, satu tepukan mendarat di bahunya.
"Kok di tabok sih? Sakit, Syah." Protes Desy seraya mengusap bahunya dan menatap protes pada sahabatnya.
"Kamu tuh udah ngantuk berat kayaknya. Kok ngomongnya udah ngelantur nggak jelas? Jelas-jelas aku itu masih berstatus sebagai istri orang! Bisa-bisanya malah nyari jodoh buat aku. Mending buat kamu aja, kan kamu belum menikah."
"Yaelah. Mana ada yang mau ma aku? Apalagi yang modelan kayak kakaknya Haris, uuhhh ... Ngelirik aja enggak." ujarnya seraya mengikuti Aisyah dari belakang menuju ranjang.
"Ya siapa tahu, kan? Jodoh nggak akan kemana. Apalagi kamu cantik, baik, masih gadis dan masih perawan."
"Ah kamu bisa aja! Lagi pula kan aku udah punya cowok yang aku suka dari dulu. Jadi nggak mungkin pindah ke lain hati."
Uppss ....
Desy keceplosan, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Aisyah pun mendelik tak percaya, menatap sahabatnya siap mengajukan protes.
"Wah ... Kamu udah punya gebetan, nih? Kok nggak cerita sih, Des?" protes Aisyah.
"Bercanda, kok. Nggak ada ... Nggak ada! Aku cuma ngarang cerita doang." Desy mengelak. Ia belum siap jika harus bercerita siapa pria yang di sukainya.
"Bohong! Ayo cerita sekarang!" todong Aisyah.
"Aku bercanda aja." Desy terus mengelak dan malah menutup tubuhnya serta bagian kepala dengan selimut. Aisyah tak menyerah, ia berusaha mencari tahu siapa pria itu dengan terus mengejar jawaban dari sang sahabat. Bahkan tak segan-segan ia mengelitiki Desy agar mau buka mulut. Malam itu, keduanya terus bercanda dan sejenak membuat Aisyah lupa akan kesedihan serta sakit yang mendera.
__ADS_1