Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 7


__ADS_3

"Setelah malam itu, sikapmu benar-benar telah berubah.


Setelah malam itu, sikapmu tak lagi sama.


Semuanya terasa dingin, membekukan hati serta tubuhku.


Menusuk pilu sampai ke relung jiwaku"


🌷🌷🌷


Happy reading....


 Arzan pulang ketika larut malam. Ketika  melewati ruang tengah, ia menemukan sosok sang istri tengah tertidur meringkuk di sofa kecil di depan tv. Ia melangkah mendekat, tangannya terulur hendak menyentuh rambut yang menutupi wajah. Tapi ia urungkan hingga menarik kembali tangannya. Bi Sumi yang melihat itu pun tersenyum, ia berdiri tak jauh dari majikannya.


“Nyonya sudah menunggu tuan sejak tadi. Bahkan Nyonya sudah menyiapkan makan malam untuk tuan. Saat saya menyuruh Nyonya untuk ke kamar, Nyonya menolak. Katanya ingin menunggu tuan saja di sini dan  sampai ketiduran.” jelas Bik Sumi sang asisten rumah tangga.


Hati Arzan terenyuh, ada rasa bersalah yang kini bersarang serta berkecamuk di dalam dadanya. Ia menatap lekat wajah sang istri yang terlihat lelah, tertidur pulas dengan  piyama panjang berwarna navy yang di kenakan. Meringkuk seperti bayi yang kedinginan.


“Tuan sangat beruntung memiliki istri seperti Nyonya. Selain cantik, Nyonya juga sangat baik.” Bik Sumi kembali tersenyum teringat akan kebaikan yang Aisyah lakukan sembari menatap majikan perempuan yang sedang tertidur pulas.


Arzan berdehem, membuat Bik Sumi berjingkat. Ia menoleh canggung pada Arzan yang memasang wajah tidak nyaman.


“Maaf, tuan. Saya sudah lancang. Saya permisi Tuan.” wanita yang berumur hampir setengah abad itu membungkuk sebentar lalu terburu-buru pergi ke kamarnya tanpa menunggu jawaban dari sang majikan.


Setelah kepergian Bik Sumi, Arzan kembali menatap wanita yang baru beberapa hari ia nikahi. Ia mengendurkan dasi yang melingkar di lehernya, meletakkan tas yang ia bawa ke atas meja kecil yang ada di sana.  Arzan membungkuk dan  segera membawa tubuh istrinya ke dalam gendongan, membawanya masuk ke dalam kamar.


Tanpa ia sadari, diam-diam Bik Sumi mengintip dari balik dinding sembari tersenyum sendiri.

__ADS_1


“Semoga hubungan tuan dan nyonya baik-baik saja. Mereka berdua orang baik,” gumamnya. Setelah kedua majikannya menjauh ia benar-benar masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Arzan meletakkan tubuh Aisyah secara perlahan dan hati-hati. Menyibak sedikit rambut yang menutupi wajah cantik istrinya dengan lembut. Pria itu menarik selimut lalu menutupi tubuh Aisyah. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah mandi dan berpakaian, Arzan melirik Aisyah yang masih tertidur pulas. Meringkuk di bawah selimut tebal yang di pakaikan untuk menutupi tubuhnya guna menghalau rasa dingin yang menusuk kulit.


“Maafkan aku. Seandainya kamu jujur dari Awal, mungkin hatiku tidak sesakit dan sekecewa ini.” lirihnya. Ia pun segera meninggalkan Aisyah seorang diri di kamar sebesar itu menuju ruang kerja yang ada di sebelah.


Rasa kecewa yang terlanjur menguasai hatinya, membuat pria itu belum bisa menerima kenyataan pahit yang selama ini di sembunyikan oleh istrinya. Ia lebih memilih tidur di ruang kerjanya, yang hanya terhalang dinding  memisahkan antara dirinya dan sang istri.


Pukul 05.00 WIB, Aisyah terbangun dari tidurnya. Matanya nengerjap bingung, rasanya tadi malam ia tidur di sofa depan tv. Tapi mengapa sekarang dirinya ada di kamar? Apakah ia berjalan sambil tidur? Atau aku hanya mimpi tertidur di luar? Bermacam spekulasi bermunculan di kepalanya.


Ah ia teringat, dirinya sedang menunggu Arzan tadi malam. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 05.00 wib.


“Ya Tuhan! Di mana Arzan? Apakah ia telah kembali?” Aisyah memukul kepala, mulutnya sedikit terbuka dan dengan cepat bangun lalu menyibak selimut yang dari semalam memberikan kehangatan pada tubuhnya. Kakinya terjulur ke lantai yang dingin, melangkah menjauhi ranjang menuju pintu keluar. Saat keluar kamar ia bertemu Bik Sumi yang lewat.


“Pulang Nyonya. Masak nyonya tidak sadar di gendong Tuan semalam?” ujar Bik Sumi seraya tersenyum sementara Aisyah hanya mengernyitkan dahi kebingungan.


“Mas Arzan gendong saya?” satu telunjuk kanannya mengarah ke dada. Memastikan pendengaran yang takut salah.


“Iya, Nyonya. Kalau bukan tuan lalu siapa lagi? Ah Nyonya bisa aja bercandanya. Saya pamit mau menyiapkan sarapan dulu, nyonya.” Bik Sumi mengangguk sebentar dan segera pamit ke dapur meninggalkan Aisyah yang masih termenung di depan pintu kamar.


“Mas Arzan menggendongku?” ia tersenyum. Benar juga, kalau bukan suaminya yang menggendong ke kamar lalu siapa lagi? Tidak mungkin ia tidur berjalan hingga sampai ke kamar dengan selamat.


“Ternyata kamu masih peduli padaku, Mas.” lirihnya seraya menatap penuh arti pintu yang tertutup tak jauh dari tempatnya berdiri. Membayangkan seorang pria yang sangat dicintainya tertidur di sana.


“Aku harus mengucapkan terima kasih,” ia melangkah menuju pintu ruangan yang tertutup. Ketika tangannya menyentuh gagang pintu, keraguan menyergapnya.

__ADS_1


“Ah lebih baik nanti saja saat sarapan. Lagi pula aku belum menunaikan sholat subuh,” ujarnya sembari berpikir.


“Ah iya, lebih baik nanti saja.” ia mengurungkan niatnya dan berbalik memasuki kamar dengan senyum manis yang sedari tadi tak mau pergi darinya. Mengetahui kenyataan jika suaminya masih peduli, membuat hatinya berbunga. Setidaknya ada harapan untuk memperbaiki pernikahan yang baru seumur jagung itu. Besar harapannya untuk tetap mempertahankan rumah tangga yang selama ini di impikannya. Ia yakin lambat laun suaminya akan menerima semuanya. Sikapnya beberapa hari ini hanya karena kekecewaan dan terkejut saja. Bukankah suaminya sangat mencintainya? Pria itu pasti akan memaafkan dirinya dan melupakan semuanya. Ia yakin itu.


Ia segera masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air hangat.


Aisyah menuju meja makan, di sana sudah ada Arzan yang hanya meliriknya sekilas. Pria itu duduk sembari menikmati sarapannya. Bersikap acuh tak acuh kala sang istri mendaratkan bokong di kursi yang ada di sebelahnya.


Aisyah yang melihat itu membuang segala pikiran yang menghinggapinya. Ia menekan perasaannya sampai ke dasar jurang terdalam, ia harus maklum dengan sikap acuh tak acuh suaminya. Sakit memang, tapi ia sadar dinginnya sikap sang suami di karenakan dirinya.


“Maaf mas, aku kesiangan.” kata Aisyah pelan. Tak ada respon dari pria yang sedang sibuk menyesap secangkir teh yang ada dalam genggamannya. Hingga beberapa menit kemudian hening masih tercipta di antara sepasang suami istri itu. Aisyah menelan dalam-dalam kekecewaan yang menggerogoti hatinya. Ia memaksakan senyum di wajahnya, menatap lekat wajah dingin sang suami.


“Mas,” ragu-ragu ia memanggil sang suami.


Arzan menoleh, menunggu kata yang keluar dari wanita yang ada di hadapannya.


“A-apa semalam kamu yang ....” Aisyah menggantung kalimatnya, ia mengigit bibir bagian bawahnya. Takut jika suaminya akan marah atau tersinggung dengan ucapannya.


“Ada apa?” tanya Arzan dingin.


“Se-semalam apakah mas yang ....”


“Bicara yang jelas! Aku sudah terlambat pergi ke kantor.”


Aisyah tersentak. Mengapa kini sikap suaminya berubah 180 derajat setelah menikah? Matanya berembun, hatinya bagai di tusuk ribuan jarum.


“Mas ....” lirihnya tak percaya. Bahkan tanggul air mata yang ia pertahankan sejak tadi jebol seketika. Bulir bening itu turun saling berkejaran membasahi pipinya yang putih bersih. 

__ADS_1


“Kamu ini mau bicara apa, Aisyah? Jika tidak penting lebih baik tidak usah! Aku sudah terlambat.” pria itu meraih jas yang tersampir di sandaran kursi. Menyambar tas kerjanya dan segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun. Aisyah meremas dadanya, menatap kepergian suaminya dengan tatapan nanar dan kesakitan yang teramat sangat. Mengapa semua ini terasa sangat sakit? Mengapa kamu berubah, Mas? Mengapa tidak ada lagi kata-kata manis dan lembut seperti dulu? Ia menjerit dalam hati. Tergugu dalam diam di atas meja makan yang menjadi saksi bisu atas dinginnya sikap Arzan suaminya.


__ADS_2