Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 46


__ADS_3

**Rasa yang pernah hilang kini menelusup kembali ke relung hati


Merayap perlahan tapi pasti


Hati yang semula mati kini bagai terlahir kembali


Tapi ketakutan akan patah hati terus menghantui


Merongrong jiwa hingga membuat diri ingin lari


🌷🌷**


Happy reading


Arzan mencoba untuk mengejar istrinya yang telah pergi membawa koper berisi pakaian serta barang-barangnya. Menyusul dengan hati penuh harap agar sang istri mau memikirkan ulang apa yang telah menjadi keputusannya. Ia masih sangat berharap agar istrinya bisa mengubah keputusannya. Tubuhnya terpaku, lidahnya kelu kala netra hitam miliknya tertumbuk pada pemandangan yang cukup menyakiti hatinya. Aisyah di jemput oleh seorang pria berjas hitam berpakaian rapi. Pria yang begitu ia kenal selama ini, sebagai sahabat sang istri.


"Kak," panggil Dita yang menyusulnya. Ia juga melihat Aisyah yang sedang berdiri di dekat pagar rumah itu bersama Haris. Diam-diam wanita itu mengulas senyum, ia merasa bahwa dunia sedang berpihak padanya. Lagi-lagi ia merasa mendapatkan kesempatan untuk mempengaruhi sang kakak ipar agar membenci istrinya. Dita mendekati Arzan yang berdiri menatap sang istri dari kejauhan. Senyum yang semula terbentuk di wajahnya berubah menjadi wajah sendu penuh haru.


"Kak, ayo kita masuk. Jangan mengharapkan kak Aisyah lagi. Mungkin ini memang sudah menjadi keputusan yang terbaik untuk kita semua. Lagi pula, Kak Aisyah lebih memilih Kak Haris. Bisa jadi, alasan dia untuk meninggalkan kakak karena aku hamil hanya kedok. Padahal sebenarnya kak Aisya memang ingin bercerai dari kakak. Lihat saja! Kak Haris begitu perhatian dan peduli pada kak Aisyah." katanya seraya mengelus lembut lengan pria yang sedang menggertakkan gigi itu. Tatapan pria itu penuh amarah, ia merasa sangat cemburu. Apalagi tampak Haris yang mengusap sudut air mata Aisyah yang basah. Pria itu begitu perhatian dan peduli pada Aisyah.


"Kak, biarkan kak Aisyah pergi. Lagi pula kakak sekarang sudah punya aku dan bayi kita. Kakak sudah menjadi ayah sekarang. Lupakan kak Aisyah." wanita itu menyenderkan kepalanya ke bahu sang kakak ipar. Tersenyum samar penuh kemenangan menatap kakaknya yang kini menoleh ke belakang. Betapa sakit hati Aisyah ketika melihat Arzan bersama sang adik. Haris pun ikut menoleh, menatap kesal pada keduanya.


"Benar-benar tidak punya hati. Bisa-bisanya mereka pamer kemesraan di depan kita." umpatnya kesal. Pria itu menatap sedih pada wanita yang berada di sampingnya. Tak menyangka rumah tangga sahabatnya akan berakhir menyedihkan seperti ini.

__ADS_1


"Sudahlah! Ayo kita pergi. Lebih cepat lebih baik bukan?" ajak Aisyah mendahului. Ia mencoba mengabaikan pemandangan menyakitkan yang ada di belakangnya. Melihat Aisyah yang berjalan terlebih dulu membuat Haris bergerak cepat. Pria itu secepat kilat membuka pintu mobil, mempersilahkan Aisyah untuk masuk. Wanita itu tersenyum tipis, tak lupa mengucapkan terima kasih lalu masuk ke dalam mobil. Hal itu tak luput dari penglihatan Arzan. Ia menyaksikan semuanya dengan rasa sakit serta cemburu. Sementara Dita menahan diri untuk tidak melonjak kegirangan. Sungguh di dalam hatinya ia merasa amat senang. Segala apa yang ia inginkan akan terwujud tanpa hambatan. Ia akan mendapatkan Arzan dengan mudah. Impiannya untuk menjadi istri pria itu akan terwujud sebentar lagi. Entahlah, bisa merebut apapun yang di miliki oleh kakaknya adalah hal paling membahagiakan dalam hidupnya. Dulu ia berhasil membuat Ayah mereka lebih menyayangi dirinya. Merebut perhatian serta kasih sayang pria itu. Merebut semua mainan atau apapun yang menjadi milik sang kakak. Hingga setelah dewasa, ia juga ingin memiliki Arzan. Dan sepertinya semesta selalu berpihak padanya. Ia begitu mudah merebut sang kakak ipar dan kini pria itu berada dalam dekapannya.


Mobil yang di kendarai Haris melaju meninggalkan rumah Arzan. Meninggalkan segala kenangan menyakitkan yang ada di rumah itu. Arzan masih menatap jalan yang ada di seberang pagar, hingga Dita menyadarkannya.


"Kak, Ayo masuk! Udah malam. Waktunya kita tidur." ujarnya seraya tersenyum manis.


Tak ada sahutan dari pria itu. Wajahnya tampak menyimpan kemarahan dan kecemburuan yang luar biasa. Dita yang sedang bergelayut manja di lengannya sangat terkejut ketika pria itu dengan kasar menghempaskan tangan Dita yang menempel seperti gurita.


"Lepas!" Arzan menyentak tangan Dita hingga membuat wanita itu melongo. Ia tidak percaya dengan sikap Arzan yang tiba-tiba berubah dan sangat kasar padanya. Arzan masuk ke rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Dita.


"A-apa? Apa yang kak Arzan lakukan barusan?" ucap wanita itu seorang diri. Ia menatap punggung Arzan yang berjalan menjauh darinya. Berjalan dengan cepat tanpa menoleh atau mempedulikan dirinya.


"Kak Arzan mengabaikan ku? Ia berani menyentak tanganku?" Dita masih tak percaya dengan sikap yang Arzan tunjukkan. Wanita itu pun segera masuk ke dalam rumah menyusul calon suaminya itu.


"Arzan, mau kemana kamu?" tanya wanita setengah baya itu pada anaknya. Arzan berhenti, menatap kesal pada sang mama.


"Ke kamar! Mau apa lagi?" ketusnya.


"Pembicaraan kita belum selesai!"


"Pembicaraan apalagi? Arzan rasa semuanya sudah selesai."


"Pakai tanya lagi kamu! Kamu harus menikahi Dita secepatnya sebelum perutnya membesar! Dan kamu harus segera mengurus surat perceraian kamu dengan Aisyah. Mama tidak mau ya jika Dita tidak bisa menikah resmi dengan kamu hanya karena surat perceraian kalian terlambat di urus!" Arzan menghela napas berat. Ia memejamkan matanya sebentar. Pria itu merasa sangat lelah dengan semua hal yang terjadi padanya. Begitu mengejutkan dan tiba-tiba.

__ADS_1


"Terserah Mama! Urus saja dan lakukan yang terbaik menurut Mama. Arzan tidak punya hak untuk membantah dan menolak, bukan?"


"Ya mana bisa kamu menolak! Kamu harus menikahi Dita secepatnya!"


"Kalau begitu, lakukan semau kalian!" ucap Arzan segera berlalu. Ia berjalan menuju tangga untuk ke kamarnya. Pria itu ingin sendirian, tidak ingin di ributkan dengan segala hal yang menyebabkan kepalanya sakit hingga ingin pecah.


"Arzan! kita belum selesai bicara!" teriak sang Mama dengan kesal. Menatap punggung anaknya yang kian menjauh.


"Anak itu benar-benar keterlaluan!" umpatnya kesal.


"Ma, jangan marah-marah ya. Ayo duduk dulu!" ajak Dita dengan senyum lembut menuntun mama Arzan untuk duduk. Dari kejauhan Ibu Dita tersenyum puas, ia memuji kepintaran sang anak yang mudah sekali mengambil hati calon mertua.


"Arzan itu loh, Dit. Bikin kesal mama terus. Bukannya membicarakan pernikahan kalian, eh malah pergi ke kamar gitu aja." wanita itu masih mengoceh, ia mengikuti Dita untuk duduk.


"Udah ya Ma, jangan marah-marah terus. Nanti tekanan darah mama naik gimana? Biarkan kak Arzan sendiri dulu, mungkin kak Arzan butuh waktu. Besok, kak Arzan pasti bisa di ajak bicara. Dita yakin pasti kak Arzan mau kok menikahi Dita. Kak Arzan kan juga cinta sama Dita. Mungkin dia sedang merasa kehilangan kak Aisyah aja. Nanti setelah sadar bahwa kak Aisyah bukan wanita baik-baik, kak Arzan pasti akan kembali baik seperti semula. Dia hanya butuh waktu. Mama yang sabar, ya." wanita itu mengelus bahu sang calon mertua dengan lembut dan dengan tutur bahasa yang halus sehingga membuat mama Arzan tersenyum, melupakan kekesalannya pada sang anak.


"Kamu memang yang terbaik. Memang sudah seharusnya Arzan menceraikan Aisyah dan menikahi kamu. Lagi pula kamu sudah mengandung cucu mama. Mama nggak sabar mau Gending cucu." ujar wanita itu seraya mengelus perut Dita yang datar. Dita tersenyum puas.


"Keputusan Arzan untuk memilih Anak saya memang sudah benar, jeng. Dita ini memang anak baik. Sangat jauh berbeda dengan kakak tirinya yang notabenenya memang liar sejak dulu. Dia memang pantas di ceraikan dan di buang. Wanita seperti Aisyah itu nggak pantes dapat suami sebaik nak Arzan." Ibu Dita menyela, mendekati sang besan dan anaknya.


"Jeng Wulan benar. Untunglah mereka akan segera berpisah. Saya juga malu punya menantu seperti Aisyah. Dari awal memang saya tidak setuju dengan hubungan mereka, tapi si Arzan ngotot mau menikahinya. Lihat sekarang kan? Pernikahan mereka nggak awet. Dan baru ketahuan siapa Aisyah sebenarnya. Perempuan nggak benar dan nggak cocok sama anak saya."


"Benar, jeng. Dita memang jauh lebih baik dan lebih cocok dengan Nak Arzan."

__ADS_1


"Iya, benar. Dita jauh lebih cocok dengan Arzan. Anak baik dan hatinya sangat lembut. Saya senang akhirnya mendapatkan menantu idaman saya." Ketiganya tersenyum bahagia. Sementara ada Mbok Sumi yang menatap ketiganya dengan hati yang sakit.


__ADS_2