Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama
Chapter 50


__ADS_3

**Rasa itu semakin terkikis


karena rasa sakit yang tak dapat terlukis


Hati telah lelah menangis


Luka bagai sembilu yang mengiris


🌻🌻


Happy reading**


Arzan menatap sebuah kertas yang menunggu tanda tangan darinya. Ia menatap nanar pada kertas yang berada dalam genggamannya. Hatinya sakit, bagai teriris sembilu, menyisakan luka lebar yang menganga. Tadi pagi dirinya bangun dalam keadaan kepala yang sakit karena alkohol. Ia sengaja ke club' malam demi menghilangkan stres yang melanda. Melampiaskan semuanya pada minuman keras, melupakan sejenak permasalahan yang menimpanya. Ketika dirinya turun, sang Mama menyodorkan secarik kertas berisi permohonan surat perceraian. Pria itu merasa hancur, dunianya hancur tak berbentuk. Ia merasa seolah langit menimpanya, menenggelamkan tubuhnya ke dasar bumi yang terdalam. Ia menangis dalam diam, tak menyangka jika Aisyah akan bertindak secepat ini. Apakah rumah tangganya benar-benar kandas kali ini? Apakah wanita itu tidak ingin memberikan kesempatan untuk dirinya?


"Jangan banyak berpikir. Tanda tangani saja surat itu biar semua prosesnya lebih cepat. Bukankah lebih cepat lebih baik?" ujar sang Mama yang sedari tadi duduk berseberangan dengan Arzan. Anaknya bergeming, hanya diam terpaku menatap secarik kertas yang ada dalam genggamannya. Haruskah dirinya menandatangani surat cerai tersebut? Ragu secara terang-terangan menyerangnya. Tak ada niat sedikit pun untuk benar-benar berpisah dari wanita yang di cintainya.


"Mikirin apa lagi? Kalian memang harus segera bercerai! Kamu dan Dita harus segera menikah sebelum perutnya membesar." kata Mama Arzan lagi. Wanita itu tampak memijat kepalanya yang pusing. Ia juga bingung bagaimana harus mengatakan hal ini pada keluarga besarnya nanti. Anaknya bercerai dan malah menghamili sang Adik tiri. Apa kata dunia nanti tentang keluarganya? Pasti berita ini akan gempar dan menjadi tranding topik. Belum lagi teman-teman arisannya yang julid. Ya Tuhan! Memikirkan itu semua membuat kepalanya terasa akan pecah!

__ADS_1


"Kak, surat apa itu?" tanya Dita yang baru datang dari kamar. Wanita itu tampak baru selesai mandi karena baru bangun tidur. Mama Arzan menoleh, menatap sang calon menantu yang datang menghampiri seraya membawa segelas susu di tangannya. Mama Arzan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 11.00 siang. Ia pun menghela napas kesal, mengapa jam segini baru bangun? Dita memang sangat berbeda dengan Aisyah. Wanita itu pasti akan bangun di pagi hari saat adzan belum berkumandang. Istri Arzan itu akan memasak dan menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.


"Kamu baru bangun?" tanya Mama Arzan seraya menurunkan tangannya dari kepala. Menatap wanita yang tengah meneguk susu itu dengan kesal. Dita yang di tanya pun menoleh, menatap acuh pada mama Arzan.


"Ya baru bangun, Ma. Semalam kan Dita nggak tidur karena merawat kak Arzan." kata Dita seraya meletakkan gelas yang telah kosong di atas meja. Ia beringsut mendekati sang kakak ipar yang terlihat bingung. Melihat Dita yang cuek pun membuat Mama Arzan menghela napas kesal. Ingin rasanya dirinya mengumpat ataupun berkata kasar. Kenapa semakin hari sifat calon menantunya semakin berubah? Kemana Dita yang kemarin sangat ramah dan manis kepadanya?


"Kakak liatin apa sih? Kok kayaknya serius banget?" tanya Dita seraya mengintip isi surat itu. Matanya langsung berbinar cerah ketika mengetahui isi dari surat tersebut. Wajahnya full senyum, bibirnya yang merah merona tersungging. Sementara Arzan tak menanggapi, ia hanya fokus pada kertas itu.


"Kak, ayo tanda tangani. Tunggu apalagi?" katanya seraya menempel pada lengan Arzan. Pria itu tampak risih, segera menggeser posisi duduknya menjauh dari sang adik ipar.


"Lagian kamu ngapain, sih? Kan kursinya masih lebar. Kenapa harus dempet-dempetan? Kamu kira ini Angkot?" kesal Arzan seraya menatap wanita itu sinis.


"Ih kakak kok gitu sih ngomongnya? Ya wajar dong kalo Dita nempel ke kakak. Kita 'kan sebentar lagi akan menikah, lagi pula di dalam perut Dita itu ada anak kakak. Jangan berlagak lupa deh, kak." ujarnya seraya memutar bola matanya terang-terangan.


"Kamu itu ya jangan terlalu nempel, Dit. Arzan lagi pusing. Jadi jangan nambah pusing!" sahut Mama Arzan. Dita menoleh, menatap tak suka pada sang calon mertua.


"Pusing apa sih, Ma? Tinggal tanda tangan aja kok pusing? Jangan di bikin ribet, deh. Sebentar juga bakalan beres!" Dita bersungut-sungut.

__ADS_1


"Terserah deh! Kepala Mama terasa mau pecah! Segera urus semuanya biar cepat selesai. Mama pusing!" wanita itu segera berdiri dan berlalu menuju kamarnya. Ia benar-benar pusing dan stres menghadapi semua yang telah terjadi. Semenjak kejadian beberapa waktu lalu, Mama Arzan memutuskan untuk menginap beberapa hari di rumah anaknya.


"Kak , ayo tanda tangan! Kalau kakak dan kak Aisyah bercerai 'kan kita juga lebih cepat menikah. Dita nggak sabar bisa jadi istri kakak secara resmi." katanya sembari membayangkan betapa indahnya pernikahan mereka sementara Arzan tak menghiraukan celotehan wanita yang ada di sebelahnya.


"Kak, nanti kita sewa gedung paling mewah untuk resepsi, ya. Terus kita honeymoon nya di Dubai. Dita udah lama banget pengen kesana! Duh ... Pasti seru banget deh." ujar wanita itu dengan senyum yang mengembang. Kembali bergeser mendekati sang kakak ipar yang kini menoleh menatapnya.


"Tidak akan pernah ada resepsi pernikahan! Tidak ada honeymoon ke luar negeri. Kita nikah di KUA saja sudah cukup!" tegas Arzan. Ia menatap Dita dengan dingin. Tatapannya bisa membekukan siapa saja yang menatapnya.


"A-apa? KUA? A-apa maksud kakak?" wanita itu tergagap. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba mencari kebenaran atas apa yang di katakan oleh sang kakak ipar.


"Kakak bercanda, 'kan?" tanya Dita sekali lagi. Ia ingin memastikan jika apa yang di dengarnya tidak salah.


"Siapa yang bercanda? Tidak akan resepsi pernikahan atau semacamnya. Cukup di KUA saja. Apa kamu mengerti?" ia menatap tajam pada wanita yang kini menatapnya dengan mulut yang terbuka.


"Apa kakak sudah tidak waras? Ini pernikahan pertama Dita, kak. Mana mungkin bisa jika tidak ada resepsi pernikahan? Dita juga ingin mengundang teman-teman Dita."


"Terserah. Nikah di KUA atau tidak ada pernikahan sama sekali?!" ancam Arzan sehingga membuat Dita ketar ketir. Wanita itu meremas jemarinya yang saling bertautan. Menggigit bibir bagian bawah, mencoba mengumpulkan sisa kesadaran yang tiba-tiba saja menguap entah kemana. Yang benar saja? Mereka hanya melangsungkan pernikahan di KUA dan tidak akan ada honeymoon? Padahal ia sangat memimpikan pernikahan yang mewah serta honeymoon ke luar negeri ala artis dan para selebgram. Tapi jika dirinya menolah dan tetap menginginkan pernikahan impiannya, kesempatan untuk menjadi istri Arzan akan hilang begitu saja. Padahal dirinya sudah berusaha keras untuk sampai ke titik ini. Ia tidak bisa membiarkan kesempatan besar ini hilang begitu saja. Ia tidak bisa jika Gagal menikah. Tapi jika hanya menikah di KUA, apa dirinya mau? Ah, rasanya memalukan sekali seorang Dita menikah hanya di KUA. Ia tidak akan bisa memajang foto pernikahan di linamasa media sosial miliknya. Belum lagi dirinya selesai dengan segala pikiran yang ada dalam kepalanya, Arzan beranjak meninggalkan dirinya seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2