
**Langkah kaki terasa perih karena berjalan di atas duri
Lelah hati mengasihani diri
Yang tak jua keluar dari kubangan perih
🌻🌻
Happy reading**
"Kamu kenapa sih, Aisyah?" suara Arzan yang datang dari arah belakang membuat Aisyah dan Dita terkejut. Keduanya serentak menoleh, menatap Arzan yang berdiri tepat di belakang mereka dengan sebuah jas yang tersampir di lengan. Melihat suaminya pulang, Aisyah bergegas berdiri. Mengambil tas kerja serta jas yang tersampir itu dengan segera. Tak lupa mengulas senyum terbaik untuk menyambut sang suami.
"Mas, kamu udah pulang?" tanya wanita itu dengan senyum yang tertahan di wajahnya membuat Dita muak bukan main.
"Iya," jawabnya singkat. Mendengar jawaban dingin dari sang kakak ipar membuat hati Dita melonjak. Diam-diam ia mengulas senyum dan mengejek.
"Mau makan dulu, atau mandi dulu?"
"Aku mau mandi,"
"Aku siapin airnya ya mas. Oh ya, mau mandi air hangat atau air dingin?" tanya Aisyah pada suaminya.
"Air dingin aja,"
Aisyah mengangguk, lalu akan beranjak pergi tapi suara Arzan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya pria itu membuat Aisyah menunda keinginannya untuk ke kamar. Ia kembali menoleh, melirik pada adiknya yang sedang memutar bola matanya.
"Tidak apa-apa, mas. Kita cuma ngobrol biasa," jawab Aisyah.
"Kak Aisyah penasaran sama pacar aku, kak. Dia pengen ketemu katanya. Sampai-sampai dia nanya, hubungan aku sama dia udah sampai mana. Bukannya udah lumrah ya di jaman sekarang pacarannya begituan? Lagian kalau nggak di kasih jatah, ntar pacarnya kabur minta jatah ke cewek lain. Ya rugi dong, kita. Makanya kudu di kasih jatah terus, lagian 'kan begituan juga enak. Bikin nagih, siapa sih yang nolak di ajak begituan? Iya nggak kak," Gadis itu menatap Arzan, yang di tatap tampak gugup dan melirik istrinya yang kini juga sedang menatap keduanya bergantian. Memperhatikan gestur tubuh keduanya, mencari kejanggalan yang mungkin saja terlihat.
"I-iya," jawab Arzan gugup. Ia takut jika perselingkuhan keduanya akan terbongkar. Karena jujur saja dirinya masih sangat mencintai Aisyah, ia tidak rela jika harus kehilangan wanita itu.
"Ya makanya dari itu, harus pinter-pinter jaga suami dari godaan pelakor. Karena pelakor jaman sekarang nggak tahu diri. Nggak peduli bagaimana perasaan istri sah, nggak peduli mental orang lain padahal ia sama-sama wanita. Nggak takut karma akan menjemputnya karena ia hanya mengejar kenikmatan sementara. Tapi semua tergantung prianya juga sih, kalau dia sampai tergoda oleh pelakor berarti dia sama aja kayak si pelakor," wanita itu menggantung ucapannya, ia menatap Arzan dan Dita bergantian. Arzan tampak gugup sementara Dita menatap kakaknya penuh kebencian.
"Sama-sama murah!" tambah Aisyah seraya mengangkat sudut bibirnya. Ada jeda beberapa detik sebelum Aisyah bergerak ke kamar untuk menyiapkan air untuk suaminya.
"Aku ke kamar dulu, mas. Akan aku siapkan keperluan kamu untuk mandi." kata Aisyah sementara Arzan hanya mengangguk. Wanita itu lalu melangkahkan kakinya menuju kamar. Menaiki anak tangga yang menjadi penghubung antara kamarnya dan ruang tengah. Sebelum menaiki anak tangga, ia sempat menoleh dan melirik ke arah dua orang yang ia tinggalkan. Lalu melanjutkan langkahnya dengan kepala tegak, wajahnya yang tadi di poles senyum kini hilang dengan cepat. Berganti dengan wajah tenang tanpa senyuman.
"Kak, kok lama banget sih pulangnya? Aku tuh kangen banget sama kakak." Dita tak segan memeluk kakak iparnya. Meletakkan kepalanya di dada bidang pria itu sementara tangannya melingkari pinggang Arzan dengan posesif.
"Aku nggak peduli. Aku kangen banget sama kakak. Kenapa kakak pulangnya lama banget, sih? Aku bosen nungguin kakak, sambil nonton tv. Eh malah di omelin Kakak Aisyah," gadis itu mengadukan kakaknya. Arzan mengerutkan keningnya, menatap Dita yang ada di pelukannya.
"Kenapa Aisyah ngomel? Nggak biasanya dia ngomel?"
"Katanya aku tuh ngemilnya berantakan. Nggak boleh gini lah, gitu lah. Kan ada mbok Sumi yang beresin. Mentang-mentang dia istri kakak, seenaknya aja ngomelin aku." Arzan melirik sofa yang berantakan karena makanan Dita. Beberapa bungkus Snack bertebaran di lantai, wajar jika Aisyah menegur adiknya. Arzan pun merasa tidak nyaman melihatnya.
" Kakak kapan sih nendang dia dari rumah ini? Aku tuh nggak suka sama dia. Lagian aku cemburu kalau dia Deket sama kakak, nyiapin keperluan kakak."
"Kakak kamu benar, kenapa makannya berantakan begitu? Kan kasian Mbok Sumi, dia udah capek-capek beresin rumah." kata Arzan. Ia sebenarnya ingin sekali melepaskan pelukan gadis itu, tapi pelukan Dita lebih kencang sehingga kedua tangan Arzan tertahan di bahu gadis itu. Jawaban Arzan membuat Dita mendelik, ia menatap tak suka pada pria yang sangat di cintainya itu. Ia melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Kakak apaan sih? Kenapa kakak malah belain dia?"
"Ya kamu kan memang salah. Besok-besok jangan lagi, ya." ia mengacak rambut Dita, sebenarnya ia hanya menganggap gadis yang ada di hadapannya itu sebagai adik. Tapi kejadian hari itu membuatnya segalanya berubah. Arzan hanya pria biasa yang tak bisa menolak godaan wanita, terlebih lagi dengan penawaran kehangatan ranjang yang belum ia rasakan. Jika dengan Aisyah, ia akan merasa sakit hati karena membayangkan bahwa istrinya sudah di jamah pria lain. Tapi jika dengan Dita, ia bisa melampiaskan hasratnya tanpa membayangkan apapun, tapi di sela itu ia kerap kali membayangkan jika Dita itu adalah istrinya sendiri. Di relung hati terdalam pria itu, ia masih teramat sangat mencintai istrinya. Dan sekarang ia terjebak dalam lingkaran napsu yang di ciptakan oleh adik iparnya, dan ia pun sulit untuk keluar karena janji kenikmatan yang di tawarkan oleh gadis itu.
"Kakak jahat banget sih? Aku cemburu Kakak belain dia! Aku nggak suka!" Gadis itu merajuk, membalikkan tubuhnya membelakangi Arzan. Pria itu memijit pelipisnya, ia sudah pusing dengan pekerjaan yang menumpuk dan saat pulang harus menghadapi drama kecemburuan antara kakak dan adik.
"Aku mau mandi dulu," kata Arzan seraya melangkah, mengabaikan aksi merajuk dari sang adik ipar. Mendengar hal itu membuat Dita melongo, mulutnya terbuka lebar dengan mata yang melotot. Tak percaya jika sang kakak iparnya akan mengabaikan dirinya. Tak mau jika dirinya di abaikan, ia segera berbalik dan memeluk sang kakak ipar dari belakang.
"Kakak mau kemana? 'Kan aku masih kangen." katanya mencoba menghilangkan kekesalan hatinya. Di redam dalam-dalam agar ia bisa mencapai puncak kemenangan.
"Aku capek," jawab Arzan singkat seraya berusaha melepaskan dekapan Dita.
"Biar aku pijitin, yah." tawar gadis itu. Ia melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh kakak iparnya agar menghadapnya.
"Nggak perlu. Aku cuma butuh mandi dan istirahat." tolaknya.
"Ayolah, kak. Nanti Dita kasih bonus," Arzan mengangkat sebelah alisnya,
"Pijat plus-plus." bisiknya dengan mesra di telinga sang kakak ipar. Kakinya sedikit menjinjit agar bibirnya sampai tepat di telinga pria itu. Bahkan ia menggigit sedikit cuping telinga pria itu, menciptakan gelanyar aneh yang menjalar di sekujur tubuh pria itu.
"Ayolah, kak. Lagian aku juga kangen banget sama kakak." gadis itu terus berusaha merayu sang kakak ipar. Hanya dengan cara ini ia bisa memiliki pria itu. Ketika di ranjang, ia merasa memiliki sang kakak ipar. Ia bisa melakukan apa saja padanya.
"Tapi, Dit. Di sini ada Aisyah dan Mbok Sumi. Nanti jika ketahuan gimana?" Arzan khawatir.
"Tenang aja, kak. Nggak akan ketahuan. Kita sama-sama redam suara kita, ya. Jangan sampai kelepasan." gadis itu dengan cepat menarik sang kakak ipar menuju kamar tamu yang berada tak jauh dari mereka. Keduanya masuk ke dalam kamar itu, menutupnya pelan.
__ADS_1
Di balik sebuah tembok, seorang wanita membekap mulutnya dengan tangan. Meredam tangis yang pecah tertahan. Menata kembali hatinya yang hancur berantakan. Meremas dadanya yang memberontak karena kesakitan.